Aceh, Kopelmanews.com – Pernahkah Anda membayangkan bahwa sebuah kerajaan kecil di pesisir barat Semenanjung Melayu pernah menjalin hubungan dengan salah satu imperium Islam terbesar yang pernah ada di muka bumi? Ketika kita berbicara tentang Turki Utsmani dan pengaruhnya terhadap dunia Islam, pikiran kita sering kali langsung tertuju pada kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur dua wilayah yang menjadi panggung utama kejayaan kekhalifahan itu selama berabad-abad. Banda Aceh (29/06/2026)
Namun ternyata, jangkauan pengaruh Turki Utsmani jauh melampaui batas-batas tersebut, menyentuh sudut-sudut Asia Tenggara yang selama ini luput dari sorotan utama narasi sejarah Islam global. Salah satu yang paling menarik untuk ditelusuri adalah hubungan antara Kerajaan Perak dan Kesultanan Turki Utsmani. Kerajaan Perak, yang berdiri di pantai barat Semenanjung Melayu dan dikenal sebagai salah satu pusat kekuasaan Islam di kawasan Melayu, bukanlah entitas politik yang terisolasi dari dinamika dunia Islam yang lebih luas.
Kesultanan Perak, bersama sejumlah kesultanan Melayu lainnya seperti Johor, Kedah, dan Melaka, termasuk dalam kajian penting yang membahas hubungan antara Kesultanan Turki Utsmani dengan dunia Melayu sebuah fakta yang menunjukkan bahwa Perak bukan sekadar kerajaan lokal yang terkurung dalam batas geografisnya sendiri, melainkan bagian dari jaringan diplomatik dan keagamaan yang jauh lebih luas.
Untuk memahami konteks hubungan ini secara utuh, kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana Turki Utsmani dipandang oleh masyarakat Melayu pada masa itu. Masyarakat Kepulauan Melayu umumnya memiliki pandangan yang sangat positif terhadap Turki Utsmani, menyebut mereka sebagai Rum “raja-raja besar dunia”.
Interaksi antara Kesultanan Melayu dan Turki Utsmani banyak berlangsung dalam bentuk permintaan bantuan militer dan dukungan politik dari pihak kesultanan Melayu kepada Utsmani. Dalam kerangka pandangan dunia Islam yang menempatkan Khalifah Utsmani sebagai pemimpin tertinggi umat Islam, kerajaan-kerajaan Melayu termasuk Perak memandang Istanbul bukan sekadar sebagai ibu kota sebuah negara asing, tetapi sebagai pusat spiritual dan politik seluruh dunia Islam.
Hubungan antara dunia Melayu dan Turki Utsmani sebenarnya telah mengalami pasang surut yang panjang. Setelah periode kerja sama yang intens antara Utsmani dan dunia Melayu-Islam pada abad ke-16, hubungan itu sempat mereda hingga pertengahan abad ke-19, ketika relasi keduanya dihidupkan kembali dengan basis yang lebih luas, mencakup berbagai kesultanan Melayu yang sebelumnya belum terlibat secara langsung.
Kebangkitan kembali hubungan ini tidak muncul begitu saja ia didorong oleh tekanan kolonialisme yang semakin mengancam keberadaan kerajaan-kerajaan Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk di Semenanjung Melayu yang kala itu mulai merasakan cengkeraman kekuasaan Inggris.
Di sinilah peran Kerajaan Perak menjadi sangat relevan untuk dibicarakan. Pada awal abad ke-20, ketika Turki Utsmani tengah terbelit berbagai konflik melawan kekuatan-kekuatan Barat, masyarakat Melayu menyatakan keinginan mereka untuk mendukung perjuangan Turki tersebut. Secara konkret, Kesultanan Perak bahkan tercatat melakukan penggalangan dana untuk membantu Turki Utsmani dalam menghadapi tekanan dari kekuatan Barat.
Tindakan ini bukan sekadar gestur simbolis belaka. Ia mencerminkan betapa dalamnya rasa solidaritas keislaman yang menghubungkan Perak dengan Istanbul dua entitas yang terpisah oleh ribuan kilometer lautan, tetapi dipersatukan oleh satu keyakinan dan satu kesadaran bahwa nasib umat Islam di satu belahan dunia tidak bisa dipisahkan dari nasib umat Islam di belahan dunia lainnya.
Ekspresi solidaritas ini perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Para Sultan Utsmani, yang menyandang gelar Khalifah dan dipandang sebagai pelindung komunitas Muslim (umat), memainkan peran penting dalam identitas Islam global.
Minat kesultanan-kesultanan lokal terhadap Kekhalifahan Utsmani semakin menguat justru ketika tekanan kolonialisme mulai menghantam kawasan mereka, menegaskan signifikansi geopolitik dari hubungan-hubungan tersebut. Dengan kata lain, kedekatan Perak dengan Utsmani bukan sekadar produk dari hubungan dagang atau pertukaran budaya semata melainkan sebuah respons strategis terhadap ancaman bersama yang datang dari arah yang sama.
Dari sisi Turki Utsmani sendiri, perhatian mereka terhadap kerajaan-kerajaan Melayu juga bukan tanpa alasan. Sejumlah manuskrip Melayu dari abad ke-17 dan ke-18, termasuk yang berasal dari Perak, mencatat tentang Turki Utsmani dan di antara berbagai manuskrip tersebut, sumber yang paling akurat dianggap berasal dari Bustan al-Salatin karya Nuruddin al-Raniri.
Fakta bahwa nama Perak disebut secara eksplisit dalam konteks ini menunjukkan bahwa kerajaan tersebut bukan penonton pasif dalam relasi Ottoman-Melayu, melainkan salah satu aktor yang diakui keberadaannya dalam jaringan diplomatik dan intelektual Islam yang lebih luas pada masa itu.
Yang juga menarik untuk dicermati adalah bagaimana hubungan ini sempat tersembunyi dan terlupakan dalam ingatan kolektif kita selama berabad-abad. Menurut Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof. Talip Küçükcan, kolonialisme memiliki pengaruh besar terhadap terjadinya kesenjangan memori sejarah hubungan antara Turki Utsmani dan kerajaan-kerajaan di Nusantara serta Semenanjung Melayu.
Kekuatan kolonial tidak banyak membuka sekolah maupun perpustakaan, sehingga akses terhadap arsip sejarah pada masa itu sangat terbatas. Dengan kata lain, bukan karena hubungan ini tidak pernah ada atau tidak penting melainkan karena kekuatan kolonial secara sistematis memutus rantai ingatan yang menghubungkan generasi-generasi Muslim di Asia Tenggara dengan warisan diplomatik mereka sendiri.
Menelusuri kembali jejak hubungan Turki Utsmani dan Kerajaan Perak bukan sekadar latihan akademis yang hanya relevan bagi para sejarawan atau mahasiswa jurusan sejarah. Ini adalah upaya untuk memulihkan ingatan kolektif yang telah lama terputus untuk menyadari bahwa kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara bukanlah entitas yang terisolasi dan marjinal dalam peta sejarah peradaban Islam, tetapi bagian yang hidup dan aktif dari sebuah jaringan global yang membentang dari Istanbul hingga ujung-ujung Semenanjung Melayu. Memahami hal ini adalah langkah pertama yang penting, tidak hanya untuk mengenal masa lalu kita, tetapi juga untuk memahami siapa kita sebenarnya sebagai bangsa Muslim di Asia Tenggara hari ini.

