Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juli 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis
    Opini

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/21/2026Tidak ada komentar4,762 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Rafika Qurrata A'yun, Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi - Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Kasur sering kali menjadi tempat pertama yang kita tuju ketika realitas perkuliahan mulai terasa meletihkan. Jauh sebelum istilah-istilah modern di media sosial lahir, merebahkan diri di dalam kamar selalu berhasil diadopsi sebagai ruang aman instan bagi mahasiswa yang sedang mengalami kelelahan mental. Banda Aceh (21/06/2026)

    Menariknya, fenomena ini justru paling banyak ditemukan pada kalangan mahasiswa. Padahal, jika ditinjau dari fase perkembangan psikologis, mahasiswa sudah memasuki tahapan dewasa muda (young adulthood).

    Secara kognitif dan emosional, mereka adalah individu yang seharusnya sudah memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab, konsekuensi, serta realitas hidup yang sedang dihadapi. Namun, di sinilah letak paradoksnya: meskipun mereka sudah sangat sadar bahwa tugas menumpuk dan masalah harus diselesaikan, perilaku penarikan diri ini tetap saja dilakukan dengan sengaja.

    Ketika beban perkuliahan semakin berat atau sebuah permasalahan interpersonal terasa menemui jalan buntu, secara psikologis mereka justru secara refleks mencari tempat perlindungan yang paling nyaman dan minim usaha.

    Tren penamaan baru seperti “bed rotting” belakangan ini hadir untuk menormalisasi perasaan tersebut secara berlebihan. Fenomena rebahan dalam kondisi sadar selama berjam-jam ini kerap dipromosikan sebagai bentuk perawatan diri (self-care) yang sah. Kita perlu melihat lebih dalam: mengapa individu yang sudah sadar dan dewasa ini justru memilih untuk menjadikan ruang aman tersebut sebagai tameng pelarian dari masalah yang sedang stagnan?

    Sebenarnya, terdapat batasan yang sangat jelas antara beristirahat untuk pemulihan energi dengan perilaku merebahkan diri yang beralih fungsi sebagai ruang pelarian. Istirahat yang sehat memiliki tujuan pemulihan yang jelas.

    Setelah mengambil jeda, pikiran dan tubuh kita akan merasa lebih segar, dan kita siap untuk kembali menghadapi realitas perkuliahan atau organisasi. Sebaliknya, ketika seorang dewasa muda memilih untuk menetap di atas kasur karena terjebak dalam masalah yang stagnan, seperti konflik yang belum selesai, tekanan tugas akhir, atau kecemasan akan masa depan, fungsi kasur telah bergeser. Ia bukan lagi fasilitas pemulihan biologis, melainkan sebuah benteng pertahanan untuk menolak menghadapi kenyataan yang memicu kecemasan.

    Secara psikologis, ketika kita dihadapkan pada situasi yang stagnan dan kita merasa tidak berdaya untuk mengubahnya, ego kita cenderung mencari zona nyaman untuk menghentikan waktu secara sepihak. Menetap di atas kasur sembari mengalihkan pikiran dengan gawai (doom scrolling) adalah pilihan penyelesaian yang paling instan untuk mematikan rasa cemas tersebut. Sayangnya, ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang tidak adaptif.

    Alih-alih menyelesaikan masalah utama yang membuat kita lelah, perilaku ini justru menciptakan lingkaran setan baru. Kita mengisolasi diri di kamar karena cemas terhadap masalah yang menumpuk, tetapi semakin lama kita diam di sana, masalah tersebut justru semakin terbengkalai dan membuat kita semakin cemas saat harus melihatnya kembali.

    Jika ditinjau dari perspektif kesehatan mental, perilaku penarikan diri ke atas tempat tidur ini sering kali tumpang tindih dengan indikator distres emosional. Banyak orang yang terjebak dalam siklus ini tanpa menyadari adanya penurunan fungsi afektif dan motivasi dalam diri mereka.

    Ketika kenyamanan fisik kasur dijadikan satu-satunya pelarian dari tekanan lingkungan, individu rentan mengalami penurunan kontrol emosi. Pola ini jika dibiarkan akan memperparah kelelahan kognitif. Alih-alih menyembuhkan stres, perilaku isolasi yang berkepanjangan di atas kasur justru berpotensi menurunkan kemampuan individu dalam melakukan regulasi emosi secara sehat.

    Bahaya tersembunyi dari populernya istilah ini sekarang adalah bagaimana sebuah perilaku pelarian dikemas begitu manis seolah-olah itu adalah tindakan menyayangi diri sendiri yang sah untuk dilakukan kapan pun. Banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa mereka sedang menggunakan kenyamanan kasur untuk menunda resolusi konflik atau komunikasi interpersonal yang krusial.

    Ketika menghadapi kelelahan perkuliahan ekstrem (burnout), dorongan untuk tidak melakukan apa-apa memang sangat besar. Namun, mengurung diri di atas kasur tanpa batas waktu yang jelas justru dapat memperburuk keadaan psikologis. Kita terjebak dalam ilusi “istirahat”, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah mogok dari keharusan untuk bergerak dan mencari solusi. Masalah yang stagnan tidak akan pernah selesai hanya dengan dibungkus oleh selimut yang hangat.

    Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana dinamika lingkungan modern dan tekanan digital dapat memengaruhi perilaku sehari-hari kita. Media sosial memberikan validasi kolektif yang membuat perilaku penarikan diri ini terasa normal dan menyenangkan. Akibatnya, alih-alih menghadapi tantangan di dunia nyata, anak muda cenderung memilih untuk tinggal di dalam zona nyaman buatan mereka.

    Pola perilaku pasif ini lambat laun mengikis daya tahan mental kita dalam menghadapi konflik. Istirahat harian yang seharusnya menjadi sarana mengumpulkan energi, kini telah terdistorsi menjadi ruang isolasi yang menjauhkan kita dari realitas sosial.

    Pada akhirnya, kasur yang nyaman bisa menjadi tempat istirahat terbaik, tetapi ia juga bisa menjadi tempat persembunyian yang paling menipu. Sebagai mahasiswa yang sedang berproses menjadi dewasa muda, kita harus mulai lebih jujur dan peka dalam membedakan mana tindakan yang benar-benar memulihkan energi, dan mana yang merupakan bentuk keputusasaan mental yang sedang menolak realitas.

    Berhentilah bersembunyi di balik tameng estetika merawat diri yang palsu jika hal tersebut justru menumpuk kecemasan di masa depan. Masalah yang stagnan tidak akan selesai dengan cara ditinggal tidur, ia hanya akan selesai ketika kita berani melipat selimut, turun dari tempat tidur, dan mulai mengambil satu langkah kecil untuk menghadapi kenyataan.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,798
    Don't Miss
    Pendidikan

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    By admin@kopelmanews.com07/10/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melalui Islamic Trust Fund (ITF)…

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.