Aceh, Kopelmanews.com – Bayangkan dua orang duduk diam. Yang pertama menatap layar ponsel sambil menggulir media sosial tanpa henti. Yang kedua duduk bersila, memejamkan mata, merenungkan kebesaran alam semesta dan penciptanya. Dari luar, keduanya tampak sama: tidak bergerak, tidak berbicara. Namun di dalam otak mereka, terjadi dua hal yang bertolak belakang sepenuhnya. Banda Aceh (16/06/2026
Penemuan inilah yang kini menggelisahkan sekaligus mencerahkan dunia ilmu pengetahuan. Neurosains modern menemukan bahwa otak manusia memiliki jaringan saraf yang hanya aktif ketika seseorang tidak sedang mengerjakan tugas eksternal, sebuah jaringan yang oleh para ilmuwan disebut Default Mode Network (DMN). Dan yang lebih mengejutkan: cara kerja DMN ini ternyata mencerminkan dengan sangat tepat apa yang selama 14 abad telah diperintahkan Al-Qur’an melalui konsep tafakkur, perenungan mendalam terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah.
Ini bukan sekadar kebetulan ilmiah yang menakjubkan. Ini adalah undangan untuk membaca ulang keilmuan psikologi Islam dengan mata yang baru dan menawarkan kepada dunia sebuah model kesehatan jiwa yang sesungguhnya telah ada sebelum psikologi Barat lahir.
Pada tahun 2001, neurolog Marcus Raichle dari Washington University St. Louis menerbitkan temuan yang mengguncang dunia: otak manusia tidak pernah benar-benar “istirahat.” Ketika seseorang tidak sedang fokus pada tugas eksternal, sebuah jaringan saraf justru menjadi sangat aktif. Jaringan ini bernama “DMN” yang melibatkan medial prefrontal cortex, posterior cingulate cortex, precuneus, dan angular gyrus (Raichle et al., 2001, dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, 98(2), 676–682).
Yang menarik bukan sekadar keberadaannya, melainkan fungsinya. Para peneliti menemukan bahwa DMN aktif saat seseorang melakukan introspeksi diri, membayangkan masa depan, merenungkan perspektif orang lain, memproses makna kehidupan, dan yang paling penting, saat seseorang melakukan kontemplasi mendalam yang terlepas dari rangsangan dunia luar (Buckner, Andrews-Hanna & Schacter, 2008, dalam Annals of the New York Academy of Sciences, 1124, 1–38).
Dengan kata lain: otak kita memiliki “mode kontemplasi” yang secara biologis telah terprogram. Pertanyaan terbesar yang harus kita ajukan adalah: mengapa?
Al-Qur’an menyebut kata-kata turunan dari akar kata فَكَّرَ (fakkara/tafakkur) sebanyak 18 kali dalam berbagai konteks. Semuanya mengarah pada satu makna inti: merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta, pada diri sendiri, dan dalam sejarah manusia.
Dalam Surah Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan (tafakkur) tentang penciptaan langit dan bumi…”
Perhatikan detail yang luar biasa: Allah tidak hanya memerintahkan dzikir (mengingat Allah), tetapi juga tafakkur (merenungkan ciptaan-Nya). Keduanya disebut bersama. Ini adalah formulasi yang, bila dilihat melalui lensa neurosains, sangat tepat menggambarkan kondisi optimal DMN: ketenangan dari distraksi eksternal (dzikir) yang memungkinkan pemrosesan makna mendalam (tafakkur).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Miftah Dar Al-Sa’adah (abad ke-14) mendeskripsikan tafakkur sebagai proses yang “menggerakkan hati dari kelalaian menuju kehadiran, dari kesempitan menuju kelapangan.” Tanpa mengetahui neurosains, beliau secara intuitif telah mendeskripsikan apa yang kini kita kenal sebagai pergeseran dari dominasi amygdala yang reaktif menuju aktivasi prefrontal cortex yang integratif.
Di sinilah letak krisis yang sesungguhnya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa scrolling media sosial secara terus-menerus bukan hanya membuang waktu, ia secara aktif menekan aktivitas DMN. Ketika mata kita terus-menerus menerima stimulus baru dari layar, otak masuk ke mode pemrosesan reaktif yang justru mematikan jaringan kontemplasi kita (Loh & Kanai, 2016, dalam PLOS ONE, 11(6), e0158183).
Sebuah studi dari Harvard yang banyak dikutip menemukan bahwa pikiran manusia mengembara (mind-wandering) dari tugas yang sedang dilakukan selama hampir 47% waktu terjaga dan kondisi ini sebenarnya adalah sinyal alami tubuh untuk mengaktifkan DMN. Namun yang mengejutkan: orang melaporkan lebih tidak bahagia ketika pikiran mereka mengembara, kecuali saat mereka secara sengaja mengarahkan perenungan itu pada makna (Killingsworth & Gilbert, 2010, dalam Science, 330(6006), 932).
Inilah tepatnya yang tafakkur lakukan: ia bukan sekadar membiarkan pikiran mengembara, melainkan mengarahkannya secara terstruktur kepada perenungan yang bermakna. Dalam bahasa psikologi kognitif, tafakkur adalah bentuk guided DMN activation yang paling canggih yang pernah ada.
Kini, generasi Muslim hidup dalam kondisi paradoks yang menyedihkan: mereka mengisi setiap celah keheningan dengan konten digital, secara tidak sadar melumpuhkan jaringan saraf yang sebenarnya merupakan infrastruktur neurobiologis dari kecerdasan spiritual mereka. Rata-rata pengguna internet Indonesia menghabiskan 8 jam 36 menit per hari di internet (We Are Social, 2024), sebagian besar diisi dengan konsumsi konten pasif yang reaktif. Ini adalah bencana psikospiritual yang terjadi secara senyap.
Dunia psikologi Barat saat ini ramai dengan pendekatan berbasis mindfulness, kesadaran penuh pada momen sekarang yang banyak diadopsi dari tradisi Buddhis. Pendekatan ini terbukti efektif dalam berbagai penelitian klinis untuk menangani kecemasan, depresi, dan stres. Namun ada yang kurang dari mindfulness: ia hanya mengajarkan hadir, tetapi tidak mengajarkan memaknai
Tafakkur Islam melangkah jauh lebih jauh. Ia bukan sekadar mindfulness yang bertuhan, ia adalah sistem kognitif-spiritual yang lengkap. Ia menggabungkan: (1) ketenangan dari distraksi eksternal; (2) perenungan aktif tentang makna keberadaan; (3) pengenalan pola dalam alam semesta sebagai tanda kekuasaan Ilahi; dan (4) transformasi pemahaman menjadi sikap hidup (amal). Ini adalah proses yang mencakup seluruh spektrum DMN sekaligus mengintegrasikannya dengan fungsi prefrontal tertinggi manusia.
Tokoh psikologi Islam kontemporer seperti Malik Badri dalam Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study (2000) telah meletakkan fondasi untuk ini. Namun gagasannya belum mendapat respons yang setara dari komunitas akademik psikologi mainstream. Saatnya gap ini ditutup.
Penulis mengusulkan apa yang dapat disebut sebagai kerangka “Psikologi Tafakkur”, sebuah model terapi dan pengembangan diri berbasis Islam yang berlandaskan pada tiga pilar: pertama, neurosains DMN sebagai bukti empiris bahwa otak manusia dirancang untuk kontemplasi; kedua, metodologi tafakkur qur’ani sebagai panduan substansi kontemplasi yang bermakna; dan ketiga, tradisi tasawuf Islam sebagai kumpulan teknik praktis yang telah teruji berabad-abad.
Jika Psikologi Tafakkur ini dikembangkan secara serius, dampaknya akan sangat konkret. Dalam layanan kesehatan jiwa, pendekatan ini dapat menawarkan alternatif atau pelengkap bagi terapi kognitif konvensional yang lebih sesuai secara kultural bagi masyarakat Muslim. Pasien dengan kecemasan, depresi ringan-sedang, dan krisis makna hidup dapat diajak untuk melakukan sesi tafakkur terstruktur yang dikombinasikan dengan pemantauan aktivitas prefrontal korteks.
Dalam dunia pendidikan, integrasi praktik tafakkur dalam kurikulum, bahkan 10-15 menit sehari berpotensi meningkatkan kapasitas kognisi tingkat tinggi siswa (higher-order thinking) karena secara langsung melatih DMN yang berkaitan dengan kreativitas, kemampuan pengambilan perspektif, dan pemaknaan (Immordino-Yang et al., 2012, dalam Perspectives on Psychological Science, 7(4), 352–364).
Lebih dari itu, di tengah krisis kesehatan mental global yang makin memburuk pascapandemi, dunia membutuhkan kerangka baru yang tidak hanya bicara tentang symptom relief tetapi tentang meaning-making, pembangunan makna hidup yang berkelanjutan. Dan Al-Qur’an, sejak 14 abad lalu, telah menyediakan kerangka itu.
Seorang ilmuwan neurosains dan seorang sarjana Islam mungkin tidak pernah bertemu di ruang yang sama. Namun keduanya kini menunjuk ke arah yang sama: manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk merenung secara mendalam, dan kapasitas itu baik dalam bahasa neurosains maupun bahasa wahyu adalah inti dari apa yang membuat kita manusiawi, bermoral, dan sehat secara jiwa.
Ketika neurosains mengatakan DMN adalah jaringan yang memungkinkan manusia memproses makna dan identitas diri, dan ketika Al-Qur’an mengatakan “afala tatafakkarun” apakah kamu tidak merenung?, keduanya sesungguhnya sedang berbicara tentang hal yang sama dengan bahasa yang berbeda.
Maka tugas kita hari ini sebagai akademisi, praktisi, dan Muslim yang hidup di era digital adalah mengembalikan hak otak kita untuk merenung. Mematikan notifikasi. Duduk sejenak. Dan membiarkan DMN bekerja sesuai fitrahnya: merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di cakrawala dan dalam diri sendiri. Mungkin itulah bentuk terapi paling murah, paling tua, dan paling revolusioner yang pernah ada.

