Close Menu
    What's Hot

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Pasar Soroti Dampaknya

    07/27/2026

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Agustus 11
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri
    Opini

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com07/17/2026Tidak ada komentar24 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Zaujan, Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Kalau diamati, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bukan sekadar istilah asing yang trendy di media sosial. Di Banda Aceh khususnya, pola hidup ini sudah mengakar, hanya saja tidak semua orang menyadarinya dengan jelas. Banda Aceh (17/07/2026)

    Teman-teman kita terus-terusan cek status di Instagram, takut ketinggalan undangan arisan, khawatir tidak hadir di setiap acara keluarga, dan selalu merasa perlu tahu apa yang sedang orang lain lakukan. Itu adalah FOMO dalam kehidupan sehari-hari kita.

    Ketika Takut Ketinggalan Mengalahkan Ketenangan

    Menyimak percakapan di warung kopi atau di ruang tunggu rumah sakit, saya sering mendengar keluhan yang sama: “Aku stress karena merasa selalu tertinggal” atau “Kok teman-teman sudah punya ini, sementara aku belum?” Itu adalah suara FOMO yang berbicara.

    Kondisi ini sebenarnya diperparah oleh gencarnya penggunaan media sosial. Saat seseorang membagikan momen bahagianya liburan, acara pernikahan, pencapaian karir orang lain yang melihat akan terdorong untuk merasa tidak cukup. Padahal yang mereka lihat hanyalah highlight reel kehidupan orang lain, bukan realitas lengkapnya.

    Di Banda Aceh, di mana nilai-nilai tradisional dan komunitas masih kuat, FOMO justru mendapatkan momentum baru. Orang tidak hanya takut ketinggalan event besar, tetapi juga merasa harus selalu terlibat dalam setiap kegiatan sosial atau keagamaan untuk dianggap “aktif” dan “peduli”. Ini menciptakan tekanan psikologis yang nyata.

    Produktivitas atau Sekadar Kepura-puraan?

    Yang lebih menyedihkan adalah dampaknya terhadap produktivitas dan kesehatan mental. Banyak yang sampai larut malam hanya demi scroll feeds media sosial, mengorbankan jam istirahat mereka. Ada juga yang merasa perlu membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena melihat orang lain membelinya. Ini bukan lagi tentang kebutuhan, tetapi tentang validasi sosial.

    Sementara itu, di level yang lebih dalam, gaya hidup FOMO juga merusak autentisitas hubungan antarmanusia. Orang lebih sibuk mendokumentasikan momen daripada benar-benar menikmatinya. Di acara hajatan, misalnya, bukannya fokus berkomunikasi dengan keluarga, tamu lebih sibuk setup foto untuk Instagram story. Momen yang seharusnya bermakna berubah menjadi sekadar content untuk diperlihatkan.

    Apa Solusinya?

    Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak mungkin hadir di semua tempat, mengikuti semua tren, atau memiliki semua yang orang lain miliki. Dan itu bukanlah kegagalan itu adalah kenyataan hidup yang sehat.

    Kedua, kita perlu lebih selektif dalam memilih aktivitas dan komitmen. Bukan berarti menjadi antisosial, tapi memahami apa yang benar-benar penting untuk diri kita sendiri. Apakah kehadiran di acara itu penuh makna, atau hanya untuk menunjukkan eksistensi?

    Ketiga dan ini penting kurangi ketergantungan pada validasi digital. Tidak semua momen harus dibagikan. Tidak semua pencapaian harus dipublikasikan. Kadang, keindahan terletak pada hal-hal yang hanya kita sendiri yang tahu dan rasakan.

    Gaya hidup FOMO adalah pilihan, bukan takdir. Banda Aceh adalah kota dengan warisan budaya dan nilai-nilai yang kuat. Kita seharusnya bisa memanfaatkan kehangatan komunitas kita tanpa harus terjebak dalam spiral takut ketinggalan yang tidak pernah tuntas.

    Saatnya bertanya pada diri sendiri: apakah hidup saya dihidupkan untuk menjadi bagian dari setiap momen orang lain, atau untuk benar-benar menjalani momen saya sendiri?

    Itulah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum terlalu lama kita melewatkan kehidupan kita sendiri sambil sibuk mengikuti kehidupan orang lain.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,004

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,214

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,801
    Don't Miss
    Nasional

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    By admin@kopelmanews.com08/06/202675

    Aceh, Kopelmanews.com – Prof Dr Mujiburrahman MAg kembali dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh…

    Permainan Mencari Mata Hewan, Melatih Atensi Visual

    08/03/2026

    Silaturahmi Remaja Masjid se-Kecamatan Gunung Malela Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Generasi Muda

    08/02/2026

    Perkuat Relevansi Pendidikan Vokasional, FKIP UNIMAL, FT UNIMED, dan PNL Gelar FGD Penyelarasan Kurikulum Serumpun

    07/31/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Permainan Mencari Mata Hewan, Melatih Atensi Visual

    08/03/2026

    Silaturahmi Remaja Masjid se-Kecamatan Gunung Malela Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Generasi Muda

    08/02/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,004

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,214
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.