Aceh, Kopelmanews.com – Kalau diamati, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bukan sekadar istilah asing yang trendy di media sosial. Di Banda Aceh khususnya, pola hidup ini sudah mengakar, hanya saja tidak semua orang menyadarinya dengan jelas. Banda Aceh (17/07/2026)
Teman-teman kita terus-terusan cek status di Instagram, takut ketinggalan undangan arisan, khawatir tidak hadir di setiap acara keluarga, dan selalu merasa perlu tahu apa yang sedang orang lain lakukan. Itu adalah FOMO dalam kehidupan sehari-hari kita.
Ketika Takut Ketinggalan Mengalahkan Ketenangan
Menyimak percakapan di warung kopi atau di ruang tunggu rumah sakit, saya sering mendengar keluhan yang sama: “Aku stress karena merasa selalu tertinggal” atau “Kok teman-teman sudah punya ini, sementara aku belum?” Itu adalah suara FOMO yang berbicara.
Kondisi ini sebenarnya diperparah oleh gencarnya penggunaan media sosial. Saat seseorang membagikan momen bahagianya liburan, acara pernikahan, pencapaian karir orang lain yang melihat akan terdorong untuk merasa tidak cukup. Padahal yang mereka lihat hanyalah highlight reel kehidupan orang lain, bukan realitas lengkapnya.
Di Banda Aceh, di mana nilai-nilai tradisional dan komunitas masih kuat, FOMO justru mendapatkan momentum baru. Orang tidak hanya takut ketinggalan event besar, tetapi juga merasa harus selalu terlibat dalam setiap kegiatan sosial atau keagamaan untuk dianggap “aktif” dan “peduli”. Ini menciptakan tekanan psikologis yang nyata.
Produktivitas atau Sekadar Kepura-puraan?
Yang lebih menyedihkan adalah dampaknya terhadap produktivitas dan kesehatan mental. Banyak yang sampai larut malam hanya demi scroll feeds media sosial, mengorbankan jam istirahat mereka. Ada juga yang merasa perlu membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena melihat orang lain membelinya. Ini bukan lagi tentang kebutuhan, tetapi tentang validasi sosial.
Sementara itu, di level yang lebih dalam, gaya hidup FOMO juga merusak autentisitas hubungan antarmanusia. Orang lebih sibuk mendokumentasikan momen daripada benar-benar menikmatinya. Di acara hajatan, misalnya, bukannya fokus berkomunikasi dengan keluarga, tamu lebih sibuk setup foto untuk Instagram story. Momen yang seharusnya bermakna berubah menjadi sekadar content untuk diperlihatkan.
Apa Solusinya?
Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak mungkin hadir di semua tempat, mengikuti semua tren, atau memiliki semua yang orang lain miliki. Dan itu bukanlah kegagalan itu adalah kenyataan hidup yang sehat.
Kedua, kita perlu lebih selektif dalam memilih aktivitas dan komitmen. Bukan berarti menjadi antisosial, tapi memahami apa yang benar-benar penting untuk diri kita sendiri. Apakah kehadiran di acara itu penuh makna, atau hanya untuk menunjukkan eksistensi?
Ketiga dan ini penting kurangi ketergantungan pada validasi digital. Tidak semua momen harus dibagikan. Tidak semua pencapaian harus dipublikasikan. Kadang, keindahan terletak pada hal-hal yang hanya kita sendiri yang tahu dan rasakan.
Gaya hidup FOMO adalah pilihan, bukan takdir. Banda Aceh adalah kota dengan warisan budaya dan nilai-nilai yang kuat. Kita seharusnya bisa memanfaatkan kehangatan komunitas kita tanpa harus terjebak dalam spiral takut ketinggalan yang tidak pernah tuntas.
Saatnya bertanya pada diri sendiri: apakah hidup saya dihidupkan untuk menjadi bagian dari setiap momen orang lain, atau untuk benar-benar menjalani momen saya sendiri?
Itulah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum terlalu lama kita melewatkan kehidupan kita sendiri sambil sibuk mengikuti kehidupan orang lain.

