Close Menu
    What's Hot

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026

    LKKS Aceh Bentuk Panitia Pelantikan Pengurus Wilayah, Gubernur Dijadwalkan Melantik

    09/29/2026

    Rektor Lantik Pimpinan Prodi di Lingkungan FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

    09/25/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Jumat, Oktober 16
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home ยป Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri
    Opini

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com07/17/2026Tidak ada komentar25 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Zaujan, Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Kalau diamati, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bukan sekadar istilah asing yang trendy di media sosial. Di Banda Aceh khususnya, pola hidup ini sudah mengakar, hanya saja tidak semua orang menyadarinya dengan jelas. Banda Aceh (17/07/2026)

    Teman-teman kita terus-terusan cek status di Instagram, takut ketinggalan undangan arisan, khawatir tidak hadir di setiap acara keluarga, dan selalu merasa perlu tahu apa yang sedang orang lain lakukan. Itu adalah FOMO dalam kehidupan sehari-hari kita.

    Ketika Takut Ketinggalan Mengalahkan Ketenangan

    Menyimak percakapan di warung kopi atau di ruang tunggu rumah sakit, saya sering mendengar keluhan yang sama: “Aku stress karena merasa selalu tertinggal” atau “Kok teman-teman sudah punya ini, sementara aku belum?” Itu adalah suara FOMO yang berbicara.

    Kondisi ini sebenarnya diperparah oleh gencarnya penggunaan media sosial. Saat seseorang membagikan momen bahagianya liburan, acara pernikahan, pencapaian karir orang lain yang melihat akan terdorong untuk merasa tidak cukup. Padahal yang mereka lihat hanyalah highlight reel kehidupan orang lain, bukan realitas lengkapnya.

    Di Banda Aceh, di mana nilai-nilai tradisional dan komunitas masih kuat, FOMO justru mendapatkan momentum baru. Orang tidak hanya takut ketinggalan event besar, tetapi juga merasa harus selalu terlibat dalam setiap kegiatan sosial atau keagamaan untuk dianggap “aktif” dan “peduli”. Ini menciptakan tekanan psikologis yang nyata.

    Produktivitas atau Sekadar Kepura-puraan?

    Yang lebih menyedihkan adalah dampaknya terhadap produktivitas dan kesehatan mental. Banyak yang sampai larut malam hanya demi scroll feeds media sosial, mengorbankan jam istirahat mereka. Ada juga yang merasa perlu membeli barang yang tidak mereka butuhkan hanya karena melihat orang lain membelinya. Ini bukan lagi tentang kebutuhan, tetapi tentang validasi sosial.

    Sementara itu, di level yang lebih dalam, gaya hidup FOMO juga merusak autentisitas hubungan antarmanusia. Orang lebih sibuk mendokumentasikan momen daripada benar-benar menikmatinya. Di acara hajatan, misalnya, bukannya fokus berkomunikasi dengan keluarga, tamu lebih sibuk setup foto untuk Instagram story. Momen yang seharusnya bermakna berubah menjadi sekadar content untuk diperlihatkan.

    Apa Solusinya?

    Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak mungkin hadir di semua tempat, mengikuti semua tren, atau memiliki semua yang orang lain miliki. Dan itu bukanlah kegagalan itu adalah kenyataan hidup yang sehat.

    Kedua, kita perlu lebih selektif dalam memilih aktivitas dan komitmen. Bukan berarti menjadi antisosial, tapi memahami apa yang benar-benar penting untuk diri kita sendiri. Apakah kehadiran di acara itu penuh makna, atau hanya untuk menunjukkan eksistensi?

    Ketiga dan ini penting kurangi ketergantungan pada validasi digital. Tidak semua momen harus dibagikan. Tidak semua pencapaian harus dipublikasikan. Kadang, keindahan terletak pada hal-hal yang hanya kita sendiri yang tahu dan rasakan.

    Gaya hidup FOMO adalah pilihan, bukan takdir. Banda Aceh adalah kota dengan warisan budaya dan nilai-nilai yang kuat. Kita seharusnya bisa memanfaatkan kehangatan komunitas kita tanpa harus terjebak dalam spiral takut ketinggalan yang tidak pernah tuntas.

    Saatnya bertanya pada diri sendiri: apakah hidup saya dihidupkan untuk menjadi bagian dari setiap momen orang lain, atau untuk benar-benar menjalani momen saya sendiri?

    Itulah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum terlalu lama kita melewatkan kehidupan kita sendiri sambil sibuk mengikuti kehidupan orang lain.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,041

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,221

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,806
    Don't Miss
    Top News

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    By admin@kopelmanews.com10/11/20267

    KOPELMANEWS.com – Muhammad Alfajri Marpaung, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK)…

    ISNU Aceh Dorong Banda Aceh Academy Hadirkan Peluang Nyata bagi Generasi Muda

    10/08/2026

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026

    FSLDKD ke-15 sukses diselenggarakan, FSLDK Aceh siap menjadi wadah pergerakan mahasiswa Dakwah kampus yang unggul

    10/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    10/11/2026

    ISNU Aceh Dorong Banda Aceh Academy Hadirkan Peluang Nyata bagi Generasi Muda

    10/08/2026

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,041

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,221
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.