Aceh, Kopelmanews.com – Semua orang bilang anak bungsu itu beruntung. Tapi tidak ada yang bertanya bagaimana rasanya ditinggal satu per satu. “Enak dong jadi anak bungsu, punya abang dan kakak yang bisa jadi temen ngobrol, temen baik, dan juga temen cerita.” Kalimat itu sudah sering saya dengar. Banda Aceh (29/06/2026)
Banyak diucapkan oleh orang-orang, namun dibalik itu sangat berbeda yang dirasakan anak bungsu, termasuk yang saya rasakan dan yang saya alami. Saya adalah anak bungsu. Dan saya ingin bercerita tentang sesuatu yang jarang sekali dibicarakan: bahwa menjadi anak bungsu tidak selalu berarti dikelilingi kasih sayang kakak-kakak yang selalu ada. Terkadang, menjadi anak bungsu justru berarti menjadi saksi perpisahan yang paling sepimenyaksikan satu per satu orang yang kamu cintai pergi meninggalkan rumah, sementara kamu sendiri masih tertinggal di sana.
Ketika Rumah Mulai Kehilangan Suaranya
Saya ingat betul bagaimana rumah terasa begitu penuh ketika semua masih berkumpul. Suara abang dan kakak yang bertengkar soal remote tv, bertengkar soal sepeda, dan bertengkat soal ps 2 dikala itu. Semua itu terasa biasa saja kala itu, bahkan terkadang terasa berisik dan membuat saya kesal karena harus mengalah.
Namun waktu berjalan. Satu per satu, abang dan kakak mulai beranjak dewasa. Abang kuliah diluar kota, kakak pergi kuliah ke mesir, dan orang tua saya pun semakin sibuk bekerja. Lambat laun tinggallah saya sendiri, terkadang terasa sepi dan juga terkadang hampa. Yang hari-hari biasanya penuh cerita, perdebatan, pertengkaran, dan canda tawa.. semuanya berubah.
Saya masih di rumah yang sama. Saya masih sekolah dan menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi saya sendirian. Bukan dalam artian tidak ada siapapun, orang tua masih ada, tentu saja. Namun ada perbedaan besar antara rumah yang dihuni dan rumah yang terasa hidup. Saat abang dan kakak saya masih tinggal bersama, rumah itu seru. Ketika mereka pergi satu per satu, yang tersisa adalah kenangan yang entah kapan bersatu dan berkumpul kembali.
Paradoks yang Tidak Pernah Dibicarakan
Di sinilah letak paradoks menjadi anak bungsu yang selalu luput dari perhatian: anak bungsu adalah satu-satunya yang mengalami versi “lengkap” dan versi “kosong” dari sebuah keluarga. Abang dan kakak mungkin tidak pernah merasakan kesunyian itu karena mereka adalah yang pertama pergi. Hanya anak bungsulah yang ditinggalkan paling akhir yang harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi rumah sekarang.
Orang-orang dari luar melihat anak bungsu dengan kacamata yang berbeda. Mereka mengasumsikan anak bungsu selalu dimanjakan, selalu diperhatikan, selalu ada yang melindungi. Dan memang, di satu fase kehidupan, anggapan itu mungkin benar. Tapi fase itu tidak bertahan selamanya. Ada fase lain yang tidak ada dalam narasi populer tentang anak bungsu, fase ketika kamu duduk di ruang makan dan hanya ada dua piring, padahal dulu ada lima atau enam.
Dampak Psikologis Anak Bungsu yang Sering Diabaikan
Anak bungsu yang tumbuh dalam keluarga besar kemudian menghadapi “pengosongan bertahap” ini disebut sebagai ambiguous loss – kehilangan yang tidak bisa diberi nama dengan jelas, karena secara teknis tidak ada yang meninggal, tidak ada yang pergi secara permanen, namun kehadiran yang dulu dirasakan kini sudah tidak ada dan sudah tidak sama lagi.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pemulihan dan keamanan justru berubah menjadi ruang yang memicu kesedihan. Perasaan ini sulit dikomunikasikan karena tidak ada “alasan yang jelas” untuk bersedih, semua orang pergi karena hal-hal yang baik dan wajar. Abang kuliah? Bagus. Kakak Kuliah? Bagus. Siapa yang tidak mendukung tentunya..
Sering kali saya merasa tidak ingin pulang ke rumah. Perasaan yang tak acu, entah apa yang muncul di pikiran saya sehingga saya tidak betah di rumah dan tidak ingin pulang. Hanya terasa ingin selalu diluar saja.
“Kesedihan, kesepian, perasaan tak acu, dan pemikiran yang tak dapat diutarakan itu semua sulit diselesaikan.”
Lebih jauh, pengalaman ini juga dapat membentuk (attachment style) pada anak bungsu. Beberapa di antaranya menjadi sangat independen karena terbiasa mengurus diri sendiri secara emosional. Sebagian lain justru mengembangkan kecemasan perpisahan yang lebih tinggi karena terlalu sering mengalami momen “kepergian” di usia yang terlalu muda.
Berdamai dengan Kesunyian, Bukan Menyangkalnya
Saya tidak menulis ini untuk mengeluh atau memosisikan diri sebagai korban. Saya menulis ini karena saya percaya ada banyak anak bungsu di luar sana yang merasakan hal yang sama namun tidak tahu bagaimana mengatakannya, atau bahkan tidak tahu bahwa apa yang mereka rasakan itu benar dan layak untuk diakui.
Masyarakat kita belum terbiasa memberi ruang bagi kesedihan yang “tidak beralasan.” Kita hanya mengerti duka yang jelas: kehilangan, kematian, perpisahan. Tapi duka yang datang dari perubahan perlahan dari rumah yang satu per satu kehilangan penghuninya belum banyak mendapat tempat dalam percakapan kita sehari-hari.
Langkah pertama untuk berdamai dengan pengalaman ini adalah mengakuinya. Bahwa iya, ini nyata. Bahwa rasa hampa itu bukan lebay atau cari perhatian. Bahwa merindukan keramaian yang dulu ada bukan berarti kamu tidak bahagia dengan kondisi sekarang, itu hanya berarti kamu pernah punya sesuatu yang berharga dan terkadang hanya kamu sendiri yang merasakan hal itu.
Penutup: Cerita yang Perlu Lebih Sering Didengar
Menjadi anak bungsu mengajarkan saya satu hal yang tidak ternilai: bahwa kehadiran adalah sesuatu yang mahal harganya. Bahwa momen-momen biasa bersama keluarga, makan malam bersama, perdebatan dan pertengkaran kecil hal-hal sepele, adalah kemewahan yang tidak kita sadari sampai semuanya pergi satu per satu.
Dan jika ada satu hal yang ingin saya titipkan kepada siapapun yang membaca tulisan ini: jika ada anak bungsu dalam hidupmu, tanyakan bagaimana perasaannya. Bukan tentang abang dan kakaknya yang hebat, bukan tentang betapa beruntungnya dia punya banyak saudara. Tanyakan saja: bagaimana rasanya di rumah sekarang? Jawaban yang kamu dapat mungkin akan mengejutkan kamu.

