Close Menu
    What's Hot

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Pasar Soroti Dampaknya

    07/27/2026

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Agustus 15
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Anak Bungsu: Realita yang Tersembunyi di Balik Asumsi Orang Lain
    Opini

    Anak Bungsu: Realita yang Tersembunyi di Balik Asumsi Orang Lain

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/29/2026Updated:06/29/2026Tidak ada komentar18 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Muhaimin Radjab Azizan, Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Semua orang bilang anak bungsu itu beruntung. Tapi tidak ada yang bertanya bagaimana rasanya ditinggal satu per satu. “Enak dong jadi anak bungsu, punya abang dan kakak yang bisa jadi temen ngobrol, temen baik, dan juga temen cerita.” Kalimat itu sudah sering saya dengar. Banda Aceh (29/06/2026)

    Banyak diucapkan oleh orang-orang, namun dibalik itu sangat berbeda yang dirasakan anak bungsu, termasuk yang saya rasakan dan yang saya alami. Saya adalah anak bungsu. Dan saya ingin bercerita tentang sesuatu yang jarang sekali dibicarakan: bahwa menjadi anak bungsu tidak selalu berarti dikelilingi kasih sayang kakak-kakak yang selalu ada. Terkadang, menjadi anak bungsu justru berarti menjadi saksi perpisahan yang paling sepimenyaksikan satu per satu orang yang kamu cintai pergi meninggalkan rumah, sementara kamu sendiri masih tertinggal di sana.

    Ketika Rumah Mulai Kehilangan Suaranya

    Saya ingat betul bagaimana rumah terasa begitu penuh ketika semua masih berkumpul. Suara abang dan kakak yang bertengkar soal remote tv, bertengkar soal sepeda, dan bertengkat soal ps 2 dikala itu. Semua itu terasa biasa saja kala itu, bahkan terkadang terasa berisik dan membuat saya kesal karena harus mengalah.

    Namun waktu berjalan. Satu per satu, abang dan kakak mulai beranjak dewasa. Abang kuliah diluar kota, kakak pergi kuliah ke mesir, dan orang tua saya pun semakin sibuk bekerja. Lambat laun tinggallah saya sendiri, terkadang terasa sepi dan juga terkadang hampa. Yang hari-hari biasanya penuh cerita, perdebatan, pertengkaran, dan canda tawa.. semuanya berubah.

    Saya masih di rumah yang sama. Saya masih sekolah dan menjalani hari-hari seperti biasa. Tapi saya sendirian. Bukan dalam artian tidak ada siapapun, orang tua masih ada, tentu saja. Namun ada perbedaan besar antara rumah yang dihuni dan rumah yang terasa hidup. Saat abang dan kakak saya masih tinggal bersama, rumah itu seru. Ketika mereka pergi satu per satu, yang tersisa adalah kenangan yang entah kapan bersatu dan berkumpul kembali.

    Paradoks yang Tidak Pernah Dibicarakan

    Di sinilah letak paradoks menjadi anak bungsu yang selalu luput dari perhatian: anak bungsu adalah satu-satunya yang mengalami versi “lengkap” dan versi “kosong” dari sebuah keluarga. Abang dan kakak mungkin tidak pernah merasakan kesunyian itu karena mereka adalah yang pertama pergi. Hanya anak bungsulah yang ditinggalkan paling akhir yang harus menyesuaikan dan beradaptasi dengan kondisi rumah sekarang.

    Orang-orang dari luar melihat anak bungsu dengan kacamata yang berbeda. Mereka mengasumsikan anak bungsu selalu dimanjakan, selalu diperhatikan, selalu ada yang melindungi. Dan memang, di satu fase kehidupan, anggapan itu mungkin benar. Tapi fase itu tidak bertahan selamanya. Ada fase lain yang tidak ada dalam narasi populer tentang anak bungsu, fase ketika kamu duduk di ruang makan dan hanya ada dua piring, padahal dulu ada lima atau enam.

    Dampak Psikologis Anak Bungsu yang Sering Diabaikan

    Anak bungsu yang tumbuh dalam keluarga besar kemudian menghadapi “pengosongan bertahap” ini disebut sebagai ambiguous loss – kehilangan yang tidak bisa diberi nama dengan jelas, karena secara teknis tidak ada yang meninggal, tidak ada yang pergi secara permanen, namun kehadiran yang dulu dirasakan kini sudah tidak ada dan sudah tidak sama lagi.

    Rumah yang seharusnya menjadi tempat pemulihan dan keamanan justru berubah menjadi ruang yang memicu kesedihan. Perasaan ini sulit dikomunikasikan karena tidak ada “alasan yang jelas” untuk bersedih, semua orang pergi karena hal-hal yang baik dan wajar. Abang kuliah? Bagus. Kakak Kuliah? Bagus. Siapa yang tidak mendukung tentunya..

    Sering kali saya merasa tidak ingin pulang ke rumah. Perasaan yang tak acu, entah apa yang muncul di pikiran saya sehingga saya tidak betah di rumah dan tidak ingin pulang. Hanya terasa ingin selalu diluar saja.

    “Kesedihan, kesepian, perasaan tak acu, dan pemikiran yang tak dapat diutarakan itu semua sulit diselesaikan.”

    Lebih jauh, pengalaman ini juga dapat membentuk (attachment style) pada anak bungsu. Beberapa di antaranya menjadi sangat independen karena terbiasa mengurus diri sendiri secara emosional. Sebagian lain justru mengembangkan kecemasan perpisahan yang lebih tinggi karena terlalu sering mengalami momen “kepergian” di usia yang terlalu muda.

    Berdamai dengan Kesunyian, Bukan Menyangkalnya

    Saya tidak menulis ini untuk mengeluh atau memosisikan diri sebagai korban. Saya menulis ini karena saya percaya ada banyak anak bungsu di luar sana yang merasakan hal yang sama namun tidak tahu bagaimana mengatakannya, atau bahkan tidak tahu bahwa apa yang mereka rasakan itu benar dan layak untuk diakui.

    Masyarakat kita belum terbiasa memberi ruang bagi kesedihan yang “tidak beralasan.” Kita hanya mengerti duka yang jelas: kehilangan, kematian, perpisahan. Tapi duka yang datang dari perubahan perlahan dari rumah yang satu per satu kehilangan penghuninya belum banyak mendapat tempat dalam percakapan kita sehari-hari.

    Langkah pertama untuk berdamai dengan pengalaman ini adalah mengakuinya. Bahwa iya, ini nyata. Bahwa rasa hampa itu bukan lebay atau cari perhatian. Bahwa merindukan keramaian yang dulu ada bukan berarti kamu tidak bahagia dengan kondisi sekarang, itu hanya berarti kamu pernah punya sesuatu yang berharga dan terkadang hanya kamu sendiri yang merasakan hal itu.

    Penutup: Cerita yang Perlu Lebih Sering Didengar

    Menjadi anak bungsu mengajarkan saya satu hal yang tidak ternilai: bahwa kehadiran adalah sesuatu yang mahal harganya. Bahwa momen-momen biasa bersama keluarga, makan malam bersama, perdebatan dan pertengkaran kecil hal-hal sepele, adalah kemewahan yang tidak kita sadari sampai semuanya pergi satu per satu.

    Dan jika ada satu hal yang ingin saya titipkan kepada siapapun yang membaca tulisan ini: jika ada anak bungsu dalam hidupmu, tanyakan bagaimana perasaannya. Bukan tentang abang dan kakaknya yang hebat, bukan tentang betapa beruntungnya dia punya banyak saudara. Tanyakan saja: bagaimana rasanya di rumah sekarang? Jawaban yang kamu dapat mungkin akan mengejutkan kamu.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,006

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,217

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,801
    Don't Miss
    Opini

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    By admin@kopelmanews.com08/14/202620

    Aceh, Kopelmanews.com – Ketua DEMA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Ar-Raniry, Muhammad Alfajri Marpaung,…

    Guru Tidak Hanya menjadi Agen Pembelajaran, tetapi juga Agen Peradaban

    08/12/2026

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Permainan Mencari Mata Hewan, Melatih Atensi Visual

    08/03/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Guru Tidak Hanya menjadi Agen Pembelajaran, tetapi juga Agen Peradaban

    08/12/2026

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,006

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,217
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.