Aceh, Kopelmanews.com – Kata-kata kasar hanya akan keluar ketika seseorang sedang marah, kesal, atau terlibat pertengkaran. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya benar, terutama di kalangan remaja dan Generasi Z saat ini. Banda Aceh (30/06/2026)
Saya sendiri sering mendengar dan menyaksikan bagaimana kata-kata yang dulunya dianggap kurang sopan kini justru menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Bukan hanya saat seseorang sedang emosi, tetapi juga ketika bercanda, menyapa teman, atau bahkan sekadar merespons obrolan biasa. Kalimat seperti “iya jir”, “sabar jir”, atau ungkapan serupa lainnya, kini terdengar begitu akrab dalam interaksi sehari-hari.
Yang menarik, penggunaan kata-kata tersebut sering kali tidak dimaksudkan untuk menghina atau merendahkan orang lain. Justru sebaliknya, bagi sebagian kalangan, penggunaan bahasa seperti itu dianggap sebagai bentuk kedekatan, keakraban, dan bagian dari identitas pergaulan mereka. Semakin akrab hubungan seseorang dengan temannya, semakin besar pula kemungkinan penggunaan bahasa yang sebenarnya tergolong kasar tersebut. Ketika Bahasa Kasar Kehilangan Makna Kasarnya
Fenomena ini membuat saya bertanya-tanya: apakah yang berubah adalah cara berbicara generasi sekarang, atau justru makna dari kata-kata itu sendiri?
Bagi generasi sebelumnya, kata-kata kasar memiliki batasan yang jelas. Penggunaannya dianggap tidak sopan dan hanya muncul dalam situasi tertentu. Namun, di era media sosial dan komunikasi digital saat ini, batasan tersebut perlahan mulai memudar. Kata-kata yang dahulu dianggap tabu kini mengalami normalisasi dan menjadi bagian dari bahasa sehari-hari.
Saya melihat sendiri bagaimana banyak remaja menggunakan kata-kata tersebut tanpa merasa sedang berkata kasar. Mereka tidak sedang marah, tidak sedang bertengkar, bahkan terkadang mengucapkannya sambil tertawa. Akibatnya, bahasa yang dulunya dianggap sebagai bentuk pelanggaran norma kesopanan kini berubah menjadi ekspresi yang dianggap biasa. Yang mana salah satunya juga di pengaruhi oleh lingkungan dan budaya digital
Menurut saya, fenomena ini tidak muncul begitu saja. Lingkungan pertemanan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara seseorang berbicara. Ketika seseorang berada dalam lingkungan yang terbiasa menggunakan kata-kata kasar, maka lama-kelamaan bahasa tersebut akan terasa normal dan menjadi kebiasaan.
Selain itu, media sosial juga berperan besar dalam membentuk pola komunikasi generasi muda. Konten-konten yang viral, percakapan di platform digital, hingga kebiasaan para kreator konten menggunakan bahasa informal turut mempercepat penyebaran dan normalisasi penggunaan kata-kata kasar.
Bukan berarti seluruh Generasi Z menggunakan bahasa seperti itu. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena ini semakin sering ditemukan dan telah menjadi bagian dari realitas sosial yang kita lihat sehari-hari.
Saya tidak menulis ini untuk menghakimi siapa pun. Saya sendiri juga menyadari bahwa bahasa terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Akan tetapi, saya merasa bahwa tetap ada batas yang perlu dipahami bersama. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan bagaimana kita menghargai orang lain dan menempatkan diri dalam berbagai situasi. Kata-kata yang dianggap biasa di lingkungan pertemanan belum tentu dapat diterima di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun dunia profesional.
Mungkin yang perlu kita lakukan bukan sepenuhnya melarang penggunaan bahasa tersebut, melainkan memahami kapan, di mana, dan kepada siapa bahasa itu digunakan. Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh di era digital, saya melihat bahwa maraknya penggunaan kata-kata kasar di kalangan Generasi Z bukan sekadar persoalan sopan atau tidak sopan.
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan budaya, perkembangan sosial, dan cara generasi muda membangun kedekatan dengan orang lain. Pertanyaannya bukan lagi apakah fenomena ini benar atau salah, melainkan apakah kita cukup sadar bahwa cara kita berbicara hari ini akan membentuk budaya komunikasi masyarakat di masa depan.

