Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juli 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup
    Opini

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/23/2026Updated:06/23/2026Tidak ada komentar134 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Azka Muthahhary, Mahasiswa Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Istilah narsistik belakangan semakin sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Mantan yang dianggap manipulatif disebut narsistik. Atasan yang sulit menerima kritik disebut narsistik. Bahkan seseorang yang terlalu sering membicarakan dirinya sendiri pun tidak jarang mendapat label yang sama. Banda Aceh (23/06/2026)

    Padahal, dalam psikologi, narsisme bukan istilah yang bisa diberikan begitu saja. Ada kriteria tertentu yang harus terpenuhi sebelum seseorang dapat dikatakan memiliki pola kepribadian narsistik. Karena itu, sebelum terburu-buru melempar label tersebut, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan: bagaimana pola tersebut bisa terbentuk?

    Pertanyaan ini bukan bertujuan membenarkan perilaku yang berpotensi merugikan orang lain, namun untuk memahami asal-usul suatu pola sering kali membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh.

    Kepribadian berkembang melalui interaksi yang panjang antara individu dan lingkungannya. Misalnya seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang minim dukungan emosional. Ketika mereka menunjukkan kebutuhan, ketakutan, atau kesedihan, respons yang mereka terima sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan emosional mereka.

    Dalam jangka panjang, mereka belajar bahwa menjaga jarak secara emosional bisa menjadi cara untuk melindungi diri. Seiring waktu, strategi yang awalnya digunakan untuk menghadapi situasi tertentu dapat berkembang menjadi pola yang menetap dalam cara seseorang berhubungan dengan orang lain.

    Sebaliknya pula, ada individu yang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan pujian dan pengakuan secara berlebihan tanpa diimbangi batasan yang jelas atau masukan yang jujur mengenai kekurangan mereka. Akibatnya, mereka membangun citra diri yang terlalu ideal. Saat suatu hari menghadapi kritik, penolakan, atau kegagalan, situasi itu terasa sangat berat karena mereka tidak terbiasa menerima kenyataan bahwa diri mereka juga memiliki keterbatasan. Karena itu, pengalaman tersebut sering kali dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri dan kepercayaan diri mereka.

    Menariknya, meskipun berasal dari pengalaman hidup yang berbeda, kedua kondisi tersebut dapat menghasilkan perilaku yang tampak mirip. Dari luar, seseorang mungkin terlihat tidak nyaman menerima kritik, terlalu memusatkan perhatian pada dirinya sendiri, atau kurang mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Akan tetapi, kesan superior yang terlihat dari luar belum tentu mencerminkan rasa percaya diri yang kokoh. Tidak jarang, perilaku tersebut justru menjadi cara untuk menutupi perasaan tidak aman, sehingga penghargaan terhadap diri sendiri sangat bergantung pada pujian, validasi, dan pengakuan dari lingkungan sekitar.

    Di sinilah narsisme sering dipahami oleh para peneliti sebagai sesuatu yang lebih kompleks daripada sekedar sifat egois atau keangkuhan. Pada sebagian individu, pola tersebut dapat dipandang sebagai mekanisme adaptasi, yaitu cara yang membantu mereka bertahan dalam kondisi tertentu, meskipun kemudian menimbulkan masalah dalam hubungan sosial. Ibarat baju zirah yang awalnya dibuat untuk melindungi diri dari luka, mekanisme ini dapat memberikan rasa aman, tetapi ketika terus dikenakan dalam setiap situasi, ia justru membatasi kedekatan dan menghambat hubungan dengan orang lain.

    Namun, memahami latar belakang terbentuknya pola kepribadian ini bukan berarti kita harus membenarkan setiap perilaku yang muncul darinya. Ketika suatu perilaku menimbulkan luka atau kerugian bagi orang lain, menetapkan batasan yang sehat tetap merupakan hal yang penting. Memahami alasan di balik suatu tindakan tidak sama dengan membebaskan seseorang dari tanggung jawab atas tindakannya. Empati dan akuntabilitas dapat hadir secara bersamaan.

    Di sisi lain, terdapat risiko ketika narsisme hanya dipahami sebagai label yang identik dengan “pribadi yang toxic” atau “orang yang tidak dapat berubah”. Cara pandang seperti ini sering kali menghentikan diskusi pada tahap penghakiman semata. Padahal, perubahan perilaku tetap mungkin terjadi, terutama ketika seseorang mulai mengenali pola dalam dirinya dan bersedia mencari bantuan untuk menghadapinya.

    Sayangnya, langkah tersebut tidak selalu mudah. Bagi banyak individu dengan kecenderungan narsistik, citra diri yang mereka bangun sering kali menjadi bagian penting dari identitas mereka. Karena itu, mengakui adanya kelemahan atau masalah dapat terasa seperti mengguncang fondasi yang selama ini menopang cara mereka melihat diri sendiri. Dalam kondisi seperti ini, mencari pertolongan bukan hanya tentang memperbaiki perilaku, tetapi juga tentang keberanian menghadapi dan mengungkap bagian dalam diri yang selama ini dihindari.

    Oleh karena itu, selain bertanya bagaimana mengenali pola narsistik dan melindungi diri dari dampaknya, mungkin ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: kondisi seperti apa yang memungkinkan pola tersebut berkembang? Sejauh mana keluarga, pendidikan, maupun lingkungan sosial turut membentuk cara seseorang memandang dirinya dan orang lain?

    Melihat narsisme dari sudut pandang yang lebih luas tidak berarti mengurangi dampaknya terhadap orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, pendekatan ini mengingatkan kita bahwa kepribadian manusia jarang terbentuk melalui satu sebab yang sederhana. Apa yang tampak di permukaan sering kali merupakan hasil dari pengalaman, kebutuhan, dan dinamika psikologis yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

    Jika ditelusuri lebih jauh, kepribadian tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari berbagai pengalaman yang membentuk seseorang, termasuk dari kebutuhan emosional yang mungkin tidak pernah sepenuhnya terpenuhi. Memahami kenyataan tersebut tidak mengharuskan kita untuk membenarkan setiap perilaku yang muncul, tetapi dapat membantu kita memandang manusia dengan cara yang lebih cermat, lebih kritis, dan sekaligus lebih manusiawi.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,798
    Don't Miss
    Pendidikan

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    By admin@kopelmanews.com07/10/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melalui Islamic Trust Fund (ITF)…

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.