Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juli 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Scroll ke Self-Diagnose: Ketika TikTok Lebih Dipercaya dari Psikolog
    Opini

    Scroll ke Self-Diagnose: Ketika TikTok Lebih Dipercaya dari Psikolog

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/23/2026Tidak ada komentar6 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Lia Sapura, Mahasiswi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Coba ingat-ingat, berapa kali dalam seminggu ini kamu atau temanmu berkata, “kayaknya aku anxiety deh” atau “aku tuh ADHD banget” hanya karena baru selesai menonton video di TikTok? Jika jawabannya lebih dari sekali, kamu tidak sendirian. Banda Aceh (23/06/2026)

    Fenomena self-diagnosis berbasis konten media sosial kini sudah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan anak muda, dan justru karena terasa lumrah itulah kita perlu lebih kritis menyikapinya. Setiap kali membuka For Your Page, kita bisa menemukan puluhan video pendek berisi daftar gejala gangguan psikologis.

    Mulai dari ciri-ciri kecemasan berlebih, suasana hati yang naik-turun, hingga kebiasaan sulit fokus yang langsung dilabeli ADHD. Videonya menarik, bahasanya mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi, dan komentarnya penuh orang yang menyatakan “ini persis seperti saya!” Wajar jika akhirnya kita ikut merasa cocok. Namun di sinilah letak masalahnya: algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendiagnosis. Ia dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar. Konten yang viral belum tentu merupakan konten yang paling akurat secara klinis.

    Dari sudut pandang klinis, menegakkan diagnosis gangguan mental jauh lebih kompleks daripada sekadar mencocokkan diri dengan poin-poin dalam video berdurasi 60 detik. Psikolog dan psikiater menggunakan panduan standar seperti DSM-5, melakukan wawancara mendalam, observasi perilaku, hingga menelusuri riwayat kehidupan seseorang secara menyeluruh.

    Prosesnya dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa fitur tes mandiri digital memang banyak dimanfaatkan masyarakat, namun fungsinya hanya sebatas penyaringan awal, bukan kesimpulan diagnostik. Oleh karena itu, merasa “cocok” dengan video TikTok belum memiliki makna apa pun secara medis. 

    Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh. Pertama, muncul kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Seseorang yang sejatinya hanya kelelahan akibat tumpukan tugas bisa tiba-tiba meyakini dirinya mengidap depresi berat setelah membaca daftar gejala di internet. Keyakinan tersebut justru berpotensi menjadi beban baru yang memperburuk kondisi psikologisnya.

    Kedua, terdapat risiko kesalahan penanganan. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah berulang kali mengingatkan bahaya mengobati diri sendiri berdasarkan informasi dari internet. Tidak sedikit anak muda yang mencoba membeli suplemen penenang tanpa resep dokter, dan alih-alih membaik, kondisi mereka justru semakin terganggu.

    Ketiga, dan inilah yang kerap luput dari perhatian: self-diagnosis yang dilakukan sembarangan dapat mendistorsi pemahaman kita terhadap gangguan mental itu sendiri. Ketika label seperti “bipolar” atau “OCD” digunakan secara longgar untuk menggambarkan suasana hati yang berubah-ubah atau sekadar kegemaran akan kerapian, kita tanpa sadar meremehkan perjuangan nyata mereka yang benar-benar hidup dengan kondisi tersebut. Ini bukan soal siapa yang paling menderita, melainkan soal menghargai bahwa gangguan mental adalah kondisi serius yang tidak boleh disederhanakan.

    Memang, tidak semua konten kesehatan mental di media sosial bersifat menyesatkan. Banyak kreator berlatar belakang profesional yang menyajikan informasi secara bertanggung jawab, dan meningkatnya perbincangan tentang kesehatan mental di ruang digital turut membantu mengurangi stigma.

    Ini adalah kemajuan yang nyata. Namun ada garis tipis antara media sosial sebagai jembatan menuju pertolongan profesional dan media sosial sebagai pengganti pertolongan itu sendiri. Yang pertama bermanfaat, yang kedua berbahaya.

    Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara berinteraksi dengan konten kesehatan mental di media sosial. Jadikan informasi yang ditemukan sebagai bahan refleksi, bukan vonis terhadap diri sendiri. Jika merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mental, langkah paling bijak bukan mencari video FYP berikutnya, melainkan menemui profesional yang memang terlatih untuk membantu.

    Layanan konseling kampus tersedia di sekitar kita. Psikolog dapat diakses lebih mudah dari yang selama ini dibayangkan. Kesehatan mental terlalu berharga untuk diserahkan pada algoritma, jangan biarkan TikTok yang menentukan kondisi jiwamu.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,798
    Don't Miss
    Pendidikan

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    By admin@kopelmanews.com07/10/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melalui Islamic Trust Fund (ITF)…

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.