Aceh, Kopelmanews.com – Coba ingat-ingat, berapa kali dalam seminggu ini kamu atau temanmu berkata, “kayaknya aku anxiety deh” atau “aku tuh ADHD banget” hanya karena baru selesai menonton video di TikTok? Jika jawabannya lebih dari sekali, kamu tidak sendirian. Banda Aceh (23/06/2026)
Fenomena self-diagnosis berbasis konten media sosial kini sudah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan anak muda, dan justru karena terasa lumrah itulah kita perlu lebih kritis menyikapinya. Setiap kali membuka For Your Page, kita bisa menemukan puluhan video pendek berisi daftar gejala gangguan psikologis.
Mulai dari ciri-ciri kecemasan berlebih, suasana hati yang naik-turun, hingga kebiasaan sulit fokus yang langsung dilabeli ADHD. Videonya menarik, bahasanya mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi, dan komentarnya penuh orang yang menyatakan “ini persis seperti saya!” Wajar jika akhirnya kita ikut merasa cocok. Namun di sinilah letak masalahnya: algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendiagnosis. Ia dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar. Konten yang viral belum tentu merupakan konten yang paling akurat secara klinis.
Dari sudut pandang klinis, menegakkan diagnosis gangguan mental jauh lebih kompleks daripada sekadar mencocokkan diri dengan poin-poin dalam video berdurasi 60 detik. Psikolog dan psikiater menggunakan panduan standar seperti DSM-5, melakukan wawancara mendalam, observasi perilaku, hingga menelusuri riwayat kehidupan seseorang secara menyeluruh.
Prosesnya dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa fitur tes mandiri digital memang banyak dimanfaatkan masyarakat, namun fungsinya hanya sebatas penyaringan awal, bukan kesimpulan diagnostik. Oleh karena itu, merasa “cocok” dengan video TikTok belum memiliki makna apa pun secara medis.
Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh. Pertama, muncul kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Seseorang yang sejatinya hanya kelelahan akibat tumpukan tugas bisa tiba-tiba meyakini dirinya mengidap depresi berat setelah membaca daftar gejala di internet. Keyakinan tersebut justru berpotensi menjadi beban baru yang memperburuk kondisi psikologisnya.
Kedua, terdapat risiko kesalahan penanganan. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah berulang kali mengingatkan bahaya mengobati diri sendiri berdasarkan informasi dari internet. Tidak sedikit anak muda yang mencoba membeli suplemen penenang tanpa resep dokter, dan alih-alih membaik, kondisi mereka justru semakin terganggu.
Ketiga, dan inilah yang kerap luput dari perhatian: self-diagnosis yang dilakukan sembarangan dapat mendistorsi pemahaman kita terhadap gangguan mental itu sendiri. Ketika label seperti “bipolar” atau “OCD” digunakan secara longgar untuk menggambarkan suasana hati yang berubah-ubah atau sekadar kegemaran akan kerapian, kita tanpa sadar meremehkan perjuangan nyata mereka yang benar-benar hidup dengan kondisi tersebut. Ini bukan soal siapa yang paling menderita, melainkan soal menghargai bahwa gangguan mental adalah kondisi serius yang tidak boleh disederhanakan.
Memang, tidak semua konten kesehatan mental di media sosial bersifat menyesatkan. Banyak kreator berlatar belakang profesional yang menyajikan informasi secara bertanggung jawab, dan meningkatnya perbincangan tentang kesehatan mental di ruang digital turut membantu mengurangi stigma.
Ini adalah kemajuan yang nyata. Namun ada garis tipis antara media sosial sebagai jembatan menuju pertolongan profesional dan media sosial sebagai pengganti pertolongan itu sendiri. Yang pertama bermanfaat, yang kedua berbahaya.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara berinteraksi dengan konten kesehatan mental di media sosial. Jadikan informasi yang ditemukan sebagai bahan refleksi, bukan vonis terhadap diri sendiri. Jika merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mental, langkah paling bijak bukan mencari video FYP berikutnya, melainkan menemui profesional yang memang terlatih untuk membantu.
Layanan konseling kampus tersedia di sekitar kita. Psikolog dapat diakses lebih mudah dari yang selama ini dibayangkan. Kesehatan mental terlalu berharga untuk diserahkan pada algoritma, jangan biarkan TikTok yang menentukan kondisi jiwamu.

