Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juni 23
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Scroll ke Self-Diagnose: Ketika TikTok Lebih Dipercaya dari Psikolog
    Opini

    Scroll ke Self-Diagnose: Ketika TikTok Lebih Dipercaya dari Psikolog

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/23/2026Tidak ada komentar5 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Lia Sapura, Mahasiswi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Coba ingat-ingat, berapa kali dalam seminggu ini kamu atau temanmu berkata, “kayaknya aku anxiety deh” atau “aku tuh ADHD banget” hanya karena baru selesai menonton video di TikTok? Jika jawabannya lebih dari sekali, kamu tidak sendirian. Banda Aceh (23/06/2026)

    Fenomena self-diagnosis berbasis konten media sosial kini sudah menjadi hal yang sangat lumrah di kalangan anak muda, dan justru karena terasa lumrah itulah kita perlu lebih kritis menyikapinya. Setiap kali membuka For Your Page, kita bisa menemukan puluhan video pendek berisi daftar gejala gangguan psikologis.

    Mulai dari ciri-ciri kecemasan berlebih, suasana hati yang naik-turun, hingga kebiasaan sulit fokus yang langsung dilabeli ADHD. Videonya menarik, bahasanya mudah dikaitkan dengan pengalaman pribadi, dan komentarnya penuh orang yang menyatakan “ini persis seperti saya!” Wajar jika akhirnya kita ikut merasa cocok. Namun di sinilah letak masalahnya: algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendiagnosis. Ia dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar. Konten yang viral belum tentu merupakan konten yang paling akurat secara klinis.

    Dari sudut pandang klinis, menegakkan diagnosis gangguan mental jauh lebih kompleks daripada sekadar mencocokkan diri dengan poin-poin dalam video berdurasi 60 detik. Psikolog dan psikiater menggunakan panduan standar seperti DSM-5, melakukan wawancara mendalam, observasi perilaku, hingga menelusuri riwayat kehidupan seseorang secara menyeluruh.

    Prosesnya dapat berlangsung selama berminggu-minggu. Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan bahwa fitur tes mandiri digital memang banyak dimanfaatkan masyarakat, namun fungsinya hanya sebatas penyaringan awal, bukan kesimpulan diagnostik. Oleh karena itu, merasa “cocok” dengan video TikTok belum memiliki makna apa pun secara medis. 

    Dampaknya pun tidak bisa dianggap remeh. Pertama, muncul kekhawatiran yang sebenarnya tidak perlu. Seseorang yang sejatinya hanya kelelahan akibat tumpukan tugas bisa tiba-tiba meyakini dirinya mengidap depresi berat setelah membaca daftar gejala di internet. Keyakinan tersebut justru berpotensi menjadi beban baru yang memperburuk kondisi psikologisnya.

    Kedua, terdapat risiko kesalahan penanganan. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah berulang kali mengingatkan bahaya mengobati diri sendiri berdasarkan informasi dari internet. Tidak sedikit anak muda yang mencoba membeli suplemen penenang tanpa resep dokter, dan alih-alih membaik, kondisi mereka justru semakin terganggu.

    Ketiga, dan inilah yang kerap luput dari perhatian: self-diagnosis yang dilakukan sembarangan dapat mendistorsi pemahaman kita terhadap gangguan mental itu sendiri. Ketika label seperti “bipolar” atau “OCD” digunakan secara longgar untuk menggambarkan suasana hati yang berubah-ubah atau sekadar kegemaran akan kerapian, kita tanpa sadar meremehkan perjuangan nyata mereka yang benar-benar hidup dengan kondisi tersebut. Ini bukan soal siapa yang paling menderita, melainkan soal menghargai bahwa gangguan mental adalah kondisi serius yang tidak boleh disederhanakan.

    Memang, tidak semua konten kesehatan mental di media sosial bersifat menyesatkan. Banyak kreator berlatar belakang profesional yang menyajikan informasi secara bertanggung jawab, dan meningkatnya perbincangan tentang kesehatan mental di ruang digital turut membantu mengurangi stigma.

    Ini adalah kemajuan yang nyata. Namun ada garis tipis antara media sosial sebagai jembatan menuju pertolongan profesional dan media sosial sebagai pengganti pertolongan itu sendiri. Yang pertama bermanfaat, yang kedua berbahaya.

    Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara berinteraksi dengan konten kesehatan mental di media sosial. Jadikan informasi yang ditemukan sebagai bahan refleksi, bukan vonis terhadap diri sendiri. Jika merasa ada yang tidak beres dengan kondisi mental, langkah paling bijak bukan mencari video FYP berikutnya, melainkan menemui profesional yang memang terlatih untuk membantu.

    Layanan konseling kampus tersedia di sekitar kita. Psikolog dapat diakses lebih mudah dari yang selama ini dibayangkan. Kesehatan mental terlalu berharga untuk diserahkan pada algoritma, jangan biarkan TikTok yang menentukan kondisi jiwamu.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    06/16/20262,336
    Don't Miss
    Opini

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    By admin@kopelmanews.com06/23/20262

    Aceh, Kopelmanews.com – Perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman bagi tradisi. Padahal, dalam banyak kasus,…

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.