Aceh, Kopelmanews.com – Kita mungkin sudah sering mendengar berbagai stereotip tentang anak tengah. Ada yang mengatakan bahwa anak tengah cenderung problematik, sulit dipahami, atau sering merasa kurang diperhatikan. Namun, ada pula yang menganggap mereka sebagai anak yang beruntung karena memiliki kakak untuk dijadikan panutan dan adik untuk diajak tumbuh bersama. Banda Aceh (26/06/2026)
Di balik berbagai anggapan itu, ada satu hal yang jarang dibicarakan: anak tengah sering hidup di antara dua dunia. Mereka pernah berada di posisi adik yang belajar dari seseorang yang lebih dulu melangkah. Pada saat yang sama, mereka juga pernah menjadi kakak yang harus memberi contoh bagi seseorang yang datang setelahnya.
Pengalaman berada di dua peran tersebut membuat banyak anak tengah terbiasa melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Ketika kakak merasa terbebani oleh ekspektasi keluarga, mereka dapat memahaminya. Ketika adik ingin dimengerti, didengar, atau dilindungi, mereka juga mampu merasakan hal yang sama.
Tidak mengherankan jika banyak anak tengah tumbuh dengan kemampuan menyesuaikan diri, menjadi penengah saat konflik muncul, dan menjaga keseimbangan dalam hubungan keluarga tanpa banyak diminta. Namun, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian. Karena terlalu sering berusaha memahami orang lain, anak tengah terkadang lupa bagaimana caranya membuat dirinya dipahami.
Mereka terbiasa menjadi pendengar, tetapi tidak selalu memiliki ruang untuk didengarkan. Mereka hadir ketika orang lain membutuhkan, tetapi sesekali bertanya dalam hati, “Jika aku yang sedang membutuhkan seseorang, kepada siapa aku harus bercerita?”
Mungkin dari situlah kemandirian mereka tumbuh. Bukan karena mereka selalu kuat atau tidak membutuhkan bantuan, melainkan karena keadaan membuat mereka belajar menyelesaikan banyak hal sendiri.
Meski demikian, pembahasan tentang urutan kelahiran seharusnya bukan tentang siapa yang paling menderita atau paling beruntung dalam keluarga. Bukan tentang anak sulung yang memikul banyak harapan, anak tengah yang berada di antara dua peran, atau anak bungsu yang sering dianggap paling dimanja.
Setiap posisi dalam keluarga memiliki tantangan dan pengalaman yang berbeda. Setiap anak menyimpan cerita yang tidak selalu terlihat dari luar. Pada akhirnya, keluarga bukanlah soal siapa yang paling diperhatikan atau siapa yang paling banyak berkorban.
Keluarga adalah tempat di mana setiap anggotanya berhak merasa dilihat, didengar, dan dicintai. Karena apa pun urutan kelahiran seperti sulung, tengah, ataupun bungsu setiap anak pantas mendapatkan kasih sayang yang sama. Dan mungkin, itulah inti dari semuanya.
Bukan tentang di posisi mana kita berdiri dalam keluarga, melainkan tentang keyakinan bahwa kita selalu memiliki tempat untuk pulang dan merasa menjadi bagian di dalamnya.

