Close Menu
    What's Hot

    GMNI Medan Apresiasi Langkah Wali Kota Medan Percepat Pembangunan Jembatan Gang Damai, Tekankan Realisasi dan Keselamatan Warga

    04/22/2026

    Program Beasiswa Khusus Mahasiswa Internasional Universitas Malikussaleh

    03/31/2026

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Rabu, Mei 13
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home ยป Melihat Belum Tentu Memahami: Bahasa Isyarat sebagai Penentu Kualitas Pembelajaran Anak Tunarungu
    Opini

    Melihat Belum Tentu Memahami: Bahasa Isyarat sebagai Penentu Kualitas Pembelajaran Anak Tunarungu

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/26/2025Tidak ada komentar20 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Foto : Fitria Salsabil, Mahasiswi Pisikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya anak tunarungu, tidak cukup dinilai dari berlangsungnya kegiatan belajar mengajar semata. Hal yang jauh lebih menentukan adalah kualitas bahasa yang digunakan dalam pembelajaran. Bagi anak tunarungu, bahasa isyarat bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan utama untuk memahami pengetahuan. Tanpa bahasa yang benar-benar dipahami anak, pembelajaran berisiko hanya terlihat berjalan, tetapi belum bermakna. Banda Aceh (26/12/2025)

    Anak tunarungu pada dasarnya tidak memiliki hambatan intelektual. Kesulitan belajar yang
    mereka alami lebih sering berkaitan dengan keterbatasan akses bahasa, bukan kemampuan
    berpikir. Hallahan dan Kauffman (2015) menegaskan bahwa hambatan pendengaran
    memengaruhi perkembangan bahasa, sehingga penyampaian informasi yang tidak sesuai dapat
    menghambat pemahaman anak. Oleh karena itu, penguasaan bahasa isyarat menjadi unsur
    penting dalam pendidikan anak tunarungu.

    Pemahaman ini semakin terasa ketika saya mengunjungi SLB YPAC Banda Aceh, tempat
    seluruh siswanya merupakan anak tunarungu. Secara umum, suasana kelas tampak tertib dan
    anak-anak terlihat fokus mengikuti pembelajaran. Namun, pengamatan lebih lanjut
    memunculkan pertanyaan kritis mengenai sejauh mana perhatian visual tersebut benar-benar
    mencerminkan pemahaman anak terhadap materi yang disampaikan.

    Dalam beberapa situasi, bahasa isyarat yang digunakan guru terlihat masih terbatas dan kurang
    luwes. Penyampaian materi cenderung singkat dan minim variasi, sehingga anak memang
    terlihat mengikuti, tetapi belum tentu memahami secara utuh. Hal ini terlihat ketika sebagian
    anak menunjukkan kebingungan saat diminta merespons atau menjelaskan kembali materi.
    Kondisi ini menunjukkan bahwa melihat belum tentu berarti memahami, terutama jika bahasa
    yang digunakan belum sepenuhnya efektif.

    Situasi tersebut tidak dapat sepenuhnya dipandang sebagai kesalahan guru. Mengajar anak
    tunarungu menuntut kompetensi khusus yang tidak sederhana. Mangunsong (2014) menjelaskan
    bahwa pendidikan anak berkebutuhan khusus membutuhkan keterampilan komunikasi yang
    spesifik dan berkelanjutan. Tanpa pelatihan bahasa isyarat yang memadai, interaksi di kelas
    berpotensi menjadi satu arah dan kurang responsif terhadap kebutuhan anak.

    Selain itu, World Health Organization (2021) menekankan bahwa akses bahasa yang memadai
    sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak dengan hambatan
    pendengaran. Ketika lingkungan belajar belum sepenuhnya menyediakan bahasa yang dapat

    dipahami anak, keterlambatan pemahaman dapat terjadi bukan karena keterbatasan anak,
    melainkan karena sistem pembelajaran yang belum optimal.

    Berdasarkan pengalaman tersebut, saya berpendapat bahwa kualitas pendidikan anak tunarungu
    sangat ditentukan oleh penguasaan bahasa isyarat guru. Anak tunarungu tidak kekurangan
    kemampuan belajar; mereka membutuhkan bahasa yang benar-benar dekat dengan dunia mereka.
    Ketika bahasa digunakan secara luwes dan kontekstual, pembelajaran menjadi lebih hidup dan
    bermakna.

    Oleh karena itu, peningkatan kompetensi bahasa isyarat guru perlu menjadi prioritas dalam
    pendidikan anak tunarungu. Pelatihan berkelanjutan dan dukungan profesional sangat dibutuhkan
    agar pembelajaran tidak hanya berlangsung, tetapi juga benar-benar dipahami anak. Pada
    akhirnya, kualitas pendidikan anak tunarungu tidak ditentukan oleh keheningan kelas, melainkan
    oleh seberapa efektif bahasa menjembatani guru dan peserta didik.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    05/12/2026

    DEMA FTK UIN Ar-Raniry Menolak Keras: Tolak Penutupan Prodi Keguruan, Desak Reformasi Kesejahteraan Guru

    05/05/2026

    Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai

    04/30/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,054

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,217
    Don't Miss
    Opini

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    By admin@kopelmanews.com05/12/202646

    Persoalan integritas penjurian sering menjadi keluhan yang berulang. Ada peserta yang merasa dirugikan, guru pendamping yang kecewa, hingga penonton yang mempertanyakan logika penilaian

    SEMA FSH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Rapat Kerja, Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas

    05/11/2026

    Dosen Unimal Gelar Workshop Kolaboratif Penulisan Artikel Ilmiah bagi Guru MGMP Matematika Aceh Tengah

    05/09/2026

    Abdul Halim Nasution Resmi Pimpin IMARSU Lewat Kabinet Marsada Tondi

    05/08/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    05/12/2026

    SEMA FSH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Rapat Kerja, Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas

    05/11/2026

    Dosen Unimal Gelar Workshop Kolaboratif Penulisan Artikel Ilmiah bagi Guru MGMP Matematika Aceh Tengah

    05/09/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,054
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.