Aceh, Kopelmanews.com – Fenomena “orang dalam” ini sebenarnya sudah sampai di tahap yang sangat mengkhawatirkan. Kalau dulu istilah ini cuma jadi bisik-bisik tetangga atau sekadar rahasia umum, sekarang situasinya sudah seperti aturan tidak tertulis yang dinormalisasi. Banda Aceh ( 24/06/2026)
Sangat wajar kalau banyak anak muda sekarang merasa patah arang sebelum berperang. Bayangkan saja, mereka sudah investasi waktu, tenaga, bahkan biaya yang tidak sedikit untuk kuliah dan mengambil berbagai sertifikasi, tapi kenyataannya di lapangan sering kali kalah telak hanya oleh satu kalimat rekomendasi dari kerabat petinggi perusahaan.
Kondisi ini jelas merusak mentalitas generasi muda. Ada semacam ilusi meritokrasi yang sengaja dipelihara; kita selalu didorong untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas diri, tetapi ruang untuk membuktikannya justru disumbat oleh sistem kekerabatan yang korup. Akibatnya, muncul rasa frustrasi massal.
Anak muda yang tidak punya privilese jaringan atau latar belakang keluarga yang “berada” dipaksa menerima kenyataan bahwa kerja keras saja tidak pernah cukup. Ini bukan lagi soal kompetisi yang sehat, melainkan soal siapa yang punya akses ke ruang belakang.
Dampak jangka panjangnya pun sangat berbahaya bagi kualitas dunia kerja kita. Ketika sebuah posisi atau jabatan tidak lagi diisi oleh orang yang paling kapabel di bidangnya, melainkan oleh orang yang paling dekat secara personal, maka efisiensi dan inovasi akan mandek. Perusahaan atau instansi akan terjebak dalam lingkaran kemunduran karena dikelola oleh individu yang fasilitasnya didapat dari jalur potong kompas.
Pada akhirnya, harus ada kesadaran bersama bahwa membiarkan praktik ini terus berjalan sama saja dengan melanggengkan ketimpangan sosial. Akses terhadap pekerjaan yang layak seharusnya menjadi hak dasar yang bisa digapai lewat jalur prestasi, bukan hadiah yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang yang kebetulan berada di lingkaran kekuasaan. Tanpa adanya transparansi dan pembenahan sistem rekrutmen yang radikal, keadilan sosial bagi anak muda tanpa koneksi akan selamanya menjadi angan-angan yang jauh dari jangkauan.

