Aceh, Kopelmanews.com – Sepertinya aku ADHD.” Kalimat ini kini terdengar seperti diagnosis mandiri yang paling lazim diucapkan anak muda saat merasa tidak produktif. Cukup bermodalkan beberapa video di lini masa, banyak orang merasa telah memecahkan teka-teki atas kesulitan mereka, seperti gagal fokus atau kebiasaan menunda pekerjaan. Banda Aceh (20/06/2026)
Kita terjebak dalam arus informasi yang menawarkan validasi cepat; transisi dari konten hiburan remeh ke bahasan kesehatan mental kini terasa begitu mulus, membuat diagnosis psikologis seolah semudah menggeser layar ponsel.
Apakah benar demikian?
Fenomena ini menunjukkan perubahan menarik dalam cara masyarakat memahami kesehatan mental. Jika dulu gangguan psikologis sering dianggap tabu dan jarang dibicarakan, kini istilah seperti ADHD, anxiety, trauma, hingga burnout menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Kesadaran terhadap kesehatan mental memang meningkat, tetapi bersamaan dengan itu muncul kebiasaan baru: mendiagnosis diri sendiri berdasarkan konten media sosial.
Media sosial memiliki kemampuan luar biasa dalam menyederhanakan informasi yang kompleks. Dalam waktu kurang dari satu menit, seseorang bisa memperoleh penjelasan tentang gejala ADHD, depresi, atau gangguan kecemasan. Masalahnya, kondisi psikologis tidak sesederhana daftar poin yang muncul di layar ponsel.
Banyak gejala ADHD sebenarnya merupakan pengalaman yang pernah dirasakan hampir semua orang. Siapa yang tidak pernah sulit fokus? Siapa yang tidak pernah menunda pekerjaan? Siapa yang tidak pernah lupa meletakkan kunci atau dompet?
Ketika gejala-gejala yang bersifat umum tersebut disajikan tanpa konteks yang memadai, siapa pun dapat merasa dirinya cocok dengan diagnosis tertentu.
Padahal, dalam dunia psikologi, diagnosis bukanlah permainan mencocokkan gejala seperti tes kepribadian di internet. ADHD adalah kondisi neurodevelopmental yang membutuhkan asesmen menyeluruh. Profesional kesehatan mental tidak hanya melihat satu perilaku, tetapi juga menelusuri sejak kapan gejala muncul, seberapa sering terjadi, dan sejauh mana gejala tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kesulitan fokus, misalnya, bisa disebabkan oleh banyak hal. Mahasiswa yang sedang menghadapi tekanan akademik mungkin mengalami kelelahan mental. Seseorang yang kurang tidur selama beberapa hari juga akan mengalami penurunan konsentrasi. Bahkan penggunaan media sosial yang berlebihan dapat membuat otak terbiasa menerima stimulasi cepat sehingga sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian mendalam.
Ironisnya, platform yang sering membuat kita kehilangan fokus kini juga menjadi tempat kita mencari penjelasan mengapa kita tidak bisa fokus.
Kita hidup di era yang membuat perhatian manusia menjadi komoditas. Setiap hari, ribuan konten berlomba-lomba memperebutkan waktu dan konsentrasi kita. Notifikasi muncul tanpa henti. Video berdurasi beberapa detik terus berganti. Otak dipaksa beradaptasi dengan ritme informasi yang sangat cepat.
Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika banyak orang merasa lebih sulit berkonsentrasi dibandingkan beberapa tahun lalu. Namun alih-alih mempertanyakan pola hidup digital yang kita jalani, kita sering memilih jawaban yang lebih sederhana: memberikan label pada diri sendiri.
Tentu saja, tidak semua orang yang curiga dirinya ADHD salah. Ada individu yang memang akhirnya mendapatkan diagnosis profesional setelah pertama kali mengenali gejalanya melalui media sosial. Dalam konteks ini, media sosial dapat menjadi pintu masuk yang bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mental.
Masalah muncul ketika media sosial berhenti menjadi pintu masuk dan mulai dianggap sebagai ruang diagnosis. Self-diagnosis dapat membuat seseorang melihat seluruh kehidupannya melalui satu label tertentu. Setiap kesulitan dianggap sebagai bukti bahwa label tersebut benar. Akibatnya, ruang untuk memahami faktor lain yang mungkin berperan menjadi semakin sempit.
Lebih dari itu, kebiasaan mendiagnosis diri sendiri juga berisiko membuat kita mengabaikan solusi yang sebenarnya dibutuhkan. Bisa jadi yang diperlukan bukan diagnosis baru, melainkan pola tidur yang lebih baik. Bukan gangguan psikologis tertentu, melainkan istirahat yang cukup. Bukan ADHD, melainkan kelelahan yang sudah terlalu lama diabaikan.
Di tengah banjir informasi kesehatan mental yang terus memenuhi media sosial, kita memang perlu lebih sadar terhadap kondisi psikologis diri sendiri. Namun kesadaran harus berjalan berdampingan dengan sikap kritis.
Tidak semua kesulitan fokus adalah ADHD. Tidak semua rasa sedih adalah depresi. Dan tidak semua kecemasan adalah gangguan kecemasan. Kadang-kadang, kita bukan sedang sakit. Kita hanya lelah hidup di dunia yang menuntut perhatian kita setiap saat.

