Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Jumat, Juli 17
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Ketika Kesadaran Orang tua Menjad Benteng Perlindungan Psikologis Anak
    Opini

    Ketika Kesadaran Orang tua Menjad Benteng Perlindungan Psikologis Anak

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/29/2025Tidak ada komentar69 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Junita Putri, Mahasiswi Prodi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Kesadaran orang tua terhadap kondisi anak merupakan salah satu faktor paling penting dalam melindungi tumbuh kembang dan kesehatan mental anak, khususnya anak berkebutuhan khusus. Namun, dalam realitas sosial, masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami atau menerima kondisi anaknya. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kasih sayang, melainkan oleh keterbatasan pengetahuan, ketakutan terhadap stigma, serta harapan agar anak dapat berkembang “seperti anak pada umumnya”. Banda Aceh (29/12/2025)

    Pengalaman mengunjungi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh membuka pemahaman baru mengenai pentingnya kesadaran orang tua terhadap kondisi anak. Dalam kunjungan tersebut, interaksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa banyak dari mereka justru memiliki kepribadian yang ceria, ramah, dan penuh rasa ingin tahu.

    Di kelas lima, terdapat kesempatan untuk mendampingi seorang anak yang selanjutnya disebut dengan inisial H. H merupakan anak dengan tunagrahita atau disabilitas intelektual. Ia dikenal sebagai anak yang murah senyum, ramah, dan kooperatif selama proses pembelajaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh, H sebelumnya bersekolah di sekolah reguler hingga kelas lima SD. Namun, lingkungan sekolah tersebut belum mampu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akibatnya, H mengalami perundungan dari teman-teman sekelas dan akhirnya dipindahkan ke SLB.

    H belum mampu membaca secara mandiri, tetapi telah dapat mengeja huruf dan mencontoh tulisan. Selama proses pendampingan, terlihat bagaimana H tetap berusaha mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri. Meskipun secara akademik tertinggal dibandingkan anak seusianya di sekolah reguler, H tetap menunjukkan sikap ceria dan antusias. Pengalaman ini memunculkan refleksi bahwa kesulitan utama yang dialami H bukan semata-mata berasal dari kondisinya, melainkan dari lingkungan yang belum siap memahami dan menyesuaikan diri dengan kebutuhannya.

    Kasus H menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran orang tua dan lingkungan dapat berdampak besar terhadap kesejahteraan psikologis anak. Ketika kondisi anak tidak dipahami sejak dini, anak berisiko ditempatkan pada lingkungan pendidikan yang tidak sesuai. Sekolah reguler tanpa sistem pendukung yang memadai dapat menjadi ruang yang penuh tekanan dan berpotensi menimbulkan pengalaman traumatis, seperti perundungan dan penolakan sosial, yang pada akhirnya memengaruhi harga diri anak.

    Meningkatkan kesadaran orang tua bukan berarti membatasi potensi anak atau menyerah pada kondisi yang ada. Sebaliknya, kesadaran ini merupakan langkah awal untuk memastikan anak memperoleh lingkungan yang aman, metode pembelajaran yang sesuai, serta dukungan emosional yang memadai. Pendidikan khusus, termasuk SLB, seharusnya dipahami sebagai bentuk perlindungan dan penyesuaian terhadap kebutuhan anak, bukan sebagai kegagalan orang tua maupun anak.

    Pengalaman di SLB menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak-anak lainnya. Mereka memiliki perasaan, keinginan untuk diterima, serta potensi untuk berkembang. Anak-anak tersebut hanya membutuhkan perhatian lebih, pendekatan pembelajaran yang tepat, dan empati dari lingkungan sekitarnya. Kesadaran orang tua menjadi kunci agar anak tidak tumbuh dengan luka psikologis akibat salah penempatan lingkungan pendidikan.

    Pada akhirnya, anak-anak seperti H bukanlah anak yang gagal menyesuaikan diri, melainkan anak yang sempat terlambat dipahami. Dengan meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kondisi anak, anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, manusiawi, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,799
    Don't Miss
    Opini

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    By admin@kopelmanews.com07/17/202614

    Aceh, Kopelmanews.com – Kalau diamati, fenomena FOMO (Fear of Missing Out) bukan sekadar istilah asing…

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.