Close Menu
    What's Hot

    GMNI Medan Apresiasi Langkah Wali Kota Medan Percepat Pembangunan Jembatan Gang Damai, Tekankan Realisasi dan Keselamatan Warga

    04/22/2026

    Program Beasiswa Khusus Mahasiswa Internasional Universitas Malikussaleh

    03/31/2026

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kamis, Mei 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Ketika Kesadaran Orang tua Menjad Benteng Perlindungan Psikologis Anak
    Opini

    Ketika Kesadaran Orang tua Menjad Benteng Perlindungan Psikologis Anak

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/29/2025Tidak ada komentar68 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Junita Putri, Mahasiswi Prodi Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Kesadaran orang tua terhadap kondisi anak merupakan salah satu faktor paling penting dalam melindungi tumbuh kembang dan kesehatan mental anak, khususnya anak berkebutuhan khusus. Namun, dalam realitas sosial, masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami atau menerima kondisi anaknya. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kasih sayang, melainkan oleh keterbatasan pengetahuan, ketakutan terhadap stigma, serta harapan agar anak dapat berkembang “seperti anak pada umumnya”. Banda Aceh (29/12/2025)

    Pengalaman mengunjungi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh membuka pemahaman baru mengenai pentingnya kesadaran orang tua terhadap kondisi anak. Dalam kunjungan tersebut, interaksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa banyak dari mereka justru memiliki kepribadian yang ceria, ramah, dan penuh rasa ingin tahu.

    Di kelas lima, terdapat kesempatan untuk mendampingi seorang anak yang selanjutnya disebut dengan inisial H. H merupakan anak dengan tunagrahita atau disabilitas intelektual. Ia dikenal sebagai anak yang murah senyum, ramah, dan kooperatif selama proses pembelajaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh, H sebelumnya bersekolah di sekolah reguler hingga kelas lima SD. Namun, lingkungan sekolah tersebut belum mampu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akibatnya, H mengalami perundungan dari teman-teman sekelas dan akhirnya dipindahkan ke SLB.

    H belum mampu membaca secara mandiri, tetapi telah dapat mengeja huruf dan mencontoh tulisan. Selama proses pendampingan, terlihat bagaimana H tetap berusaha mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri. Meskipun secara akademik tertinggal dibandingkan anak seusianya di sekolah reguler, H tetap menunjukkan sikap ceria dan antusias. Pengalaman ini memunculkan refleksi bahwa kesulitan utama yang dialami H bukan semata-mata berasal dari kondisinya, melainkan dari lingkungan yang belum siap memahami dan menyesuaikan diri dengan kebutuhannya.

    Kasus H menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran orang tua dan lingkungan dapat berdampak besar terhadap kesejahteraan psikologis anak. Ketika kondisi anak tidak dipahami sejak dini, anak berisiko ditempatkan pada lingkungan pendidikan yang tidak sesuai. Sekolah reguler tanpa sistem pendukung yang memadai dapat menjadi ruang yang penuh tekanan dan berpotensi menimbulkan pengalaman traumatis, seperti perundungan dan penolakan sosial, yang pada akhirnya memengaruhi harga diri anak.

    Meningkatkan kesadaran orang tua bukan berarti membatasi potensi anak atau menyerah pada kondisi yang ada. Sebaliknya, kesadaran ini merupakan langkah awal untuk memastikan anak memperoleh lingkungan yang aman, metode pembelajaran yang sesuai, serta dukungan emosional yang memadai. Pendidikan khusus, termasuk SLB, seharusnya dipahami sebagai bentuk perlindungan dan penyesuaian terhadap kebutuhan anak, bukan sebagai kegagalan orang tua maupun anak.

    Pengalaman di SLB menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak-anak lainnya. Mereka memiliki perasaan, keinginan untuk diterima, serta potensi untuk berkembang. Anak-anak tersebut hanya membutuhkan perhatian lebih, pendekatan pembelajaran yang tepat, dan empati dari lingkungan sekitarnya. Kesadaran orang tua menjadi kunci agar anak tidak tumbuh dengan luka psikologis akibat salah penempatan lingkungan pendidikan.

    Pada akhirnya, anak-anak seperti H bukanlah anak yang gagal menyesuaikan diri, melainkan anak yang sempat terlambat dipahami. Dengan meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kondisi anak, anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, manusiawi, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    05/12/2026

    DEMA FTK UIN Ar-Raniry Menolak Keras: Tolak Penutupan Prodi Keguruan, Desak Reformasi Kesejahteraan Guru

    05/05/2026

    Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai

    04/30/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,054

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,217
    Don't Miss
    Opini

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    By admin@kopelmanews.com05/12/202646

    Persoalan integritas penjurian sering menjadi keluhan yang berulang. Ada peserta yang merasa dirugikan, guru pendamping yang kecewa, hingga penonton yang mempertanyakan logika penilaian

    SEMA FSH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Rapat Kerja, Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas

    05/11/2026

    Dosen Unimal Gelar Workshop Kolaboratif Penulisan Artikel Ilmiah bagi Guru MGMP Matematika Aceh Tengah

    05/09/2026

    Abdul Halim Nasution Resmi Pimpin IMARSU Lewat Kabinet Marsada Tondi

    05/08/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Keputusan Juri Tidak Bisa Diganggu Gugat: Benarkah Selalu Demikian?

    05/12/2026

    SEMA FSH UIN Ar-Raniry Gelar Upgrading dan Rapat Kerja, Perkuat Kepemimpinan Mahasiswa yang Berintegritas

    05/11/2026

    Dosen Unimal Gelar Workshop Kolaboratif Penulisan Artikel Ilmiah bagi Guru MGMP Matematika Aceh Tengah

    05/09/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,054
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.