Aceh, Kopelmanews.com – Dalam jendela sejarah, Aceh merupakan daerah yang kaya akan budaya dan adat istiadat yang masih melekat serta turun-temurun hingga saat ini. Sejatinya, kita hidup berdampingan dengan adat istiadat yang memiliki ciri khas di setiap daerahnya. Namun, budaya bersifat dinamis, artinya dapat berubah kapan saja tergantung faktor yang memengaruhinya. Banda Aceh (27/06/2026)
Kita sebagai generasi yang menjalankan dan menerima budaya tersebut tidak bisa menolak perubahan, sebab seiring perkembangan zaman, pola pikir masyarakat pun akan semakin maju. Salah satu budaya Aceh yang masih eksis adalah peusijuk, salah satu tradisi yang digunakan masyarakat dalam berbagai konteks kehidupan dan sering kali dikaitkan dengan nilai keagamaan.
Menurut saya, tradisi peusijuk ini bisa saja bertransformasi. Pada dasarnya, penggunaan beberapa benda dalam peusijuk mengadaptasi simbol-simbol dari tradisi masa lampau seperti era Hindu yang kemudian dipadukan dengan doa-doa Islami.
Saya rasa, esensi dari tradisi ini tetap bisa dijalankan tanpa harus mempertahankan unsur-unsur benda tersebut. Prosesi peusijuk dapat disederhanakan dalam bentuk doa bersama yang dipimpin oleh seorang ustadz atau tokoh agama, tanpa mengurangi nilai keberkahan yang dicari.
Saya melihat penggunaan benda-benda dalam peusijuk sering kali membuat sebagian masyarakat salah kaprah dalam memaknai fungsinya. Peusijuk yang seharusnya menjadi sarana mencari berkah lewat doa, kini maknanya mulai bias karena tiap daerah punya cara yang berbeda-beda. Variasi inilah yang membuat nilai keagamaan dan fungsi asli peusijuk menjadi tidak pasti lagi.
Maka dari itu, menurut saya tradisi ini boleh saja diubah dan diadaptasi agar lebih sederhana. Prosesinya cukup dilakukan dengan berkumpul dan berdoa bersama, tanpa perlu mempertahankan unsur-unsur lama yang justru berpotensi memicu penyalahgunaan budaya di masyarakat.
Pada akhirnya, menjaga budaya tidak selalu berarti mempertahankan seluruh atribut masa lalu secara kaku, melainkan menjaga esensi kebaikan di dalamnya agar tidak menyimpang. Mengadaptasi peusijuk menjadi sekadar prosesi doa bersama yang dipimpin seorang ustadz atau tokoh agama adalah jalan tengah yang bisa diterapkan demi menyelamatkan nilai spiritual tradisi ini dari salah kaprah di masyarakat.
Dengan menyederhanakan ritual dan berfokus pada esensi doa, kita tidak hanya melestarikan warisan indahnya, tetapi juga membuktikan bahwa adat Aceh mampu bergerak dinamis seiring berkembangnya zaman tanpa kehilangan nilai keberkahannya.

