Close Menu
    What's Hot

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026

    LKKS Aceh Bentuk Panitia Pelantikan Pengurus Wilayah, Gubernur Dijadwalkan Melantik

    09/29/2026

    Rektor Lantik Pimpinan Prodi di Lingkungan FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

    09/25/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Oktober 24
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Elite? Menilai Demokrasi Indonesia
    Opini

    Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Elite? Menilai Demokrasi Indonesia

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/10/2026Tidak ada komentar78 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Siti Rahma Qonita , Deepartemen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Demokrasi pada dasarnya adalah sistem pemerintahan yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Dalam sistem ini, rakyat tidak hanya menjadi objek politik, tetapi juga subjek utama yang berhak menentukan arah kebijakan negara. Banda Aceh (10/06/2026)

    Indonesia sendiri telah menerapkan sistem demokrasi sejak era Reformasi 1998, yang ditandai dengan terbukanya ruang kebebasan politik dan meningkatnya partisipasi masyarakat. Namun, dalam praktiknya, masih muncul pertanyaan penting: apakah demokrasi di Indonesia benar-benar berjalan untuk rakyat, atau justru lebih banyak dikendalikan oleh elite politik yang memiliki kekuatan modal dan akses kekuasaan?

    Demokrasi di Indonesia memang sudah berjalan secara prosedural, tetapi belum sepenuhnya kuat secara substansi. Rakyat memang dilibatkan dalam pemilu, namun proses politik yang terjadi di baliknya masih sangat dipengaruhi oleh kekuatan modal, jaringan politik, dan kepentingan elite tertentu. Dalam kondisi seperti ini, demokrasi cenderung hanya menjadi formalitas lima tahunan, sementara keputusan politik setelahnya lebih banyak ditentukan oleh kelompok yang memiliki pengaruh besar.

    Selain itu, salah satu masalah utama demokrasi di Indonesia adalah ketimpangan relasi antara rakyat dan pengambil kebijakan setelah pemilu selesai. Rakyat seolah hanya berperan pada saat pemilihan, tetapi setelah itu ruang untuk ikut mengawasi, mengkritisi, atau memengaruhi kebijakan menjadi sangat terbatas. Aspirasi masyarakat sering kali baru diperhatikan ketika sudah menjadi tekanan publik yang besar atau viral di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi kita masih bersifat reaktif, bukan partisipatif secara berkelanjutan.

    Dinamika politik di Indonesia juga masih cenderung berorientasi pada kekuasaan dibandingkan pelayanan publik. Banyak aktor politik lebih fokus pada konsolidasi kekuatan, pembentukan koalisi, dan mempertahankan posisi, daripada benar-benar menyelesaikan persoalan mendasar masyarakat seperti pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan sering kali tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.

    Pada periode 2025–2026, muncul berbagai kritik terhadap menguatnya konsolidasi kekuasaan pasca pemilu yang dinilai membuat oposisi politik semakin lemah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap berkurangnya efektivitas fungsi kontrol dalam demokrasi, karena dominasi koalisi besar dapat mengurangi keseimbangan kekuasaan yang seharusnya menjadi prinsip penting dalam sistem demokrasi.

    Selain itu, kasus berulangnya praktik korupsi di lingkungan pejabat publik pada periode yang sama juga memperkuat pandangan bahwa sistem politik masih rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Korupsi dalam hal ini tidak hanya dipahami sebagai kesalahan individu, tetapi juga sebagai masalah sistemik yang berkaitan dengan biaya politik yang tinggi, patronase, dan lemahnya pengawasan publik. Kondisi ini semakin menunjukkan bahwa akses terhadap kekuasaan masih cenderung elitis dan belum sepenuhnya terbuka secara adil.

    Berdasarkan laporan Economist Intelligence Unit (EIU) dalam Democracy Index, Indonesia masih berada dalam kategori flawed democracy atau demokrasi cacat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara institusional demokrasi sudah berjalan, masih terdapat kelemahan pada aspek partisipasi politik, budaya politik, serta efektivitas pemerintahan. Dengan kata lain, demokrasi ada, tetapi belum sepenuhnya bekerja sebagaimana mestinya.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia masih berada dalam posisi yang belum seimbang antara kedaulatan rakyat dan dominasi elite politik. Secara sistem sudah demokratis, tetapi dalam praktiknya masih banyak ruang yang dikuasai oleh elite. Jika kondisi ini tidak diperbaiki, maka demokrasi hanya akan menjadi prosedur formal tanpa makna substantif. Oleh karena itu, diperlukan penguatan partisipasi masyarakat, transparansi kebijakan, serta kontrol publik yang lebih efektif agar demokrasi benar-benar berjalan sesuai prinsipnya, yaitu dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

    Demokrasi Kedaulatan Universitas Syiah Kuala
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,043

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,222

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,807
    Don't Miss
    Pendidikan

    FKIP Unimal Raih Dua Awards pada International Cultural Exchange 2026

    By admin@kopelmanews.com10/19/20263

    KOPELMANEWS.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) kembali menorehkan prestasi membanggakan…

    Kualitas Udara Memburuk Akibat Kabut Asap, Warga Diimbau Perketat Proteksi Kesehatan

    10/18/2026

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    10/11/2026

    ISNU Aceh Dorong Banda Aceh Academy Hadirkan Peluang Nyata bagi Generasi Muda

    10/08/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    FKIP Unimal Raih Dua Awards pada International Cultural Exchange 2026

    10/19/2026

    Kualitas Udara Memburuk Akibat Kabut Asap, Warga Diimbau Perketat Proteksi Kesehatan

    10/18/2026

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    10/11/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,043

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,222
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.