Close Menu
    What's Hot

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026

    LKKS Aceh Bentuk Panitia Pelantikan Pengurus Wilayah, Gubernur Dijadwalkan Melantik

    09/29/2026

    Rektor Lantik Pimpinan Prodi di Lingkungan FTK UIN Ar-Raniry Banda Aceh

    09/25/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Oktober 17
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home ยป Hubungan Serius Terasa Menyesakkan: Mengenal Fear of Commitment
    Opini

    Hubungan Serius Terasa Menyesakkan: Mengenal Fear of Commitment

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/25/2026Updated:06/25/2026Tidak ada komentar21 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Thalita Sadiya Humaira, Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Pernahkah Anda bertemu seseorang yang tampak nyaman menjalin hubungan, tetapi mulai menjauh ketika hubungan tersebut mengarah pada komitmen yang lebih serius? Fenomena ini semakin sering ditemukan di kalangan dewasa muda. Banda Aceh (26/06/2026)

    Banyak orang menganggap perilaku tersebut sebagai tanda ketidakseriusan, ketidakmatangan emosional, atau bahkan kurangnya cinta terhadap pasangan. Namun, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan Fear of commitment, yaitu ketakutan yang berlebihan terhadap komitmen dalam hubungan romantis.

    Bagi sebagian orang, komitmen dipandang sebagai bentuk kedewasaan dan keseriusan dalam menjalin hubungan. Bagi Sebagian lainnya komitmen justru di pandang sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan, menambah tanggung jawab, atau membuka peluang untuk mengalami rasa sakit emosional. Akibatnya, ketika hubungan mulai berkembang ke arah yang lebih serius, mereka cenderung menarik diri, menghindari pembicaraan mengenai masa depan, atau bahkan mengakhiri hubungan tanpa alasan yang jelas bagi pasangannya.                                                   

    Fear of commitment bukan sekadar rasa takut untuk menikah. Kondisi ini mencakup ketakutan terhadap berbagai aspek dalam hubungan jangka panjang, seperti tanggung jawab, kedekatan emosional, ketergantungan pada pasangan, hingga kemungkinan mengalami penolakan atau pengkhianatan.

    Seseorang yang mengalami Fear of commitment sering kali menginginkan hubungan yang dekat dan penuh kasih sayang, tetapi pada saat yang sama merasa cemas ketika hubungan tersebut mulai menuntut komitmen yang lebih besar. Situasi ini dapat menimbulkan konflik batin karena individu tersebut berada di antara keinginan untuk dicintai dan ketakutan untuk terluka.

    Berbagai faktor dapat menyebabkan munculnya Fear of commitment. Salah satu faktor yang paling sering ditemukan adalah pengalaman traumatis dalam hubungan sebelumnya. Seseorang yang pernah mengalami perselingkuhan, pengkhianatan, manipulasi emosional, atau putus cinta yang menyakitkan dapat mengembangkan keyakinan bahwa hubungan serius hanya akan membawa penderitaan. Pengalaman tersebut kemudian membentuk mekanisme pertahanan diri yang membuat individu lebih memilih menjaga jarak daripada mengambil risiko untuk kembali terluka.

    Selain itu, lingkungan keluarga juga memiliki peran penting dalam pembentukan pandangan seseorang terhadap komitmen. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan konflik berkepanjangan, perceraian, atau hubungan yang tidak harmonis dapat mengembangkan persepsi negatif terhadap pernikahan dan hubungan jangka panjang. Mereka mungkin belajar bahwa komitmen identik dengan pertengkaran, kekecewaan, atau kehilangan kebahagiaan. Akibatnya, ketika memasuki usia dewasa, mereka menghindari hubungan yang mengarah pada komitmen.

    Fenomena Fear of commitment juga menjadi semakin menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan budaya modern yang mengutamakan kebebasan dan fleksibilitas. Saat ini, banyak orang memilih untuk mengejar pendidikan, karier, dan pengembangan diri sebelum memikirkan hubungan jangka panjang.

    Walaupun hal tersebut memiliki banyak manfaat, sebagian individu akhirnya memandang komitmen sebagai sesuatu yang dapat menghambat pencapaian tujuan pribadi. Perlu memahami bahwa Fear of commitment bukanlah sekadar alasan untuk menghindari hubungan atau bentuk ketidakseriusan terhadap pasangan.

    Dalam banyak kasus, individu yang mengalami Fear of commitment sebenarnya memiliki kebutuhan emosional yang sama seperti orang lain, yaitu ingin dicintai, diterima, dan memiliki hubungan yang bermakna. Akan tetapi, pengalaman hidup dan ketakutan yang mereka miliki membuat mereka kesulitan untuk membangun hubungan dan memberikan rasa percaya secara penuh kepada orang lain.

    Pada akhirnya, membangun hubungan yang sehat memang membutuhkan keberanian untuk menerima risiko. Tidak ada hubungan yang sepenuhnya bebas dari konflik, perbedaan pendapat, maupun kemungkinan mengalami kekecewaan. Namun, hubungan yang sehat juga memberikan kesempatan bagi individu untuk tumbuh, belajar mempercayai orang lain, dan merasakan dukungan emosional yang bermakna.

    Oleh karena itu, Fear of commitment seharusnya tidak dipandang sebagai kelemahan, melainkan sebagai tantangan psikologis yang dapat diatasi melalui pemahaman, refleksi diri, dan dukungan yang tepat. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai fenomena ini, diharapkan semakin banyak individu yang mampu membangun hubungan yang sehat tanpa harus terus-menerus dibayangi oleh ketakutan akan komitmen maupun ketakutan untuk terluka.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,041

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,221

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,806
    Don't Miss
    Top News

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    By admin@kopelmanews.com10/11/20267

    KOPELMANEWS.com – Muhammad Alfajri Marpaung, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK)…

    ISNU Aceh Dorong Banda Aceh Academy Hadirkan Peluang Nyata bagi Generasi Muda

    10/08/2026

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026

    FSLDKD ke-15 sukses diselenggarakan, FSLDK Aceh siap menjadi wadah pergerakan mahasiswa Dakwah kampus yang unggul

    10/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketua Dema FTK UIN Ar-Raniry Kecam Ketidakjelasan Pertanggungjawaban Rakernas XIII Imakipsi di Jakarta

    10/11/2026

    ISNU Aceh Dorong Banda Aceh Academy Hadirkan Peluang Nyata bagi Generasi Muda

    10/08/2026

    Lewat Program “Bantu Hikma Melangkah” ITF Ar-Raniry Dukung Mobilitas Mahasiswi Penghafal Al-Qur’an

    10/08/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,041

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,822

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,221
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.