Close Menu
    What's Hot

    Mahasiswa PKM-KPM Internasional UIN Ar-Raniry Kunjungi KRI Songkhla, Dapat Arahan Keamanan di Thailand Selatan

    08/21/2026

    Perkuat Silaturahmi Lintas Negara, 27 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Gelar KPM dan PKM Internasional di Yala Thailand

    08/20/2026

    Tari Rapa’i Geleng UIN Ar-Raniry Raih Juara 1 dan Anugerah Khas UniMAP di SIGMA Unplugged 2026

    08/18/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, September 8
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » DPS dalam Bayang-Bayang Formalitas: Risiko Symbolic Compliance dalam LKS
    Opini

    DPS dalam Bayang-Bayang Formalitas: Risiko Symbolic Compliance dalam LKS

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com04/24/2026Updated:04/24/2026Tidak ada komentar541 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Teguh Diansyah Mudawali,S.Sos, Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah UIN Ar-Raniry
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Transformasi Lembaga Keuangan Syariah (LKS), khususnya di Aceh, sering dirayakan sebagai keberhasilan penerapan sistem ekonomi Islam. Regulasi telah ditegakkan, lembaga telah beralih ke sistem syariah, dan struktur pengawasan pun telah dibentuk melalui kehadiran Dewan Pengawas Syariah (DPS). Secara administratif, semuanya tampak berjalan sesuai desain. Namun, di balik keberhasilan struktural tersebut, tersimpan persoalan mendasar: apakah kepatuhan syariah yang terjadi benar-benar substantif, atau sekadar simbolik? Aceh Besar (24/4/2026

    Di sinilah konsep symbolic compliance menjadi relevan. Kepatuhan simbolik merujuk pada kondisi di mana suatu institusi tampak patuh terhadap aturan secara formal, tetapi tidak menginternalisasi nilai dan tujuan dari aturan tersebut dalam praktik nyata. Dalam konteks LKS, gejala ini mulai terlihat dari kecenderungan lembaga yang lebih fokus pada pemenuhan dokumen, prosedur, dan legitimasi administratif, ketimbang pada substansi keadilan dan etika ekonomi Islam.

    Dewan Pengawas Syariah (DPS) sejatinya dirancang sebagai benteng utama untuk mencegah terjadinya penyimpangan tersebut. DPS tidak hanya bertugas memastikan kesesuaian akad, tetapi juga menjaga agar nilai-nilai syariah—seperti keadilan, transparansi, dan kemaslahatan—benar-benar terimplementasi dalam operasional lembaga. Namun, dalam praktiknya, peran DPS kerap tereduksi menjadi fungsi administratif: hadir dalam rapat berkala, meninjau dokumen, dan menandatangani laporan kepatuhan.

    Masalah ini tidak bisa dilepaskan dari desain kelembagaan yang problematik. DPS direkomendasikan oleh otoritas keagamaan, tetapi diangkat dan diberi remunerasi oleh lembaga yang diawasi. Kondisi ini menciptakan konflik kepentingan struktural yang halus namun signifikan. Ketika pengawas memiliki ketergantungan finansial dan institusional terhadap objek yang diawasi, independensi menjadi sulit untuk dijaga sepenuhnya. Dalam situasi seperti ini, kritik yang seharusnya tajam berpotensi berubah menjadi kompromi.

    Lebih jauh lagi, terdapat ketimpangan antara otoritas dan akuntabilitas. DPS memiliki legitimasi untuk menyatakan suatu produk atau praktik “sesuai syariah”, tetapi tidak memiliki tanggung jawab hukum yang sebanding jika terjadi pelanggaran dalam implementasinya. Hal ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai accountability gap—kesenjangan antara kekuasaan normatif dan tanggung jawab nyata. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko menurunkan kualitas tata kelola syariah dan mereduksi kepercayaan publik.

    Fenomena symbolic compliance juga diperkuat oleh rendahnya literasi masyarakat. Banyak nasabah menerima sistem syariah karena alasan religius, tetapi tidak memahami secara mendalam konsep akad yang digunakan. Kepatuhan yang terjadi pun lebih bersifat deklaratif mengikuti karena kewajiban atau kepercayaan, bukan karena pemahaman. Dalam konteks ini, DPS yang seharusnya berperan sebagai jembatan edukasi belum sepenuhnya menjalankan fungsi tersebut.

    Namun, penting untuk disadari bahwa persoalan ini bukan semata-mata kegagalan DPS sebagai individu atau lembaga. Problematika ini bersifat sistemik. LKS tetap beroperasi dalam kerangka ekonomi modern yang menuntut efisiensi, profitabilitas, dan daya saing. Tekanan ini secara tidak langsung membatasi ruang gerak DPS untuk melakukan pengawasan yang ideal. Selama insentif ekonomi dan desain industri tidak berubah, potensi terjadinya kepatuhan simbolik akan terus ada.

    Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan tidak bisa parsial. Diperlukan reformasi menyeluruh terhadap sistem tata kelola syariah. Pertama, mekanisme pengangkatan dan pemberhentian DPS harus diperkuat agar lebih independen, misalnya melalui keterlibatan regulator atau sistem seleksi yang lebih objektif. Kedua, skema remunerasi perlu direstrukturisasi untuk mengurangi ketergantungan langsung pada lembaga yang diawasi. Ketiga, peran DPS harus ditransformasikan dari sekadar compliance body menjadi active governance actor yang terlibat dalam penguatan budaya organisasi dan edukasi publik.

    Selain itu, transparansi perlu diperluas agar masyarakat dapat mengakses informasi terkait pengawasan syariah secara lebih terbuka. Publik tidak hanya berhak mengetahui bahwa suatu lembaga “sesuai syariah”, tetapi juga bagaimana proses pengawasan tersebut dilakukan. Di sisi lain, peningkatan literasi masyarakat menjadi kunci agar kepatuhan tidak berhenti pada level simbolik, melainkan berkembang menjadi kesadaran yang berbasis pemahaman.

    Pada akhirnya, keberhasilan LKS tidak dapat diukur hanya dari kepatuhan administratif terhadap regulasi, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai syariah benar-benar hidup dalam praktik. DPS seharusnya menjadi penjaga nilai tersebut. Namun jika perannya terus berada dalam bayang-bayang formalitas, maka risiko terbesar yang dihadapi bukan hanya inefektivitas pengawasan, melainkan erosi kepercayaan publik terhadap sistem keuangan syariah itu sendiri.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Guru di Ujung Jeruji, Hukum di Ujung Nurani : Siapa yang Sebenarnya Dilindungi

    08/14/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,023

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,218

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,802
    Don't Miss
    Pendidikan

    Action Project SDGs Dosen FKIP UNIMAL

    By admin@kopelmanews.com09/05/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Tim Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (Unimal) menggelar…

    Mahasiswa PKM-KPM Internasional UIN Ar-Raniry Kunjungi KRI Songkhla, Dapat Arahan Keamanan di Thailand Selatan

    08/21/2026

    80 Mentor Terpilih, Mengemban Amanah Menyambut 1.635 Generasi Baru FTK UIN Ar-Raniry

    08/20/2026

    Perkuat Silaturahmi Lintas Negara, 27 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Gelar KPM dan PKM Internasional di Yala Thailand

    08/20/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Action Project SDGs Dosen FKIP UNIMAL

    09/05/2026

    Mahasiswa PKM-KPM Internasional UIN Ar-Raniry Kunjungi KRI Songkhla, Dapat Arahan Keamanan di Thailand Selatan

    08/21/2026

    80 Mentor Terpilih, Mengemban Amanah Menyambut 1.635 Generasi Baru FTK UIN Ar-Raniry

    08/20/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,023

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,218
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.