Aceh, Kopelmanews.com – Aceh sebelum datangnya Islam telah dikuasai oleh agama dan budaya Hindu-Buddha, lebih tepatnya pada masa Kerajaan Indra Purwa dan Kerajaan Indra Patra yang terletak di kawasan Aceh Besar. Banda Aceh (22/06/2026)
Lalu Islam datang pada abad ke-7 hingga ke-8 melalui para pedagang Arab, Persia, dan India Muslim. Tradisi Hindu-Buddha sangat identik pada ritual kepada roh leluhur dan juga ritual pemohonan kepada dewa di tempat-tempat tertentu.
Seperti yang sering kita lihat, tradisi Aceh sekarang ini masih ada unsur ritual yang sebenarnya bukanlah budaya Islam, melainkan tradisi lokal yang sudah dilakukan sejak masa Hindu-Buddha. Namun, setelah datangnya Islam, budaya itu mengalami akulturasi, tidak hilang, hanya saja diubah menjadi islamisasi.
Islam adalah agama yang mudah berbaur dan sangat mudah dipengaruhi. Kemungkinan besar para ulama atau tokoh-tokoh penyebar Islam saat itu memadukan adat lokal dengan ajaran Islam agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Proses ini kemudian melahirkan falsafah Aceh yang sangat terkenal, yaitu “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala” yang berarti adat dijalankan menurut ketentuan penguasa, hukum agama mengikuti ajaran ulama. Lalu ada juga ungkapan “Hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut”, artinya hukum (Islam) dan adat seperti zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan.
Apa saja budaya Aceh yang sekarang masih dilaksanakan yang dulunya adalah hasil warisan masa Hindu-Buddha?
Salah satu tradisi yang paling sering dilaksanakan adalah Peusijuek. Peusijuek merupakan salah satu tradisi yang sering disebut memiliki kemiripan dengan ritual pemberkatan dalam budaya Hindu. Setelah islamisasi, unsur-unsur pemujaan dewa dihilangkan dan digantikan dengan doa kepada Allah, shalawat, dan harapan memperoleh berkah serta keselamatan. Peusijuek biasanya dilakukan saat pernikahan, naik haji, membeli rumah, kendaraan baru, dan acara penting lainnya.
Lalu ada tradisi Kanuri/Kenduri. Sebelum ada Islam, masyarakat Nusantara mengenal upacara persembahan kepada roh leluhur atau kekuatan gaib. Setelah Islam masuk, tradisi tersebut berubah menjadi kenduri yang diisi dengan doa bersama, pembacaan ayat Al-Qur’an, zikir, dan sedekah makanan.
Ada banyak jenis kenduri di Aceh, seperti Kenduri Blang yang dilaksanakan pada musim tanam padi. Dulunya, sebelum islamisasi, masyarakat agraris sering mengadakan ritual untuk kesuburan tanah. Setelah islamisasi, digantikan dengan doa bersama, pembacaan ayat Al-Qur’an, dan permohonan hasil panen yang baik kepada Allah.
Setelah kenduri blang, ada Kenduri Laut yang sering dilakukan oleh masyarakat nelayan. Jika dahulu terdapat unsur penghormatan kepada penguasa laut atau roh penjaga laut, kini lebih menekankan syukur kepada Allah, doa keselamatan bagi nelayan, sedekah, dan makan bersama.
Selain kenduri mata pencaharian, ada juga tradisi kenduri kematian yang sering disebut Reuhab yang terdapat di Nagan Raya, Desa Alue Tho. Pada dasarnya, ritual penghormatan kepada roh seseorang yang sudah meninggal dilakukan di dalam kamar almarhum tersebut. Kamar itu dinamakan Reuhab.
Reuhab dilaksanakan pada malam hari setelah menguburkan jenazah. Di dalam kamar itu disediakan pakaian, barang-barang milik almarhum, dan juga harta benda yang ditinggalkan almarhum yang diletakkan di atas tikar.
Setelah islamisasi, tradisi ini masih dilakukan seperti itu, namun ditambahkan dengan membaca ayat Al-Qur’an, mendoakan almarhum, dan makan bersama dengan kerabat yang ikut mendoakan almarhum di rumahnya. Bacaan lebih lanjut, pembaca bisa membaca buku yang berjudul Tradisi Reuhab dalam Adat Kematian Desa Alue Tho Kecamatan Seunangan Kabupaten Nagan Raya, karya Syukriah.
Beberapa tradisi yang masih dilaksanakan masyarakat Aceh saat ini merupakan hasil akulturasi antara budaya lokal yang telah ada sejak masa Hindu-Buddha dengan ajaran Islam yang datang kemudian. Tradisi seperti Peusijuek, kenduri blang, kenduri laut, dan Reuhab tidak dihilangkan setelah Islam masuk, melainkan mengalami proses islamisasi dengan mengganti unsur-unsur pemujaan kepada dewa atau roh menjadi doa, zikir, pembacaan ayat Al-Qur’an, serta ungkapan syukur kepada Allah.
Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa Islam di Aceh berkembang dengan cara berbaur dengan adat setempat sehingga melahirkan tradisi yang tetap bertahan hingga sekarang. Masih ada banyak tradisi yang di islamisasikan di Aceh tidak hanya yang di bahas dalam opini ini saja. Aceh memiliki budaya yang sangat beragam dan mungkin orang orang belum pernah tau budaya dan tradisi itu ada di Aceh.

