Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Minggu, Juni 28
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Apakah aku benar-benar cemas? self-diagnose di Era tiktok dan instagram
    Opini

    Apakah aku benar-benar cemas? self-diagnose di Era tiktok dan instagram

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/13/2025Updated:06/13/2025Tidak ada komentar46 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Penulis | Az-zahra Izzati Maulina, Mahasiswa Prodi Psikologi, Uinversitas Islam Negeri Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Pernahkah Anda bingung dengan pernyataan seperti, “sepertinya ini yang sedang aku alami sekarang, atau fix ini aku banget“? Mungkin dari teman, seorang content creator, atau bahkan mungkin diri kita sendiri. Kalimat-kalimat tersebut bisa dibilang kita menganalisis diri sendiri setelah melihat konten di sosial media tiktok atau instagram yang mengangkat tema social anxiety, burnout, ataupun overthinking.

    tanpa adanya konsultasi dengan ahli dan diagnosis resmi, kita sering kali langsung melebeli atau mendiagnosis diri kita sendiri berdasarkan konten-konten tersebut. aku cemas, aku stress, aku depresi, aku punya gangguan mental.  itulah yang disebut  dengan self  diagnose atau melebeli diri sendiri berdasarkan informasi yang ditemukan diinternet atau social media.

    Apa sih self diagnose?

    Menurut White dan Horvitz , self diagnose adalah upaya memutuskan bahwa diri sendiri sedang mengidap suatu penyakit berdasarkan informasi yang diketahui. berbagai alasan individu akhirnya melakukan self diagnose. self diagnose   sering kali dilakukan karena perasaan rasa penasaran dengan gejala yang sedang dialami yang kemudian dibandingkan dengan referensi yang dimiliki. selain itu, ada pula yang melakukan self diagnose karena merasa khawatir akan diberi diagnosis penyakit  yang buruk setelah berkonsultasi dengan dokter. kurangnya kepercayaan terhadap dokter juga menjadi alasan seseorang melakukan self diagnose.

    Menurut psikolog persada, self diagnose pada kesehatan mental dapat  membuat  individu mengalami kecemasan belebih. individu yang mengalami gangguan kecemasan dapat berperilau tidak lazim seperti pank tanpa alasan, takut yang tidak beralasan terhadap objek atau kondisi kehidupan dan melakukan tindakan berulang-ulang tanpa dapat dikendalikan.

    Kenapa banyak anak muda yang melakukan self diagnose?

    Kita hidup di era serba cepat, serba online, dan serba terbuka. informasi tentang kesehatan mental kini dapat dengan mudah untuk kita temukan. kita tinggal buka aplikasi tiktok dan mencari tentang “anxiety”, dan dalam hitungan detik, akan langsung muncul ratusan video “ini tanda kalau kamu mengalami kecemasan” atau “kamu sering mengalami ini? bisa jadi itu anxiety”

    Untuk gen-z yang tumbuh dengan teknologi di tangan, ini terasa menyenangkan sekaligus melegakan. akhirnya ada penjelasan untuk rasa lelah yang terus menerus. akhirnya ada nama untuk perasaan gelisah yang selama ini dirasakan sendirian. self diagnose menjadi bentuk usaha memahami diri sendiri. karena kita merasa tidak ada yang bisa diajk bicara, atau kita tidak tahu harus mulai dari mana.

    Dan terkadang, kita Cuma butuh validasi atas apa yang kita rasakan dan pikirkan.

    Antara kesdaran dan kecemasan

    self-diagnose sebenarnya bukan  hal yang sepenuhnya salah. dalam beberapa kasus, itu bisa jadi awal yang baik untuk mengenali apa yang sedang kita alami. Tapi kalau dilakukan tanpa pemahaman yang benar dan cukup, justru bisa menyesatkan.

    Misalnya, merasa gugup sebelum presentasi buka berarti kita punya social anxiety disorder. merasa sedh setelah putus cinta bukan langsung tanda depresi klinis. kita semua manusia dan merasakan emosi itu bagian dari hidup, tapi ketika kita buru-buru melabeli semua itu sebagai gangguan mental, kita bisa terjebak dalam ketakutan yang sebenarnya tidak perlu.

    Bahaya Dibalik Label yang Terlalu Cepat

    Saat kita terlalu cepat mengklaim punya gangguan mental, ada beberapa risiko yang mungkin terjadi:

    1.   Melewatkan diagnosis yang sebenarnya

    Bisa jadi apa yang kita alami bukan gangguan kecemasan tapi efek dari kelelahan fisik, kurang tidur, atau tekanan sosial. Tapi karena sudah yakin “aku punya anxiety”, kita menolak kemungkinan lain.

    2.   Menormalkan hal yang serius

    Saat terlalu banyak orang menyebut dirinya cemas atau depresi secara sembarangan. makna dari kondisi itu bisa jadi kabur. Padahal, bagi mereka yang benar-benar mengalami gangguan mental, perjuangannya berat dan butuh penanganan serius.

    3.   Menghindari bantuan profesional

    Self diagnose sering membuat kita merasa “aku udah tau masalahnya”, sehingga kita malas mencari bantuan dari psikolog atau konselor. Padahal dukungan profesional bisa membuka pintu pemahaman yang lebih dalam dan tepat.

    Jadi, Harus Bagaimana?

    Jika kamu merasa cemas secara terus menerus, sulit untuk tidur, kehilangan motivasi atau merasa putus asa, adalah hal yang wajar jika kamu mencari informasi lebih lanjut. itu adalah tanda bahwa kamu peduli pada dirimu sendiri. Namun jangan behenti di Tiktok atau Instagram. manfaatkan infromasi tersebut sebagai sarana. Bukan sebagai tujuan akhir.

    Cobalah untuk berbagi perasaanmu dengan sesorang yang kamu percayai. catat dalam jurnal, atau jika mungkin, bicarakan dengan seorang psikolog. Mungkin yang kamu perlukan bukanlah diagnosis, melainkan tempat untuk merasa aman dan dimengerti.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Belajar dari Peradaban Indonesia untuk Membangun Masa Depan

    06/28/2026

    Agama Sebagai Modal: Strategi Ekonomi-Politik Imperium Usmani

    06/28/2026

    Perjuangan Masyarakat Menyiapkan Hidangan Kenduri Jeurat di Nagan Raya

    06/27/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,263

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,619

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,795
    Don't Miss
    Opini

    Belajar dari Peradaban Indonesia untuk Membangun Masa Depan

    By admin@kopelmanews.com06/28/20261

    Aceh, Kopelmanews.com – Indonesia merupakan bangsa yang memiliki sejarah peradaban yang panjang dan kaya. Jauh…

    Agama Sebagai Modal: Strategi Ekonomi-Politik Imperium Usmani

    06/28/2026

    Perjuangan Masyarakat Menyiapkan Hidangan Kenduri Jeurat di Nagan Raya

    06/27/2026

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    06/27/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Belajar dari Peradaban Indonesia untuk Membangun Masa Depan

    06/28/2026

    Agama Sebagai Modal: Strategi Ekonomi-Politik Imperium Usmani

    06/28/2026

    Perjuangan Masyarakat Menyiapkan Hidangan Kenduri Jeurat di Nagan Raya

    06/27/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,263

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,619

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.