Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kamis, Juni 25
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Antara Iman dan Ilusi: Mengapa Umat Islam Meromantisasi Sejarahnya
    Opini

    Antara Iman dan Ilusi: Mengapa Umat Islam Meromantisasi Sejarahnya

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/19/2025Tidak ada komentar28 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Rizka Magnalia Putri, Mahasiswi Sejarah Kebudayaan Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Sejarah Islam kerap dibicarakan dengan nada nostalgia: masa keemasan, kejayaan peradaban, dan kepemimpinan ideal yang seolah tanpa cela. Dari mimbar ke media sosial, masa lalu sering dihadirkan sebagai jawaban atas semua problem umat hari ini.  Namun pertanyaan penting jarang diajukan secara jujur: mengapa umat Islam begitu gemar meromantisasi sejarahnya sendiri?   Padahal

    Salah satu sebab utamanya adalah pengalaman panjang keterpurukan politik dan ekonomi di dunia Muslim modern. Ketika realitas hari ini diwarnai konflik, ketertinggalan, dan ketidakadilan global, masa lalu tampil sebagai ruang aman psikologis. Sejarah tidak lagi dibaca sebagai pelajaran, melainkan sebagai pelarian. Romantisme menjadi obat penenang kolektif bagi luka sejarah yang belum sembuh.

    Romantisasi juga lahir dari cara sejarah Islam diajarkan. Sejak dini, umat lebih sering diperkenalkan pada figur-figur besar yang nyaris sempurna, sementara konflik internal, perbedaan pendapat, dan kegagalan politik disingkirkan dari narasi. Akibatnya, sejarah berubah menjadi kisah heroik, bukan medan pergulatan manusiawi. Padahal, para tokoh Islam klasik justru besar karena kemampuan mereka mengelola perbedaan dan krisis, bukan karena hidup di zaman tanpa masalah.

    Ada pula faktor teologis yang kerap disalahpahami. Keberhasilan generasi awal Islam sering dipersepsikan sebagai bukti kemurnian iman, sementara kemunduran hari ini dianggap akibat menjauh dari masa lalu. Logika ini sederhana, tetapi berbahaya. Ia menutup ruang kritik dan pembaruan, karena setiap upaya kontekstualisasi mudah dicap sebagai penyimpangan dari tradisi ideal.

    Yang jarang disadari, romantisasi sejarah sering berfungsi sebagai alat politik. Masa lalu dipilih, dipoles, dan disederhanakan untuk membenarkan agenda kekuasaan di masa kini. Sejarah dijadikan slogan, bukan cermin. Dalam kondisi ini, umat tidak diajak berpikir, melainkan diajak bernostalgia sebuah kondisi yang membuat sejarah kehilangan daya emansipatorisnya.

    Padahal, sejarah Islam yang paling jujur justru penuh dinamika: perdebatan mazhab, konflik politik, kesalahan pemimpin, hingga kritik keras dari ulama terhadap penguasa. Inilah sejarah yang manusiawi, yang seharusnya memberi keberanian untuk menghadapi kenyataan, bukan menghindarinya.

    Romantisasi sejarah bukan masalah selama tidak menggantikan nalar kritis. Masalah muncul ketika masa lalu dijadikan tempat bersembunyi dari tanggung jawab masa kini. Umat Islam tidak kekurangan sejarah gemilang, tetapi sangat membutuhkan keberanian untuk membaca sejarah secara dewasa menerima kebesaran sekaligus kegagalannya. Barangkali, umat Islam tidak perlu terus-menerus bertanya kapan masa kejayaan itu akan kembali. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa pelajaran paling jujur dari sejarah yang berani kita terapkan hari ini?

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Penuhi Toplesmu Tanpa Memecahkan Toples Milik Orang Lain

    06/25/2026

    Hubungan Serius Terasa Menyesakkan: Mengenal Fear of Commitment

    06/25/2026

    Pasca-Banjir Aceh, Siapa yang Peduli Luka Batin Korban?

    06/25/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202617,682

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,383

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,794
    Don't Miss
    Opini

    Penuhi Toplesmu Tanpa Memecahkan Toples Milik Orang Lain

    By admin@kopelmanews.com06/25/20264

    Aceh, Kopelmanews.com – Kita mungkin sudah sering mendengar berbagai stereotip tentang anak tengah. Ada yang…

    Hubungan Serius Terasa Menyesakkan: Mengenal Fear of Commitment

    06/25/2026

    Pasca-Banjir Aceh, Siapa yang Peduli Luka Batin Korban?

    06/25/2026

    Hampir Sempurna: Mengapa Juara Dua Sulit Merasa Puas?

    06/25/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Penuhi Toplesmu Tanpa Memecahkan Toples Milik Orang Lain

    06/25/2026

    Hubungan Serius Terasa Menyesakkan: Mengenal Fear of Commitment

    06/25/2026

    Pasca-Banjir Aceh, Siapa yang Peduli Luka Batin Korban?

    06/25/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202617,682

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,383

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.