Aceh, Kopelmanews.com – Kenduri jeurat merupakan tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang. Tradisi ini tidak hanya bertujuan untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia, tetapi juga menjadi momen berkumpulnya keluarga dan masyarakat. Salah satu hal yang menarik dalam pelaksanaan Kenduri Jarat adalah perjuangan masyarakat dalam menyiapkan hidangan yang akan disantap bersama setelah acara doa selesai. Banda Aceh (27/06/2026)
proses memasak untuk Kenduri jeurat tidak dilakukan secara gotong royong di satu tempat. Setiap keluarga memasak sendiri di rumah masing-masing. Sejak siang hingga malam hari, para ibu dan anggota keluarga lainnya sibuk menyiapkan berbagai jenis makanan. Setelah selesai dimasak, hidangan tersebut dibawa ke tempat kenduri untuk disajikan bersama keluarga dan masyarakat yang hadir.
Menurut saya, hal inilah yang menunjukkan besarnya pengorbanan masyarakat dalam menjaga tradisi Kenduri Jarat. Meskipun harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya sendiri, mereka tetap berusaha menyiapkan makanan sebaik mungkin. Tidak sedikit keluarga yang harus begadang hingga larut malam agar semua persiapan berjalan lancar. Namun, kelelahan tersebut seolah terbayar ketika acara kenduri dan berdoa untuk keluarga yang sudah tiada dapat terlaksana dengan baik.
Biasanya setelah doa bersama selesai dilaksanakan, masyarakat baru menikmati hidangan yang telah dibawa dari rumah masing-masing. Waktu makan bersama bahkan sering berlangsung sekitar pukul tiga dini hari. Walaupun sudah larut dan banyak yang merasa lelah, suasana kebersamaan tetap terasa hangat. Masyarakat duduk bersama, saling berbincang, dan menikmati makanan yang telah dipersiapkan dengan susah payah.
Bagi saya, makan bersama pada dini hari bukan sekadar menikmati hidangan, tetapi menjadi simbol kebersamaan yang masih terjaga. Tradisi ini mempertemukan keluarga yang jarang bertemu, termasuk para perantau yang pulang kampung untuk mengikuti Kenduri Jarat. Karena itulah, perjuangan masyarakat menyiapkan hidangan tidak hanya menghasilkan makanan untuk di makan, tetapi juga memperkuat hubungan kekeluargaan dan silaturahmi.
Oleh sebab itu, Kendurijeurat layak untuk terus dipertahankan. Di balik hidangan yang tersaji pada tengah malam, dan berdoa bersama untuk keluarga yang sudah tiada terdapat kerja keras, pengorbanan, dan rasa kebersamaan yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai kekeluargaan masih tetap hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

