Aceh, Kopelmanews.com – Air bah yang merendam Aceh sejak akhir November lalu perlahan mulai surut. Lumpur mulai mengering, dinding rumah retak, dan pondasi bangunan rapuh menjadi pemandangan yang tersisa di banyak wilayah terdampak. Banda Aceh (25/06/2026)
Di atas kertas, penanganan bencana terlihat berjalan: bantuan logistik disalurkan, hunian sementara mulai dibangun, dan jumlah pengungsi perlahan menurun. Krisis, menurut laporan resmi, sedang “dipulihkan”.
Namun ada luka lain yang tidak tercatat dalam data bantuan maupun laporan harian posko bencana. Di sebuah tenda pengungsian di Aceh Tamiang , seorang ibu masih terbangun setiap malam ketika suara hujan terdengar di atas atap terpal.
Tubuhnya gemetar, pikirannya kembali pada malam ketika air datang begitu cepat dan memisahkannya dari rasa aman yang selama ini ia miliki. Bagi banyak penyintas, banjir mungkin sudah surut dari halaman rumah, tetapi belum benar-benar pergi dari ingatan mereka.
Bencana sebesar ini tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Ia juga meninggalkan tekanan psikologis yang tidak sederhana. Kehilangan anggota keluarga, harta benda yang hanyut, pekerjaan yang terhenti, hingga ketidakpastian masa depan merupakan pengalaman traumatis yang dapat membekas lama. Sayangnya, penanganan pascabencana di Indonesia masih sering terfokus pada kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, sementara pemulihan mental belum menjadi perhatian utama.
Pada masa tanggap darurat, berbagai pihak memang bergerak cepat. Relawan, organisasi kemanusiaan, hingga Himpunan Psikologi Indonesia wilayah Aceh turut memberikan pendampingan psikososial dan kegiatan trauma healing di sejumlah posko pengungsian. Langkah tersebut tentu penting dan patut diapresiasi. Namun persoalannya adalah keberlanjutan. Ketika status darurat dicabut dan perhatian publik mulai berkurang, banyak penyintas harus menghadapi tekanan psikologis mereka sendirian.
Pemulihan trauma bukan proses yang selesai dalam satu atau dua kali konseling. Dalam banyak kasus, gangguan stres pascatrauma atau PTSD dapat muncul berbulan-bulan setelah bencana terjadi. Ketika para korban mulai kembali menjalani kehidupan sehari-hari, rasa takut, kecemasan, dan tekanan justru sering muncul lebih kuat.
Mereka harus menghadapi kehilangan pekerjaan, kondisi ekonomi yang belum stabil, hingga ketidakpastian tempat tinggal. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, banyak penyintas memilih memendam semua beban itu sendiri.
Masalah ini bukan semata-mata soal kurangnya kepedulian, tetapi juga soal kesiapan sistem. Di banyak wilayah terdampak, akses terhadap layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. Tenaga kesehatan di puskesmas umumnya sudah dibebani banyak tugas, sementara layanan psikologis belum tersedia secara merata. Akibatnya, pemulihan kondisi mental korban sering kali menjadi bagian yang terabaikan dalam penanganan bencana.
Karena itu, pemerintah daerah perlu mulai melihat pemulihan mental sebagai bagian penting dari mitigasi dan penanganan pascabencana. Pendampingan psikososial seharusnya tidak berhenti ketika bantuan logistik selesai dibagikan. Kerja sama dengan perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas relawan, dan tenaga kesehatan lokal dapat menjadi langkah realistis untuk memperluas layanan pendampingan bagi masyarakat terdampak.
Aceh memang dikenal sebagai daerah yang kuat menghadapi bencana. Namun ketangguhan masyarakat bukan berarti luka batin mereka akan sembuh dengan sendirinya. Luka fisik memang mudah terlihat dan dihitung, tetapi luka psikologis sering datang diam-diam dan bertahan lebih lama.
Pemulihan pascabencana seharusnya tidak berhenti ketika air surut dan rumah kembali dibangun. Sebab bagi banyak penyintas, fase paling berat justru dimulai ketika mereka harus kembali menjalani hidup dengan rasa takut yang belum benar-benar pulih.

