Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juli 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Pasca-Banjir Aceh, Siapa yang Peduli Luka Batin Korban?
    Opini

    Pasca-Banjir Aceh, Siapa yang Peduli Luka Batin Korban?

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/25/2026Tidak ada komentar19 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Ariska, Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Air bah yang merendam Aceh sejak akhir November lalu perlahan mulai surut. Lumpur mulai mengering, dinding rumah retak, dan pondasi bangunan rapuh menjadi pemandangan yang tersisa di banyak wilayah terdampak. Banda Aceh (25/06/2026)

    Di atas kertas, penanganan bencana terlihat berjalan: bantuan logistik disalurkan, hunian sementara mulai dibangun, dan jumlah pengungsi perlahan menurun. Krisis, menurut laporan resmi, sedang “dipulihkan”.

    Namun ada luka lain yang tidak tercatat dalam data bantuan maupun laporan harian posko bencana. Di sebuah tenda pengungsian di Aceh Tamiang , seorang ibu masih terbangun setiap malam ketika suara hujan terdengar di atas atap terpal.

    Tubuhnya gemetar, pikirannya kembali pada malam ketika air datang begitu cepat dan memisahkannya dari rasa aman yang selama ini ia miliki. Bagi banyak penyintas, banjir mungkin sudah surut dari halaman rumah, tetapi belum benar-benar pergi dari ingatan mereka.

    Bencana sebesar ini tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Ia juga meninggalkan tekanan psikologis yang tidak sederhana. Kehilangan anggota keluarga, harta benda yang hanyut, pekerjaan yang terhenti, hingga ketidakpastian masa depan merupakan pengalaman traumatis yang dapat membekas lama. Sayangnya, penanganan pascabencana di Indonesia masih sering terfokus pada kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal, sementara pemulihan mental belum menjadi perhatian utama.

    Pada masa tanggap darurat, berbagai pihak memang bergerak cepat. Relawan, organisasi kemanusiaan, hingga Himpunan Psikologi Indonesia wilayah Aceh turut memberikan pendampingan psikososial dan kegiatan trauma healing di sejumlah posko pengungsian. Langkah tersebut tentu penting dan patut diapresiasi. Namun persoalannya adalah keberlanjutan. Ketika status darurat dicabut dan perhatian publik mulai berkurang, banyak penyintas harus menghadapi tekanan psikologis mereka sendirian.

    Pemulihan trauma bukan proses yang selesai dalam satu atau dua kali konseling. Dalam banyak kasus, gangguan stres pascatrauma atau PTSD dapat muncul berbulan-bulan setelah bencana terjadi. Ketika para korban mulai kembali menjalani kehidupan sehari-hari, rasa takut, kecemasan, dan tekanan justru sering muncul lebih kuat.

    Mereka harus menghadapi kehilangan pekerjaan, kondisi ekonomi yang belum stabil, hingga ketidakpastian tempat tinggal. Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, banyak penyintas memilih memendam semua beban itu sendiri.

    Masalah ini bukan semata-mata soal kurangnya kepedulian, tetapi juga soal kesiapan sistem. Di banyak wilayah terdampak, akses terhadap layanan kesehatan mental masih sangat terbatas. Tenaga kesehatan di puskesmas umumnya sudah dibebani banyak tugas, sementara layanan psikologis belum tersedia secara merata. Akibatnya, pemulihan kondisi mental korban sering kali menjadi bagian yang terabaikan dalam penanganan bencana.

    Karena itu, pemerintah daerah perlu mulai melihat pemulihan mental sebagai bagian penting dari mitigasi dan penanganan pascabencana. Pendampingan psikososial seharusnya tidak berhenti ketika bantuan logistik selesai dibagikan. Kerja sama dengan perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas relawan, dan tenaga kesehatan lokal dapat menjadi langkah realistis untuk memperluas layanan pendampingan bagi masyarakat terdampak.

    Aceh memang dikenal sebagai daerah yang kuat menghadapi bencana. Namun ketangguhan masyarakat bukan berarti luka batin mereka akan sembuh dengan sendirinya. Luka fisik memang mudah terlihat dan dihitung, tetapi luka psikologis sering datang diam-diam dan bertahan lebih lama.

    Pemulihan pascabencana seharusnya tidak berhenti ketika air surut dan rumah kembali dibangun. Sebab bagi banyak penyintas, fase paling berat justru dimulai ketika mereka harus kembali menjalani hidup dengan rasa takut yang belum benar-benar pulih.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,798
    Don't Miss
    Pendidikan

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    By admin@kopelmanews.com07/10/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melalui Islamic Trust Fund (ITF)…

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.