Aceh, Kopelmanews.com – Pernahkah terpikirkan mengapa di sebuah debat politik, kandidat yang paling lantang justru yang paling susah menjawab pertanyaan teknis? Atau mengapa komentar-komentar paling yakin tentang kebijakan ekonomi sering datang dari mereka yang belum pernah membuka buku teks dasar? Ini bukan kebetulan. Psikologi punya nama untuk fenomena ini, yaitu efek Dunning-Kruger. Banda Aceh (25/06/2026)
Pada 1999, psikolog David Dunning dan Justin Kruger dari Cornell University menemukan sesuatu yang cukup menggelisahkan, dimana individu dengan kompetensi rendah pada suatu bidang cenderung secara konsisten melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri.
Bukan karena mereka tidak jujur, tetapi karena mereka tidak memiliki cukup pengetahuan untuk menyadari seberapa banyak yang belum mereka ketahui. Dunning menyebutnya meta-ignorance (tidak tahu bahwa diri tidak tahu). Kondisi inilah yang membuatnya berbahaya, sebab kondisi ini tidak bisa dikoreksi dari dalam.
Politik adalah arena yang sangat mendukung bagi berkembangnya efek ini
Sistem insentif politik menghargai kepercayaan diri, bukan kehati-hatian. Pemilih sering kali lebih tertarik pada kandidat yang berbicara yang berbicara tegas daripada mereka yang mengakui kompleksitas masalah. “Saya akan selesaikan masalah ini dalam sembilan belas hari” jauh lebih mudah dijual ketimbang “ini persoalan multi-dimensi yang membutuhkan kajian mendalam”. Yang pertama menang pemilu. Yang kedua mungkin benar.
Di sinilah ketegangan muncul, sistem demokrasi mendorong komunikasi yang jelas, ringkas, dan meyakinkan. Sementara itu, masalah-masalah publik yang sesungguhnya hampir selalu kompleks, penuh ketidakpastian, dan membutuhkan kehati-hatian. Dua tuntutan ini tidak selalu berjalan seiring.
Ini menciptakan ekosistem berbahaya, dimana pemilih yang overconfident memilih politikus yang overconfident dan lingkaran ini terus berputar, menghasilkan kebijakan yang dirancang oleh orang yang kurang paham, didukung oleh massa yang juga kurang paham. Ini bukan salah mereka sepenuhnya, ini sebagian dari produk dari sistem pendidikan yang menanam pemikiran bahwa diam berarti tidak tahu dan tidak tahu adalah memalukan. Padahal justru sebaliknya yang akurat.
Jalan keluarnya bukan mempersulit orang untuk berpendapat, sebab demokrasi butuh partisipasi. Jalan keluarnya adalah membudayakan epistemic humility, keberanian untuk berkata “saya tidak cukup tahu tentang ini.” Ironisnya, pengakuan itu justru adalah tanda kecerdasan.
Pemimpin terbaik bukan yang tidak pernah ragu, melainkan yang tahu kapan harus berhenti bicara dan mulai mendengarkan. Dalam iklim politik kita hari, kerendahan hati intelektual bukan kelemahan. Ia adalah prasyarat demokrasi yang sehat.

