Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juni 23
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home ยป Mahar Tinggi, Cinta Terhalangi? Tinjauan Filosofis Tradisi Mahar di Aceh
    Opini

    Mahar Tinggi, Cinta Terhalangi? Tinjauan Filosofis Tradisi Mahar di Aceh

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/22/2026Tidak ada komentar19 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Wali Faatih Mardhatillah, Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, Univesrsitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Hampir semua anak muda di Aceh pasti pernah mendengar cerita tentang pasangan yang sudah saling cocok, direstui keluarga, bahkan merencanakan masa depan bersama, tetapi akhirnya harus menunda pernikahan karena persoalan mahar. Banda Aceh (22/06/2026)

    Bagi sebagian orang, hal ini mungkin dianggap biasa karena mahar memang bagian dari adat dan syariat yang harus dihormati. Namun bagi banyak generasi muda saat ini, persoalan mahar sering kali menjadi hal yang membuat mereka khawatir ketika mulai serius menjalin hubungan.

    Mereka bukan tidak ingin menikah, bukan juga tidak menghargai adat, tetapi mereka merasa terbebani oleh tuntutan yang terkadang berada di luar kemampuan mereka. Padahal jika kita melihat makna dasarnya, mahar bukanlah tentang seberapa banyak emas yang diberikan, melainkan simbol penghormatan kepada perempuan dan bukti kesungguhan seorang laki-laki.

    Dalam pandangan filsafat kebudayaan, sebuah tradisi lahir karena memiliki nilai yang dianggap penting oleh masyarakat. Oleh karena itu, tradisi mahar di Aceh tentu memiliki tujuan yang baik, yaitu menjaga martabat perempuan dan menunjukkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Namun pertanyaannya, apakah nilai penghormatan itu hanya bisa diukur dari tingginya mahar? tokoh muda Aceh yang banyak dikenal generasi sekarang, seperti Teuku Wisnu yang sering berdakwah kepada anak muda, pernah menyampaikan bahwa kemuliaan pernikahan tidak terletak pada kemewahannya, tetapi pada keberkahannya.

    Pesan seperti ini sebenarnya sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini. Banyak anak muda yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, membangun usaha, atau membantu ekonomi keluarga. Dalam keadaan seperti itu, mahar yang terlalu tinggi sering kali membuat pernikahan terasa semakin jauh untuk diwujudkan.menurut saya, yang perlu dijaga dari tradisi mahar bukanlah angkanya, melainkan maknanya.

    Sebab nilai seorang perempuan tidak akan berkurang hanya karena maharnya sederhana. Begitu juga kesungguhan seorang laki-laki tidak selalu terlihat dari banyaknya emas yang dibawa saat akad. Kesungguhan justru terlihat dari bagaimana ia bekerja keras, bertanggung jawab, dan berusaha menjadi pasangan yang baik setelah menikah.

    Sebagai generasi muda Aceh, kita tentu bangga memiliki budaya yang kaya dan penuh nilai. Namun budaya yang kuat bukanlah budaya yang membuat generasinya kesulitan untuk melangkah ke masa depan. Budaya yang kuat adalah budaya yang mampu menjaga nilai-nilai baiknya sambil memahami realitas yang dihadapi masyarakatnya.

    Jika mahar dimaknai sebagai penghormatan, maka penghormatan itu seharusnya bisa hadir tanpa harus menjadi beban yang memberatkan.pada akhirnya, yang akan dikenang dari sebuah pernikahan bukanlah berapa mayam emas yang diberikan, tetapi bagaimana dua orang mampu bertahan, saling menghargai, dan tumbuh bersama dalam kehidupan rumah tangga.

    Sebab cinta memang membutuhkan keseriusan, tetapi keseriusan tidak selalu harus dibuktikan dengan angka yang tinggi. Terkadang, yang paling dibutuhkan adalah saling pengertian, saling mendukung, dan keberanian untuk membangun masa depan bersama.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    06/16/20262,336
    Don't Miss
    Opini

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    By admin@kopelmanews.com06/23/20262

    Aceh, Kopelmanews.com – Perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman bagi tradisi. Padahal, dalam banyak kasus,…

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.