Close Menu
    What's Hot

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Juli 25
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Demokrasi Pancasila Vs Demokrasi Digital
    Opini

    Demokrasi Pancasila Vs Demokrasi Digital

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/10/2026Updated:06/10/2026Tidak ada komentar58 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Rina Rati Pratiwi, Program Studi Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi, demokrasi Indonesia menghadapi tantangan sekaligus peluang baru. Media sosial telah menjadi ruang publik modern tempat masyarakat menyampaikan aspirasi, mengkritik kebijakan pemerintah, hingga membentuk opini politik. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah demokrasi digital sejalan dengan demokrasi Pancasila yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia?. Banda Aceh (10/06/2026)

    Demokrasi Pancasila merupakan sistem demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat yang menekankan prinsip kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dalam praktiknya, demokrasi Pancasila mengutamakan musyawarah, toleransi, penghormatan terhadap keberagaman, serta mengedepankan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan kelompok tertentu.

    Di sisi lain, demokrasi digital hadir sebagai konsekuensi dari perkembangan teknologi informasi. Demokrasi digital memungkinkan masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan politik secara lebih cepat dan luas melalui berbagai platform digital. Berbagai isu publik saat ini bisa menjadi sorotan nasional hanya dalam beberapa jam melalui platform media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi telah memperluas akses masyarakat terhadap proses demokrasi.

    Data dari laporan Digital 2026 Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari 220 juta penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Angka ini mencerminkan besarnya potensi ruang digital sebagai sarana partisipasi politik masyarakat. Masyarakat kini tidak lagi hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga dapat menjadi pengawas, pemberi masukan, bahkan penggerak perubahan sosial melalui platform digital.

    Namun, demokrasi digital juga menghadirkan berbagai persoalan. Penyebaran informasi palsu (hoaks), ujaran kebencian, polarisasi politik, hingga fenomena echo chamber menjadi ancaman nyata bagi kualitas demokrasi. Kebebasan berekspresi yang tidak diimbangi dengan tanggung jawab justru dapat merusak nilai persatuan yang menjadi ciri khas demokrasi Pancasila.

    Pemikiran Jürgen Habermas melalui teori Demokrasi Deliberatif menekankan bahwa demokrasi yang baik memerlukan wadah untuk berdiskusi secara rasional, terbuka, dan fokus pada kepentingan bersama. Gagasan ini memiliki kesamaan dengan prinsip musyawarah dalam demokrasi Pancasila. Sayangnya, ruang digital saat ini sering kali dipenuhi perdebatan emosional yang lebih mengutamakan kemenangan opini daripada pencarian solusi bersama.

    Dengan demikian, demokrasi digital tidak seharusnya dipandang sebagai pengganti demokrasi Pancasila. Sebaliknya, demokrasi digital harus menjadi instrumen untuk memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan demokrasi modern. Teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat yang lebih berkualitas, memperluas pendidikan politik, serta memperkuat pengawasan publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

    Indonesia tidak membutuhkan pilihan antara demokrasi Pancasila atau demokrasi digital. Yang dibutuhkan adalah bagaimana keduanya dapat berjalan berdampingan. Demokrasi Pancasila memberikan arah dan nilai moral, sedangkan demokrasi digital menyediakan sarana yang lebih efektif untuk mewujudkan partisipasi masyarakat di era teknologi.

    Pada akhirnya, masa depan demokrasi Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, melainkan oleh kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi tersebut secara bijaksana sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Tanpa nilai, demokrasi digital hanya akan menjadi ruang kebebasan tanpa tanggung jawab. Namun, dengan menjadikan Pancasila sebagai kompas, demokrasi digital dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan demokrasi yang lebih inklusif, cerdas, dan berkeadaban.

    Demokrasi Digital Pancasila Universitas Syiah Kuala
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,766

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,799
    Don't Miss
    Nasional

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    By admin@kopelmanews.com07/24/202614

    Aceh, Kopelmanews.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali melakukan penyegaran organisasi melalui mutasi besar-besaran…

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,766

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.