Aceh, Kopelmanews.com – Kalau ada yang bertanya bagaimana saya menjadi diri saya yang sekarang, mungkin jawabannya ada pada dua orang yaitu Mama dan Papa. Saya adalah anak perempuan pertama dalam keluarga. Sejak kecil, saya tumbuh dengan begitu banyak kasih sayang, terutama dari Papa. Banda Aceh, (15/06/2026)
Sampai sekarang, galeri keluarga penuh dengan foto dan video masa kecil saya yang direkam olehnya. Ada video saat saya bermain, saat saya bercerita dengan bahasa anak-anak yang masih cadel, bahkan saat saya mengikat rambut Papa sesuka hati dan beliau hanya tertawa melihat tingkah saya. Dulu saya menganggap semua itu biasa saja. Namun semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa tidak semua anak memiliki begitu banyak kenangan yang sengaja disimpan oleh orang tuanya.
Papa adalah orang yang selalu membuat saya merasa aman. Sejak kecil, saya terbiasa datang kepadanya ketika menghadapi masalah. Saya SD, beliau sering mengatakan, “Kalau ada orang yang menyakiti kakak, lawan, Jangan takut. Kalau dia panggil ayahnya, panggil Papa.”
Saat itu saya merasa kalimat tersebut membuat saya berani. Namun sekarang saya memahami bahwa yang sebenarnya diberikan Papa bukan sekadar keberanian untuk menghadapi orang lain. Beliau membuat saya percaya bahwa saya tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.
Meskipun sangat melindungi saya, Papa juga tidak pernah mengajari saya untuk selalu merasa benar. Beliau sering mengatakan bahwa jika saya yang salah, maka saya harus berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Karena itulah setiap kali menghadapi masalah, saya lebih sering datang kepadanya bukan untuk mencari pembelaan, melainkan untuk mencari jalan keluar.
Saya juga masih mengingat bagaimana Papa selalu hadir ketika saya sedang sedih. Saat kecil, saya cukup sering berbeda pendapat dengan Mama. Biasanya saya akan masuk kamar sambil menangis dan mengurung diri. Tidak lama kemudian, Papa akan datang. Kadang beliau menasihati saya, kadang hanya menemani saya sampai tenang. Setelah itu beliau sering mengajak saya keluar rumah, membeli makanan, atau sekadar berjalan-jalan berdua.
Saat itu saya hanya merasa senang karena bisa keluar rumah. Baru sekarang saya menyadari bahwa mungkin itu adalah cara sederhana seorang ayah untuk mengatakan bahwa perasaan saya juga penting. Selain itu, Papa juga selalu mendukung hal-hal yang saya sukai. Ketika saya sedang senang menggambar, beliau tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak penting. Dulu saya tidak terlalu memikirkan hal itu karena semuanya terasa biasa saja. Namun sekarang saya memahami bahwa dukungan orang tua terhadap hal-hal kecil yang disukai anak bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Meskipun saya sangat dekat dengan Papa, banyak pelajaran tentang kehidupan justru saya dapatkan dari Mama. Saya dan Mama tidak selalu memiliki hubungan yang mudah. Ada masa ketika kami sering berbeda pendapat dan saling membuat kesal. Namun semakin dewasa, saya mulai menyadari bahwa banyak cara pandang yang saya miliki hari ini berasal dari nasihat-nasihat yang dulu sering saya dengar darinya.
Mama adalah orang yang mengajari saya untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan keinginan saya, saya biasanya akan fokus pada rasa kecewa yang saya rasakan saat itu. Namun Mama dan Papa hampir selalu memiliki cara pandang yang berbeda. Mereka tidak langsung ikut menyalahkan keadaan atau membiarkan saya tenggelam dalam kekecewaan.
Saya masih sering mengingat kalimat yang paling sering saya dengar di rumah ketika menghadapi berbagai hal yang tidak berjalan sesuai harapan: “Mungkin ini yang terbaik.”
Sejujurnya, dulu saya sering kesal mendengar kalimat itu. Ketika sedang kecewa, saya tidak ingin mendengar tentang hikmah atau sisi positif dari suatu kejadian. Saya hanya ingin apa yang saya harapkan berjalan sesuai rencana. Namun Mama dan Papa tidak pernah mengajarkan saya untuk terus-menerus meratapi sesuatu yang tidak terjadi. Mereka mengajarkan saya untuk menerima bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa berjalan sesuai keinginan kita.
Baru setelah bertambah usia saya mulai memahami maksud mereka. Ada banyak hal yang dulu membuat saya kecewa, tetapi setelah waktu berlalu saya menyadari bahwa apa yang terjadi ternyata membawa pelajaran yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Dari mereka, saya belajar bahwa menerima kenyataan bukan berarti menyerah, melainkan memahami bahwa kehidupan terkadang memiliki rencana yang berbeda dari yang kita bayangkan.
Mama juga mengajari saya sesuatu yang sampai sekarang masih berusaha saya pegang. Ketika ada orang yang menyakiti saya atau memperlakukan saya dengan tidak baik, beliau tidak pernah mengajari saya untuk membalas perlakuan tersebut. Sebaliknya, beliau sering mengatakan bahwa daripada membalas keburukan dengan keburukan, lebih baik mendoakan agar orang tersebut menjadi pribadi yang lebih baik.
Dulu saya sering berpikir bahwa nasihat itu terlalu sulit untuk dilakukan. Bagaimana mungkin kita mendoakan seseorang yang sudah membuat kita sakit hati? Namun semakin dewasa, saya mulai memahami bahwa memaafkan bukan selalu tentang orang lain. Kadang memaafkan adalah cara untuk melepaskan diri dari rasa marah dan kebencian yang justru membuat hati kita sendiri lelah.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa saya dibesarkan oleh dua orang tua yang mencintai saya dengan cara yang berbeda. Papa mengajari saya keberanian. Beliau membuat saya percaya bahwa saya tidak perlu takut menghadapi dunia karena selalu ada tempat untuk pulang dan bercerita. Mama mengajari saya kebijaksanaan. Beliau mengajarkan saya bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan saya dan bahwa menjadi orang baik tetap penting, bahkan ketika dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.
Dalam psikologi, hubungan yang hangat dan suportif antara anak dan orang tua dijelaskan melalui teori Attachment yang dikemukakan oleh John Bowlby. Teori ini menjelaskan bahwa hubungan yang aman dengan orang tua membantu anak membangun rasa percaya diri, rasa aman, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.
Ketika melihat diri saya hari ini, saya menyadari bahwa banyak hal baik dalam diri saya tidak terbentuk begitu saja. Keberanian untuk menghadapi masalah, kebiasaan untuk mencoba melihat sisi baik dari suatu keadaan, dan keyakinan bahwa saya tidak harus menghadapi semuanya sendirian, semuanya berawal dari rumah.
Saya mungkin tidak selalu memahami semua pelajaran itu saat masih kecil. Bahkan ada nasihat yang dulu terasa membosankan dan sulit saya terima. Namun sekarang, ketika melihat kembali perjalanan hidup saya, saya merasa bersyukur karena tumbuh di antara dua orang yang mencintai saya dengan cara yang berbeda. Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kasih sayang yang paling berharga: bukan hanya membesarkan seorang anak, tetapi juga membentuk cara ia memandang kehidupan.

