Aceh, Kopelmanews.com – Saya tidak pernah menyangka bahwa pelajaran paling berharga dari praktikum itu datang dari seorang anak yang bahkan belum bisa membaca dengan lancar. Hari itu saya datang ke sekolah untuk melaksanakan praktikum. Seperti mahasiswa pada umumnya, saya sudah menyiapkan lembar tes, memahami prosedur yang harus dilakukan, dan membayangkan kegiatan akan berjalan sesuai rencana. Meski begitu, saya tetap merasa gugup karena kali ini saya tidak lagi berlatih di dalam kelas, melainkan berhadapan langsung dengan anak-anak. Banda Aceh (16/06/2026)
Ketika tes dimulai, suasana kelas perlahan menjadi tenang. Anak-anak mulai mengerjakan lembar yang telah dibagikan. Sebagian langsung menulis, sebagian lainnya terlihat berpikir sebelum menjawab. Saya mengamati mereka satu per satu untuk memastikan kegiatan berjalan dengan baik. Di tengah suasana itu, perhatian saya tertuju pada seorang anak yang duduk diam di depan lembar tesnya.
Ia memegang pensil, tetapi tidak menulis apa pun. Awalnya saya mengira ia hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami instruksi. Namun setelah beberapa menit berlalu, lembar jawabannya masih kosong. Saya pun menghampirinya dan bertanya apakah ada bagian yang tidak dipahami. Anak itu tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat lembar tes di depannya, lalu menatap saya.
Saat itulah saya menyadari bahwa ia belum mampu membaca soal-soal tersebut dengan baik. Jujur, saat itu saya sempat bingung harus berbuat apa. Saya khawatir jika terlalu banyak membantu, hasil tes yang diperoleh tidak lagi mencerminkan kemampuan anak tersebut. Namun di sisi lain, saya juga tidak tega melihatnya terus menatap lembar soal tanpa memahami apa yang tertulis di sana.
Setelah mempertimbangkannya, saya memutuskan untuk mendampinginya. Saya duduk di sampingnya dan membacakan soal satu per satu, dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai membacakan sebuah soal, saya memberinya waktu untuk berpikir dan menjawab sendiri. Sesekali ia terlihat ragu, tetapi kemudian mencoba memberikan jawabannya dengan sungguh-sungguh.
Prosesnya memang berlangsung lebih lama dibandingkan anak-anak lain. Namun saya bisa melihat bahwa ia tidak menyerah. Ia tetap berusaha mengikuti setiap soal sampai selesai. Di tengah kegiatan itu, saya melihat sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.
Selama ini membaca terasa seperti kemampuan yang biasa saja. Kita membaca hampir setiap hari tanpa menyadari bahwa bagi sebagian orang, membaca bisa menjadi sebuah perjuangan yang panjang. Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam kelas ketika teman-teman lain sudah mampu membaca sendiri, sementara dirinya masih berusaha memahami tulisan yang ada di depannya. Saya juga membayangkan berapa banyak usaha yang mungkin sudah ia lakukan hingga hari itu.
Sepulang dari sekolah, pikiran saya terus kembali kepada anak tersebut. Sering kali kita terlalu cepat menilai seseorang dari apa yang terlihat. Kita melihat siapa yang lebih cepat memahami pelajaran, siapa yang memperoleh nilai tinggi, dan siapa yang tampak tertinggal. Padahal kita tidak pernah benar-benar mengetahui perjalanan yang sedang mereka tempuh.
Anak itu mengajarkan saya bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.Ada yang melangkah lebih cepat karena memiliki kesempatan belajar yang lebih banyak. Adayang membutuhkan waktu lebih lama karena harus menghadapi tantangan yang tidak terlihatoleh orang lain.
Namun lebih lambat bukan berarti tidak mampu. Lebih lambat juga bukan berarti gagal. Sebelum hari itu, mungkin saya akan menganggap kemampuan membaca sebagai sesuatu yang seharusnya sudah dikuasai oleh anak seusianya. Namun pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa perkembangan setiap anak tidak selalu berjalan dalam kecepatan
yang sama.
Ada yang sampai lebih dulu. Ada yang sampai belakangan. Tetapi masing-masing tetap sedang bergerak menuju tujuan yang sama. Praktikum itu memang mengajarkan saya cara memberikan tes kepada anak-anak. Namun pelajaran yang paling membekas justru datang dari seorang anak yang duduk diam dengan
lembar tes di depannya.
Sampai sekarang, saya sudah lupa bagaimana hasil tes yang ia peroleh hari itu. Saya juga tidak tahu sejauh mana perkembangannya saat ini. Namun saya masih mengingat kesungguhannya ketika berusaha menjawab setiap soal yang saya bacakan. Dari dirinya saya belajar bahwa tidak semua orang yang terlihat tertinggal sebenarnya terlambat.
Bisa jadi mereka hanya sedang menempuh jalan yang berbeda, dengan langkah dan waktu yang berbeda pula. Dan terkadang, yang mereka butuhkan bukanlah penilaian, melainkan kesempatan, dukungan, dan waktu untuk terus bertumbuh.

