Aceh, Kopelmanews.com – Banda Aceh gelap. Bukan karena malam tapi karena bencana merenggut aliran listrik, dan kehidupan yang seharusnya berjalan tiba-tiba tersandung diam. Banda Aceh (12/06/2026)
Aceh sedang berduka. Tapi dunia tidak berhenti.
Di sudut-sudut kota yang tiba-tiba kehilangan daya, makanan membusuk di dalam lemari pendingin yang tidak lagi dingin. Pedagang kecil menghitung kerugian dengan jari yang gemetar. Masyarakat yang panik bayi membuat Antrian BBM mengular, ibu-ibu berdiri dibawah matahari dengan mata yang sudah lebih dulu kering dari air mata karena menjadi keluarga korban penyintas bencana senyar. Di kota masyarakat berbondong-bondong mandi di masjid, bukan karena terbiasa ke masjid, tapi karena tidak ada pilihan lain.
Lalu Sumatera mati listrik serentak. Satu pulau. Gelap bersama.
Dan kita, yang menyaksikan semua itu dari layar kecil di genggaman tangan, tetap membuka laptop. Tetap mengerjakan tugas, Tetap masuk kerja. Karena tenggat tidak kenal bencana. Karena sistem tidak berhenti hanya karna kita sedang sesak. Inilah yang jarang kita bicarakan dengan jujur:
Tubuh kita tidak pernah benar-benar berhenti terjaga.
Belum selesai mencerna bencana senyar & mati listrik, datang berita ketegangan Selat Hormuz yang mengancam harga BBM. Belum selesai itu, harga pangan naik yang dimana bagi anak kos itu bukan sekedar angka, itu berarti memilih antara makan atau tidak. Belum selesai itu, Lalu berita program JKA yang cukup membuat masyarakat Aceh marah.
Dalam Psikologi, kondisi ini punya nama: survival mode. Sebuah kondisi di mana tubuh dan pikiran terus- menerus bersiaga menghadapi ancaman, tanpa pernah diberi ruang untuk pulih. Seperti mesin yang dipaksa menyala dua puluh empat jam, bukan karena ia kuat, tapi karena tidak ada yang menekan tombol off. Dan kita sudah lama hidup di dalam mesin itu. Angka-angka hanya mempertegas apa yang tubuh kita sudah tahu lebih dulu.
Lebih dari 31 juta penduduk Indonesia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental, 19 juta diantaranya gangguan emosional, 12 juta depresi. Satu dari tiga remaja Indonesia membawa setidaknya satu masalah kesehatan jiwa. Dan dari jutaan yang butuh bantuan itu, hanya 12,7 persen yang pergi berobat. Sisanya? Menelan sendiri. Melanjutkan. Pura-pura baik-baik saja.
Sementara negara menyediakan satu psikiater untuk 200.000 warga, tujuh kali lebh sedikit dari standar yang disarankan dunia.
Kita sakit, Tapi tidak ada cukup tangan yang menjemput. Yang paling menyedihkan bukan bencana itu sendiri. Yang paling menyedihkan adalah betapa cepatnya kita move on. bukan karena sudah sembuh, tapi karena tidak ada waktu untuk berduka. Karena besok ada tugas. Karena minggu depan ada tagihan. Karena berita baru sudah datang menggantikan yang lama.
Kita menjadi ahli dalam satu hal: bertahan. Bukan hidup. Dan lama-kelamaan kita lupa apa bedanya. Pulih bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar yang selama ini kita korbankan diam-diam. Di atas altar produktivitas, di atas nama ketangguhan, di atas narasi bahwa mengeluh adalah tanda lemah.
Tapi ada yang perluu kita akui dengan jujur, meski suaranya kecil dan gemetar “Kita lelah. Dan kelelahan itu nyata. Dan kita berhak untuk berhenti sebentar, tanpa harus menunggu semuanya baik-baik saja dulu”. Karena mungkin itulah bentuk perlawanan paling manusiawi yang tersisa, Berani mengakui bahwa kita tidak baik-baik saja.

