Close Menu
    What's Hot

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Jumat, Juli 24
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Ketika Bangsa Kehilangan Teladan: Krisis Kepemimpinan di Indonesia
    Opini

    Ketika Bangsa Kehilangan Teladan: Krisis Kepemimpinan di Indonesia

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/09/2026Updated:06/09/2026Tidak ada komentar259 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Sri Mahdayani, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Indonesia saat ini sedang mengalami dua masalah besar secara bersamaan: masalah yang terlihat jelas, seperti fluktuasi nilai tukar dan beban ekonomi masyarakat, serta masalah yang jarang disorot tetapi memiliki dampak yang jauh lebih mendalam, yaitu kurangnya teladan dalam kepemimpinan. Banda Aceh (09/06/2026)

    Masalah pertama dapat dinilai melalui angka dan grafik. Sementara masalah kedua hanya bisa dirasakan melalui kegelisahan masyarakat yang secara bertahap mulai kehilangan keyakinan terhadap mereka yang seharusnya memimpin dengan kejujuran.

    Jauh sebelum situasi ini menjadi kenyataan di Indonesia, para intelektual global telah mengingatkan akan risiko yang muncul saat pemimpin kehilangan aspek moral dalam kepemimpinan mereka. James MacGregor Burns, seorang pakar ilmu politik dari Amerika, dalam bukunya Leadership (1978) menekankan bahwa kepemimpinan sejati adalah suatu proses yang mengangkat baik pemimpin maupun pengikutnya menuju tingkat moral dan motivasi yang lebih tinggi. Kepemimpinan yang hanya bersifat transaksional  bertukar sesuatu untuk mendapatkan yang lain bukanlah kepemimpinan yang sejati, melainkan hanya sekadar pertukaran kepentingan.

    Kenyataan yang kita lihat di ruang publik Indonesia seringkali berlawanan dengan pandangan Burns. Banyak tokoh yang menjabat di posisi publik lebih fokus pada membangun hubungan kekuasaan dan mempertahankan posisi mereka daripada meningkatkan kualitas moral kehidupan berbangsa.

    Kepemimpinan dilakukan dengan cara transaksional: dukungan politik ditukar dengan jatah jabatan, kesetiaan diberikan imbalan dalam bentuk fasilitas, dan kritik ditekan dengan penggunaan kekuasaan.

    Bangsa ini tidak kekurangan orang yang cerdas dan berpendidikan. Namun, yang semakin jarang dijumpai adalah pemimpin yang memiliki keberanian untuk bersikap jujur, bahkan jika kejujuran tersebut dapat merugikan dirinya sendiri.

    Sri Mahdayani, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala

    James Kouzes dan Barry Posner, melalui penelitian yang berlangsung lebih dari tiga puluh tahun dalam The Leadership Challenge, menemukan bahwa karakteristik yang paling sering dicari oleh orang-orang dari seorang pemimpin adalah satu hal yang sangat sederhana yaitu kejujuran. Bukan kecerdasan, bukan daya tarik, bukan pula ketenaran tetapi kejujuran yang ditunjukkan melalui keselarasan antara ucapan dan tindakan. Mereka menyebutnya sebagai prinsip “model the way”: seorang pemimpin perlu menunjukkan sendiri nilai-nilai yang ia dukung, karena tindakan memiliki dampak yang jauh lebih besar dari pada kata-kata.

    Itulah yang kini semakin sulit ditemukan dalam praktik kepemimpinan publik di Indonesia. Kaum muda yang dibesarkan di tengah banjir informasi dapat dengan cepat menyadari perbedaan antara apa yang dikatakan dan kenyataan.

    Ketika seorang pejabat mengungkapkan tentang kesederhanaan namun kehidupannya dipenuhi dengan kemewahan, atau saat pemimpin mengangkat slogan untuk rakyat tetapi kebijakannya justru menjadikan jurang antara orang kaya dan miskin semakin lebar, kepercayaan publik bukan hanya menurun, tetapi juga perlahan-lahan hancur. Dan kepercayaan yang hancur jauh lebih susah untuk dipulihkan dibandingkan nilai tukar yang melemah.

    Yang lebih mengkhawatirkan adalah bagaimana situasi ini mulai diterima sebagai hal yang biasa. Masyarakat mulai terbiasa dengan pemimpin yang lebih mengutamakan citra dibandingkan dengan tindakan nyata, lebih banyak menghabiskan waktu untuk mempertahankan kekuasaan dari pada melayani rakyat.

    Normalisasi seperti ini sebenarnya sangat berbahaya karena merusak nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi dasar kehidupan berbangsa. Ketika pelanggaran etika tidak lagi mendapatkan konsekuensi, maka sistem itu sendiri menghadapi masalah yang jauh lebih serius dari pada sekadar siapa yang menduduki jabatan tersebut.

    Namun, krisis ini tidak menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan harapan. Di banyak daerah, terdapat pemimpin lokal yang memimpin dengan cara yang sederhana dan memihak kepada masyarakat, pegawai negeri yang berdedikasi tanpa mengharapkan imbalan, serta generasi muda yang tidak mau berkompromi dengan praktik-praktik yang melanggar amanat. Mereka menunjukkan bahwa teladan itu bukanlah hal yang mustahil. Oleh karena itu, ketiadaan teladan di tingkat yang lebih tinggi menjadi semakin sulit untuk dimaafkan.

    Indonesia memerlukan lebih dari sekadar pemimpin yang mahir dalam hal teknis atau terkenal dalam dunia pemilihan. Negara ini memerlukan sosok pemimpin yang ada dalam istilah Burns, dapat meningkatkan standar etika masyarakatnya, yang kehidupannya mencerminkan nilai-nilai, yang ucapannya sejalan dengan tindakannya, dan yang keberadaannya membuat rakyat percaya bahwa integritas itu bukan sekadar imajinasi, melainkan nyata adanya.

    Krisis rupiah mungkin dapat pulih dalam beberapa bulan jika langkah-langkah ekonominya sesuai. Namun, krisis keteladanan, kepercayaan yang hancur, etika masyarakat yang berkurang, dan generasi yang berkembang tanpa teladan yang baik memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk dibenahi. Oleh karena itu, isu ini perlu dibahas secara serius, hari ini, sebelum dampaknya semakin parah untuk diatasi.

    indonesia Kepemimpinan model the way Universitas Syiah Kuala
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,766

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,799
    Don't Miss
    Nasional

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    By admin@kopelmanews.com07/24/20269

    Aceh, Kopelmanews.com – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali melakukan penyegaran organisasi melalui mutasi besar-besaran…

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    BEM FKIP UNIMAL Menggelar gebyar Pendidikan Perdana

    07/15/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202620,982

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,766

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.