Close Menu
    What's Hot

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Kunjungan Silaturahmi Staf Ahli Menteri Agama RI ke Sekretariat PW ISNU Aceh

    07/01/2026

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juli 14
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Demokrasi Pancasila: Suara Rakyat atau Dominasi Elit?
    Opini

    Demokrasi Pancasila: Suara Rakyat atau Dominasi Elit?

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/13/2026Tidak ada komentar44 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Roisa Fatlia, Mahasiswi Prodi Pendidikan Pancasilan dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Demokrasi Pancasila berlandaskan prinsip kedaulatan rakyat yang tercermin dalam semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Sistem ini dirancang agar setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan aspirasi, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, dan merasakan manfaat pembangunan. Namun, dalam praktiknya, muncul pertanyaan: apakah Demokrasi Pancasila benar-benar menjadi wadah suara rakyat atau justru lebih banyak dipengaruhi kepentingan elit politik? Banda Aceh, (13/06/2026)

    Secara Ideal, Demokrasi Pancasila memiliki fondasi yang kuat untuk menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Nilai-nilai seperti persatuan, keadilan sosial, dan musyawarah untuk mufakat mengandung makna bahwa keputusan diambil setelah mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan hanya kelompok tertentu. Di lapangan, kita dapat melihat bukti nyata: pemilihan umum yang diadakan secara berkala, kebebasan menyampaikan pendapat, serta adanya lembaga perwakilan yang seharusnya menjadi jembatan aspirasi.

    Namun di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat tantangan yang membuat demokrasi ini sering terasa lebih berpihak pada elit politik. Fenomena politik uang, biaya politik yang semakin mahal, serta akses yang tidak setara terhadap media dan sumber daya membuat hanya segelintir orang yang mampu bersaing dan mempengaruhi kebijakan.

    Banyak keputusan penting yang diambil di tingkat legislatif maupun eksekutif seringkali lebih mencerminkan kesepakatan antar kelompok kekuasaan daripada kebutuhan masyarakat luas. Ketika aspirasi rakyat tereduksi hanya menjadi simbol kampanye, dan tidak diwujudkan dalam tindakan nyata, maka demokrasi yang seharusnya milik rakyat berubah menjadi alat kekuasaan segelintir orang.

    Kesenjangan ekonomi dan pendidikan juga menjadi faktor yang memperlebar jarak antara rakyat dan elit. Masyarakat yang berada di daerah terpencil atau memiliki keterbatasan akses informasi seringkali sulit memahami isu-isu politik secara mendalam, sehingga mudah dipengaruhi oleh janji-janji manis tanpa bukti. Di sisi lain, kelompok elit memiliki jaringan, dana, dan kekuasaan untuk mengatur arah wacana politik sesuai keinginan mereka. Akibatnya, mekanisme musyawarah yang menjadi jiwa Demokrasi Pancasila seringkali tergantikan oleh transaksi kekuasaan dan tawar-menawar kepentingan sesaat.

    Meskipun begitu, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa Demokrasi Pancasila telah gagal sepenuhnya. Masih banyak ruang perbaikan yang dapat ditempuh. Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperketat pengawasan terhadap praktik politik uang, meningkatkan transparansi keuangan partai politik, serta membuka akses informasi yang luas dan mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Pendidikan politik sejak dini juga menjadi kunci agar rakyat tidak hanya menjadi objek politik, tetapi menjadi subjek yang cerdas dan kritis dalam menentukan arah bangsa. Demokrasi Pancasila pada dasarnya adalah sistem yang baik, namun keberhasilannya sangat bergantung pada pelaksanaannya.

    Jika prinsip kedaulatan rakyat benar-benar dijunjung tinggi, maka sistem ini akan tetap menjadi rumah bagi seluruh aspirasi rakyat. Namun jika ia terus dikuasai oleh kepentingan segelintir orang, maka ia hanya akan menjadi topeng yang menutupi dominasi kekuasaan elit. Tantangan ini menjadi tugas bersama: bagi rakyat untuk terus mengawasi, dan bagi penyelenggara negara untuk kembali memegang amanah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.

    banda aceh Demokrasi politik Universitas Syiah Kuala
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026

    Antara Adat dan Syariah : Wacana Filsafat Kebudayaan

    07/06/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,798
    Don't Miss
    Pendidikan

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    By admin@kopelmanews.com07/10/202613

    Aceh, Kopelmanews.com – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melalui Islamic Trust Fund (ITF)…

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    ITF Ar-Raniry Gelar Capacity Building Season 3 dan Penyerahan Simbolis Bantuan Biaya Pendidikan kepada 86 Mahasiswa

    07/10/2026

    Mirza Gunawan Kembali Terpilih Pimpin PII Aceh Utara Periode 2026-2029

    07/10/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,498

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,762

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,213
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.