Aceh, Kopelmanews.com – Sebenarnya kita ini apa? Kalimat sederhana tersebut mungkin pernah terlintas di benak seseorang yang menjalani hubungan tanpa status (HTS). Kedekatan yang terjalin terasa seperti hubungan pacaran. Banda Aceh (27/06/2026)
Saling mengabari, saling memberi perhatian, bahkan saling cemburu. Namun, ketika pembicaraan mengarah pada komitmen, jawabannya sering kali menggantung. Fenomena seperti ini semakin banyak dijumpai, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.
Di era digital saat ini, menjalin hubungan menjadi lebih mudah. Berbagai platform media sosial memungkinkan seseorang berkomunikasi kapan saja dan dengan siapa saja. Kedekatan emosional dapat terbentuk dalam waktu yang relatif singkat. Namun, kemudahan tersebut juga melahirkan fenomena hubungan yang tidak memiliki kejelasan status. Banyak orang merasa nyaman menjalani kedekatan tanpa harus terikat dalam sebuah komitmen.
Bagi sebagian individu, HTS dianggap memberikan kebebasan. Tidak ada tuntutan layaknya pasangan, tetapi tetap memperoleh perhatian, teman berbagi cerita, dan dukungan emosional. Di sisi lain, hubungan seperti ini sering kali menjadi ruang bagi munculnya harapan yang tidak seimbang. Salah satu pihak mungkin menganggap hubungan tersebut sebagai awal menuju komitmen, sedangkan pihak lainnya hanya menikmati kedekatan tanpa keinginan untuk melangkah lebih jauh.
Dalam psikologi, manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa dicintai, diterima, dan memperoleh rasa aman dalam hubungan interpersonal. Kebutuhan ini dijelaskan oleh Abraham Maslow (1943) melalui hierarki kebutuhan, di mana kebutuhan akan rasa memiliki (love and belongingness) merupakan salah satu kebutuhan penting yang memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. Ketika hubungan dijalani tanpa kejelasan, kebutuhan tersebut sering kali tidak terpenuhi secara optimal sehingga dapat memunculkan kebingungan, kecemasan, dan rasa tidak aman.
Fenomena HTS juga dapat dipahami melalui Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby (1969) dan diperluas oleh Hazan dan Shaver (1987). Teori ini menjelaskan bahwa setiap individu memiliki pola keterikatan yang berbeda dalam menjalin hubungan.
Individu dengan anxious attachment cenderung membutuhkan kepastian dan mudah merasa cemas ketika hubungan yang dijalani tidak memiliki arah yang jelas. Mereka lebih rentan mengalami overthinking, takut kehilangan, dan terus mempertanyakan apakah perasaan yang diberikan benar-benar dibalas dengan perasaan yang sama.
Tidak sedikit orang yang akhirnya bertahan dalam HTS karena berharap suatu hari nanti hubungan tersebut berubah menjadi hubungan yang lebih serius. Sayangnya, harapan yang tidak disampaikan melalui komunikasi yang terbuka sering kali hanya menjadi asumsi. Ketika ekspektasi kedua belah pihak berbeda, rasa kecewa menjadi hal yang sulit dihindari. Bahkan, seseorang dapat merasakan patah hati yang mendalam meskipun secara status mereka tidak pernah menjadi pasangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Stanley, Rhoades, dan Markman (2006) menunjukkan bahwa kejelasan komitmen dalam hubungan berperan penting dalam menciptakan stabilitas dan kepuasan hubungan. Sebaliknya, hubungan yang dipenuhi ketidakpastian cenderung meningkatkan konflik emosional dan menurunkan kesejahteraan psikologis individu. Hal ini menunjukkan bahwa kepastian bukan sekadar label, tetapi juga memberikan rasa aman dan arah dalam sebuah hubungan.
Namun demikian, bukan berarti semua hubungan tanpa status selalu berdampak negatif. Ada pasangan yang memang sepakat menjalani hubungan tersebut karena alasan tertentu, misalnya ingin saling mengenal lebih jauh sebelum berkomitmen.
Selama kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama, mampu menjaga batasan, dan membangun komunikasi yang jujur, hubungan tersebut dapat berjalan dengan sehat. Permasalahan muncul ketika hanya satu pihak yang terus berharap, sementara pihak lainnya tidak pernah berniat memberikan kepastian.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan diukur dari seberapa sering seseorang memberikan perhatian, tetapi dari sejauh mana hubungan tersebut memberikan rasa aman, saling menghargai, dan memiliki tujuan yang jelas. Kepastian bukan berarti membatasi kebebasan seseorang, melainkan bentuk tanggung jawab emosional agar tidak ada pihak yang terus menunggu dalam ketidakjelasan.
Setiap orang berhak menentukan bentuk hubungan yang diinginkan. Namun, sebelum memilih bertahan dalam hubungan tanpa status, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hubungan ini membuat saya bertumbuh, merasa dihargai, dan memperoleh ketenangan? Atau justru membuat saya terus hidup dalam harapan yang belum tentu menjadi kenyataan? Sebab, cinta yang sehat tidak hanya tumbuh dari rasa nyaman, tetapi juga dari keberanian untuk memberikan kejelasan.

