Aceh, Kopelmanews.com – Pernahkah kamu merasakan, saat sedang menikmati makan bersama teman atau keluarga, suasana tiba-tiba jadi sepi karena semua orang asyik dengan ponsel masing-masing? Momen yang seharusnya hangat dan penuh tawa itu justru berubah menjadi sesi “duduk bareng, tapi masing-masing di dunia sendiri.” Banda Aceh (27/06/2026)
Fenomena ini ternyata punya nama “phubbing”. Gabungan dari kata “phone” dan “snubbing”, yang artinya mengabaikan orang di sekitar demi fokus pada gawai. Rasanya seperti menyiapkan hidangan istimewa, tetapi semua orang lebih suka makan dari piring digital mereka.
Bagi saya, phubbing bukan hanya sekadar kebiasaan buruk yang bisa kita anggap remeh. Ini adalah tanda dari perubahan besar dalam cara kita melihat kehadiran dan koneksi. Dulu, “hadir” itu sangat sederhana. Cukup ada di tempat, dan kita sudah dikatakan hadir. Kini, kita bisa duduk di satu meja dengan seseorang, tetapi secara psikologis absen karena perhatian kita terpecah, berfokus pada layar ponsel.
Yang menarik, phubbing ini menciptakan semacam paradoks. Ponsel kita diciptakan untuk menghubungkan, tapi seringkali malah memutus komunikasi dengan orang yang ada tepat di depan kita. Beberapa penelitian mengenai phubbing menunjukkan dampaknya terbilang serius. Hubungan kita bisa menurun kualitasnya, orang-orang merasa terabaikan, bahkan perasaan kesepian bisa muncul meskipun kita “terhubung” secara digital.
Menurut saya, akar dari masalah ini bukan hanya sekadar kecanduan gawai, tetapi juga kecemasan akan ketinggalan informasi, yang sering dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO), dan kebutuhan akan validasi instan melalui notifikasi. Ironis, bukan? Kita rela mengorbankan koneksi nyata yang ada di depan mata demi koneksi virtual yang sering kali dangkal dan sementara.
Sekarang, ini bukanlah soal menolak teknologi, tetapi lebih kepada kesadaran kita: kapan gadget membantu kita menjalin hubungan, dan kapan justru memisahkan kita dari orang-orang terdekat yang seharusnya kita perhatikan.
Solusi yang saya tawarkan bukanlah melarang ponsel secara total, tetapi lebih kepada membangun kesadaran bersama tentang etika kehadiran digital. Sejenis kesepakatan yang tak tertulis, di mana saat kita bersama orang lain, memberikan perhatian penuh itu adalah bentuk penghormatan yang tidak bisa disamakan dengan emoji atau pesan singkat.
Phubbing mungkin kelihatan sepele, tetapi ia mencerminkan sebuah krisis yang lebih dalam. Kita semakin terhubung secara digital, tetapi pada saat bersamaan, kita semakin merasa terasing secara emosional dari orang-orang yang benar-benar hadir dalam hidup kita. Seperti kata pepatah, “Dekat secara fisik, tapi jauh di hati.” Ini adalah tantangan yang perlu kita hadapi dengan bijak.

