Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Juni 27
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Phubbing dan Krisis Koneksi Nyata, Saat Gawai Mengalahkan Kehadiran Manusia
    Opini

    Phubbing dan Krisis Koneksi Nyata, Saat Gawai Mengalahkan Kehadiran Manusia

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/26/2026Tidak ada komentar402 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Dianasfita, Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Pernahkah kamu merasakan, saat sedang menikmati makan bersama teman atau keluarga, suasana tiba-tiba jadi sepi karena semua orang asyik dengan ponsel masing-masing? Momen yang seharusnya hangat dan penuh tawa itu justru berubah menjadi sesi “duduk bareng, tapi masing-masing di dunia sendiri.” Banda Aceh (27/06/2026)

    Fenomena ini ternyata punya nama “phubbing”. Gabungan dari kata “phone” dan “snubbing”, yang artinya mengabaikan orang di sekitar demi fokus pada gawai. Rasanya seperti menyiapkan hidangan istimewa, tetapi semua orang lebih suka makan dari piring digital mereka.

    Bagi saya, phubbing bukan hanya sekadar kebiasaan buruk yang bisa kita anggap remeh. Ini adalah tanda dari perubahan besar dalam cara kita melihat kehadiran dan koneksi. Dulu, “hadir” itu sangat sederhana. Cukup ada di tempat, dan kita sudah dikatakan hadir. Kini, kita bisa duduk di satu meja dengan seseorang, tetapi secara psikologis absen karena perhatian kita terpecah, berfokus pada layar ponsel.

    Yang menarik, phubbing ini menciptakan semacam paradoks. Ponsel kita diciptakan untuk menghubungkan, tapi seringkali malah memutus komunikasi dengan orang yang ada tepat di depan kita. Beberapa penelitian mengenai phubbing menunjukkan dampaknya terbilang serius. Hubungan kita bisa menurun kualitasnya, orang-orang merasa terabaikan, bahkan perasaan kesepian bisa muncul meskipun kita “terhubung” secara digital.

    Menurut saya, akar dari masalah ini bukan hanya sekadar kecanduan gawai, tetapi juga kecemasan akan ketinggalan informasi, yang sering dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FoMO), dan kebutuhan akan validasi instan melalui notifikasi. Ironis, bukan? Kita rela mengorbankan koneksi nyata yang ada di depan mata demi koneksi virtual yang sering kali dangkal dan sementara.

    Sekarang, ini bukanlah soal menolak teknologi, tetapi lebih kepada kesadaran kita: kapan gadget membantu kita menjalin hubungan, dan kapan justru memisahkan kita dari orang-orang terdekat yang seharusnya kita perhatikan.

    Solusi yang saya tawarkan bukanlah melarang ponsel secara total, tetapi lebih kepada membangun kesadaran bersama tentang etika kehadiran digital. Sejenis kesepakatan yang tak tertulis, di mana saat kita bersama orang lain, memberikan perhatian penuh itu adalah bentuk penghormatan yang tidak bisa disamakan dengan emoji atau pesan singkat.

    Phubbing mungkin kelihatan sepele, tetapi ia mencerminkan sebuah krisis yang lebih dalam. Kita semakin terhubung secara digital, tetapi pada saat bersamaan, kita semakin merasa terasing secara emosional dari orang-orang yang benar-benar hadir dalam hidup kita. Seperti kata pepatah, “Dekat secara fisik, tapi jauh di hati.” Ini adalah tantangan yang perlu kita hadapi dengan bijak.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    06/27/2026

    Hubungan Tanpa Status: Antara Harapan, Kenyamanan dan Ketidakpastian

    06/26/2026

    Jejak Peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia

    06/25/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,254

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,544

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,794
    Don't Miss
    Opini

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    By admin@kopelmanews.com06/27/20262

    Aceh, Kopelmanews.com – Dalam jendela sejarah, Aceh merupakan daerah yang kaya akan budaya dan adat…

    Hubungan Tanpa Status: Antara Harapan, Kenyamanan dan Ketidakpastian

    06/26/2026

    Phubbing dan Krisis Koneksi Nyata, Saat Gawai Mengalahkan Kehadiran Manusia

    06/26/2026

    Jejak Peninggalan Hindu-Buddha di Indonesia

    06/25/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    06/27/2026

    Hubungan Tanpa Status: Antara Harapan, Kenyamanan dan Ketidakpastian

    06/26/2026

    Phubbing dan Krisis Koneksi Nyata, Saat Gawai Mengalahkan Kehadiran Manusia

    06/26/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,254

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,544

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.