Aceh, Kopelmanews.com – Di warung kopi, di pinggir jalan, bahkan di depan sekolah, asap rokok sudah menjadi pemandangan yang begitu biasa di Aceh. Yang lebih mengkhawatirkan, bukan hanya orang dewasa yang menyulut rokok. Banda Aceh (22/06/2026)
Anak-anak usia sekolah dasar pun sudah mulai terlihat merokok secara terang-terangan, seolah tanpa beban. Fenomena ini bukan sekadar masalah kesehatan individu, melainkan cerminan dari sebuah budaya yang telah berakar jauh ke dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh.
Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam secara formal. Namun di balik identitas itu, tersimpan sebuah ironi yang sulit diabaikan. Proporsi perokok usia 10–18 tahun di Aceh mencapai 28% (Sabil et al., 2024), hampir empat kali lipat angka nasional yang berada di 7,4% dari Kemenkes RI tahun 2023. Artinya, hampir sepertiga remaja Aceh sudah menjadi perokok aktif. Ini bukan angka yang kecil, dan tidak bisa terus-menerus kita abaikan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Salah satu jawabannya ada di dalam rumah, jauh sebelum seorang anak sampai ke tongkrongan. Sebuah liputan di Aceh mencatat bahwa kebiasaan anggota keluarga dewasa yang merokok di dalam rumah menjadi salah satu faktor yang mendorong remaja untuk ikut merokok.
Albert Bandura menjelaskan mekanisme ini lewat Teori Belajar Sosial: anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka saksikan setiap hari. Ketika rokok hadir sebagai bagian dari keseharian di rumah, ia perlahan berhenti menjadi sesuatu yang asing. Ia menjadi wajar. Bahkan, tanpa disadari, menjadi sesuatu yang ingin ditiru.
Tekanan dari luar rumah kemudian memperkuat apa yang sudah terbentuk di dalam. Solomon Asch menunjukkan bahwa individu cenderung mengikuti perilaku kelompok demi mendapatkan penerimaan sosial. Di kalangan remaja Aceh, dinamika ini sangat nyata: merokok sudah berfungsi sebagai semacam “tiket masuk” ke dalam kelompok pergaulan.
Penelitian dari STIKES Muhammadiyah Lhokseumawe mencatat bahwa perilaku merokok pada remaja dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, psikologis, gaya hidup, dan keluarga . Keempatnya saling mengunci, membuat seorang remaja yang tidak merokok justru merasa seperti yang tidak pada tempatnya.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah masyarakat yang secara resmi hidup di bawah syariat. Mayoritas ulama kontemporer memandang merokok sebagai haram berdasarkan prinsip menjaga kesehatan dan mencegah kerusakan, nilai yang justru menjadi inti dari syariat itu sendiri. Namun fatwa dan realitas sosial tampaknya berjalan di jalur yang berbeda.
Banyak anak-anak dan remaja yang menganggap merokok sebagai hal biasa karena melihat orang dewasa melakukannya di mana-mana, tanpa batas. Ketika sebuah perilaku sudah dinormalisasi oleh lingkungan sehari-hari, larangan sekeras apa pun akan terasa jauh dan abstrak.
Dampaknya pun tidak berhenti di kesehatan. Pengeluaran belanja rokok di Aceh tercatat sebagai terbesar kedua setelah beras, dengan kontribusi terhadap garis kemiskinan mencapai 12,29%. Uang yang seharusnya bisa dipakai untuk pendidikan atau gizi anak justru habis terbakar menjadi asap.
Sementara itu, pada remaja yang otaknya masih dalam tahap perkembangan, nikotin mengganggu pembentukan sinaps, yang berdampak pada kemampuan belajar, konsentrasi, hingga pengendalian emosi dalam jangka panjang.
Masalah ini tentu tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Perlu ada kesadaran bersama: dari keluarga yang mulai memperhatikan apa yang dilihat anak-anaknya di rumah, dari komunitas yang tidak lagi menganggap rokok sebagai bagian tak terpisahkan dari pergaulan, hingga kebijakan yang lebih serius dalam membatasi akses rokok bagi anak-anak.
Aceh punya nilai dan identitas syariat yang kuat sebagai fondasi, bukan sekadar formalitas. Justru dari situ seharusnya kita mulai, bukan dengan menghakimi anak-anak yang sekadar meniru apa yang mereka lihat, tapi dengan bertanya bersama: lingkungan seperti apa yang sebenarnya ingin kita wariskan, sebuah ruang hidup yang benar-benar mencerminkan syariat yang kita junjung, atau yang justru terus membiarkan ironinya berlanjut?

