Aceh, Kopelmanews.com – Setiap kali membuka media sosial, Berapa banyak konten tentang kesehatan mental yang lewat di beranda TikTok atau Instagram Anda hari ini? Cukup dengan menggulir fitur For Your Page (FYP), kita bisa melihat ratusan video pendek berisi daftar gejala gangguan psikologis. Banda Aceh (22/06/2026)
Mulai dari ciri-ciri kecemasan berlebih, suasana hati yang naik-turun, sampai kebiasaan sulit fokus yang langsung dibilang sebagai ADHD. Pertanyaannya, apakah informasi-informasi ini benar-benar mengedukasi kita? Atau jangan-jangan, media sosial justru sukses membuat kita mendadak merasa paling tahu dan berhak mendiagnosis diri kita sendiri?
Sadar atau tidak, fenomena menebak-nebak penyakit sendiri alias self-diagnosis karena efek internet ini sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Banyak di antara kita, entah itu remaja atau sesama mahasiswa, dengan sangat mudah mengklaim diri sedang kena gangguan mental yang berat.
Hanya modal mencocokkan diri dengan video berdurasi 15 detik. Ingat, tahu soal isu kesehatan mental itu bagus. Bagus banget. Tapi mendiagnosis diri secara sembarangan lewat video internet adalah sebuah cara yang salah, yang justru bisa membuat kondisi pikiran kita makin kacau.
Mari kita lihat dari sisi medis. Menentukan sebuah gangguan jiwa itu tidak pernah segampang menebak isi konten medsos. Betul, data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan banyak orang aktif memakai fitur tes mandiri digital. Tapi ingat, itu cuma buat cek awal saja, bukan kesimpulan akhir untuk dibawa pulang lalu dipercaya sendiri.
Para ahli, seperti psikolog dan psikiater, butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar menentukan sebuah diagnosis lewat tes resmi dan wawancara yang mendalam. Mengapa kita begitu berani mengambil alih tugas mereka hanya modal video FYP? Saat kita cuma mengandalkan asumsi sendiri, kita akhirnya cuma percaya apa yang ingin kita percaya, lalu mengabaikan fakta medis yang sebenarnya rumit.
Dampaknya tidak sepele dan sudah banyak terjadi di sekitar kita. Pertama, muncul ketakutan berlebih yang sebenarnya tidak perlu. Seseorang yang aslinya cuma stres biasa karena tumpukan tugas kuliah atau masalah organisasi, seketika merasa kena depresi berat setelah membaca poin-poin singkat di internet. Kedua, salah penanganan atau salah obat.
Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) berulang kali mengingatkan risiko besar kalau kita mengobati diri sendiri cuma modal informasi dari internet. Bahkan kenyataannya, tidak sedikit anak muda yang nekat membeli suplemen penenang tanpa resep dokter. Bukannya sembuh, tindakan ini justru bisa merusak kesehatan fisik kita sendiri. Jangan sampai niat ingin lebih sehat malah berujung bahaya!
Kita patut mengapresiasi karena hari ini tingkat kepedulian terhadap kesehatan mental sudah jauh lebih tinggi. Cap buruk terhadap orang yang pergi ke psikolog perlahan mulai hilang dari lingkungan kita. Namun, mari kita taruh fungsinya di tempat yang benar.
Media sosial itu wadah untuk belajar peduli, bukan ruang praktik dokter. Menyadari ada yang tidak beres dengan diri kita adalah langkah awal yang cerdas, tetapi langkah berikutnya adalah datang ke ahlinya langsung, bukan malah menebak-nebak tanpa arah di kolom komentar medsos.
Sebagai anak muda yang peka terhadap teknologi, kita harus mengubah kebiasaan ini! Mulai hari ini, berhentilah sibuk mencocokkan video FYP dengan suasana hati kita yang sedang berubah-ubah. Kalau Anda merasa lelah atau cemas, gunakan fasilitas layanan konseling yang ada di sekitar kita, seperti layanan konseling internal kampus, atau bertemu langsung dengan ahlinya di pusat layanan Kesehatan terdekat. Berhenti menjadikan algoritma media sosial sebagai penentu kesehatan jiwa kita. Kesehatan mental Anda terlalu berharga untuk sekadar dijadikan bahan tebak-tebakan di balik layar HP!

