Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juni 23
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home ยป FYP Kesehatan Mental: Edukasi atau Malah Bikin Asumsi?
    Opini

    FYP Kesehatan Mental: Edukasi atau Malah Bikin Asumsi?

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/22/2026Tidak ada komentar17 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Inggrid Nadianingrum, Mahasiswi Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Setiap kali membuka media sosial, Berapa banyak konten tentang kesehatan mental yang lewat di beranda TikTok atau Instagram Anda hari ini? Cukup dengan menggulir fitur For Your Page (FYP), kita bisa melihat ratusan video pendek berisi daftar gejala gangguan psikologis. Banda Aceh (22/06/2026)

    Mulai dari ciri-ciri kecemasan berlebih, suasana hati yang naik-turun, sampai kebiasaan sulit fokus yang langsung dibilang sebagai ADHD. Pertanyaannya, apakah informasi-informasi ini benar-benar mengedukasi kita? Atau jangan-jangan, media sosial justru sukses membuat kita mendadak merasa paling tahu dan berhak mendiagnosis diri kita sendiri?

    Sadar atau tidak, fenomena menebak-nebak penyakit sendiri alias self-diagnosis karena efek internet ini sudah sampai pada tahap yang mengkhawatirkan. Banyak di antara kita, entah itu remaja atau sesama mahasiswa, dengan sangat mudah mengklaim diri sedang kena gangguan mental yang berat.

    Hanya modal mencocokkan diri dengan video berdurasi 15 detik. Ingat, tahu soal isu kesehatan mental itu bagus. Bagus banget. Tapi mendiagnosis diri secara sembarangan lewat video internet adalah sebuah cara yang salah, yang justru bisa membuat kondisi pikiran kita makin kacau.

    Mari kita lihat dari sisi medis. Menentukan sebuah gangguan jiwa itu tidak pernah segampang menebak isi konten medsos. Betul, data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menunjukkan banyak orang aktif memakai fitur tes mandiri digital. Tapi ingat, itu cuma buat cek awal saja, bukan kesimpulan akhir untuk dibawa pulang lalu dipercaya sendiri.

    Para ahli, seperti psikolog dan psikiater, butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar menentukan sebuah diagnosis lewat tes resmi dan wawancara yang mendalam. Mengapa kita begitu berani mengambil alih tugas mereka hanya modal video FYP? Saat kita cuma mengandalkan asumsi sendiri, kita akhirnya cuma percaya apa yang ingin kita percaya, lalu mengabaikan fakta medis yang sebenarnya rumit.

    Dampaknya tidak sepele dan sudah banyak terjadi di sekitar kita. Pertama, muncul ketakutan berlebih yang sebenarnya tidak perlu. Seseorang yang aslinya cuma stres biasa karena tumpukan tugas kuliah atau masalah organisasi, seketika merasa kena depresi berat setelah membaca poin-poin singkat di internet. Kedua, salah penanganan atau salah obat.

    Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) berulang kali mengingatkan risiko besar kalau kita mengobati diri sendiri cuma modal informasi dari internet. Bahkan kenyataannya, tidak sedikit anak muda yang nekat membeli suplemen penenang tanpa resep dokter. Bukannya sembuh, tindakan ini justru bisa merusak kesehatan fisik kita sendiri. Jangan sampai niat ingin lebih sehat malah berujung bahaya!

    Kita patut mengapresiasi karena hari ini tingkat kepedulian terhadap kesehatan mental sudah jauh lebih tinggi. Cap buruk terhadap orang yang pergi ke psikolog perlahan mulai hilang dari lingkungan kita. Namun, mari kita taruh fungsinya di tempat yang benar.

    Media sosial itu wadah untuk belajar peduli, bukan ruang praktik dokter. Menyadari ada yang tidak beres dengan diri kita adalah langkah awal yang cerdas, tetapi langkah berikutnya adalah datang ke ahlinya langsung, bukan malah menebak-nebak tanpa arah di kolom komentar medsos.

    Sebagai anak muda yang peka terhadap teknologi, kita harus mengubah kebiasaan ini! Mulai hari ini, berhentilah sibuk mencocokkan video FYP dengan suasana hati kita yang sedang berubah-ubah. Kalau Anda merasa lelah atau cemas, gunakan fasilitas layanan konseling yang ada di sekitar kita, seperti layanan konseling internal kampus, atau bertemu langsung dengan ahlinya di pusat layanan Kesehatan terdekat. Berhenti menjadikan algoritma media sosial sebagai penentu kesehatan jiwa kita. Kesehatan mental Anda terlalu berharga untuk sekadar dijadikan bahan tebak-tebakan di balik layar HP!

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    06/16/20262,336
    Don't Miss
    Opini

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    By admin@kopelmanews.com06/23/20262

    Aceh, Kopelmanews.com – Perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman bagi tradisi. Padahal, dalam banyak kasus,…

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026

    Meuseuraya, Tradisi Lama yang Mulai Memudar di Zaman Sekarang

    06/23/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Ketika Meunasah Tak lagi menjadi Rumah: Menjaga Nilai di Tengah Perubahan Budaya Aceh

    06/23/2026

    Moderasi Beragama di Era Digital: Benteng Harmoni di Tengah Banjir Informasi

    06/23/2026

    Topeng Narsisme: Ketika Kepribadian Menjadi Respons Bertahan Hidup

    06/23/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/20264,303

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,207

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,787
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.