Aceh, Kopelmanews.com – Kasur sering kali menjadi tempat pertama yang kita tuju ketika realitas perkuliahan mulai terasa meletihkan. Jauh sebelum istilah-istilah modern di media sosial lahir, merebahkan diri di dalam kamar selalu berhasil diadopsi sebagai ruang aman instan bagi mahasiswa yang sedang mengalami kelelahan mental. Banda Aceh (21/06/2026)
Menariknya, fenomena ini justru paling banyak ditemukan pada kalangan mahasiswa. Padahal, jika ditinjau dari fase perkembangan psikologis, mahasiswa sudah memasuki tahapan dewasa muda (young adulthood).
Secara kognitif dan emosional, mereka adalah individu yang seharusnya sudah memiliki kesadaran penuh akan tanggung jawab, konsekuensi, serta realitas hidup yang sedang dihadapi. Namun, di sinilah letak paradoksnya: meskipun mereka sudah sangat sadar bahwa tugas menumpuk dan masalah harus diselesaikan, perilaku penarikan diri ini tetap saja dilakukan dengan sengaja.
Ketika beban perkuliahan semakin berat atau sebuah permasalahan interpersonal terasa menemui jalan buntu, secara psikologis mereka justru secara refleks mencari tempat perlindungan yang paling nyaman dan minim usaha.
Tren penamaan baru seperti “bed rotting” belakangan ini hadir untuk menormalisasi perasaan tersebut secara berlebihan. Fenomena rebahan dalam kondisi sadar selama berjam-jam ini kerap dipromosikan sebagai bentuk perawatan diri (self-care) yang sah. Kita perlu melihat lebih dalam: mengapa individu yang sudah sadar dan dewasa ini justru memilih untuk menjadikan ruang aman tersebut sebagai tameng pelarian dari masalah yang sedang stagnan?
Sebenarnya, terdapat batasan yang sangat jelas antara beristirahat untuk pemulihan energi dengan perilaku merebahkan diri yang beralih fungsi sebagai ruang pelarian. Istirahat yang sehat memiliki tujuan pemulihan yang jelas.
Setelah mengambil jeda, pikiran dan tubuh kita akan merasa lebih segar, dan kita siap untuk kembali menghadapi realitas perkuliahan atau organisasi. Sebaliknya, ketika seorang dewasa muda memilih untuk menetap di atas kasur karena terjebak dalam masalah yang stagnan, seperti konflik yang belum selesai, tekanan tugas akhir, atau kecemasan akan masa depan, fungsi kasur telah bergeser. Ia bukan lagi fasilitas pemulihan biologis, melainkan sebuah benteng pertahanan untuk menolak menghadapi kenyataan yang memicu kecemasan.
Secara psikologis, ketika kita dihadapkan pada situasi yang stagnan dan kita merasa tidak berdaya untuk mengubahnya, ego kita cenderung mencari zona nyaman untuk menghentikan waktu secara sepihak. Menetap di atas kasur sembari mengalihkan pikiran dengan gawai (doom scrolling) adalah pilihan penyelesaian yang paling instan untuk mematikan rasa cemas tersebut. Sayangnya, ini merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri yang tidak adaptif.
Alih-alih menyelesaikan masalah utama yang membuat kita lelah, perilaku ini justru menciptakan lingkaran setan baru. Kita mengisolasi diri di kamar karena cemas terhadap masalah yang menumpuk, tetapi semakin lama kita diam di sana, masalah tersebut justru semakin terbengkalai dan membuat kita semakin cemas saat harus melihatnya kembali.
Jika ditinjau dari perspektif kesehatan mental, perilaku penarikan diri ke atas tempat tidur ini sering kali tumpang tindih dengan indikator distres emosional. Banyak orang yang terjebak dalam siklus ini tanpa menyadari adanya penurunan fungsi afektif dan motivasi dalam diri mereka.
Ketika kenyamanan fisik kasur dijadikan satu-satunya pelarian dari tekanan lingkungan, individu rentan mengalami penurunan kontrol emosi. Pola ini jika dibiarkan akan memperparah kelelahan kognitif. Alih-alih menyembuhkan stres, perilaku isolasi yang berkepanjangan di atas kasur justru berpotensi menurunkan kemampuan individu dalam melakukan regulasi emosi secara sehat.
Bahaya tersembunyi dari populernya istilah ini sekarang adalah bagaimana sebuah perilaku pelarian dikemas begitu manis seolah-olah itu adalah tindakan menyayangi diri sendiri yang sah untuk dilakukan kapan pun. Banyak mahasiswa yang tidak menyadari bahwa mereka sedang menggunakan kenyamanan kasur untuk menunda resolusi konflik atau komunikasi interpersonal yang krusial.
Ketika menghadapi kelelahan perkuliahan ekstrem (burnout), dorongan untuk tidak melakukan apa-apa memang sangat besar. Namun, mengurung diri di atas kasur tanpa batas waktu yang jelas justru dapat memperburuk keadaan psikologis. Kita terjebak dalam ilusi “istirahat”, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah mogok dari keharusan untuk bergerak dan mencari solusi. Masalah yang stagnan tidak akan pernah selesai hanya dengan dibungkus oleh selimut yang hangat.
Fenomena ini juga mencerminkan bagaimana dinamika lingkungan modern dan tekanan digital dapat memengaruhi perilaku sehari-hari kita. Media sosial memberikan validasi kolektif yang membuat perilaku penarikan diri ini terasa normal dan menyenangkan. Akibatnya, alih-alih menghadapi tantangan di dunia nyata, anak muda cenderung memilih untuk tinggal di dalam zona nyaman buatan mereka.
Pola perilaku pasif ini lambat laun mengikis daya tahan mental kita dalam menghadapi konflik. Istirahat harian yang seharusnya menjadi sarana mengumpulkan energi, kini telah terdistorsi menjadi ruang isolasi yang menjauhkan kita dari realitas sosial.
Pada akhirnya, kasur yang nyaman bisa menjadi tempat istirahat terbaik, tetapi ia juga bisa menjadi tempat persembunyian yang paling menipu. Sebagai mahasiswa yang sedang berproses menjadi dewasa muda, kita harus mulai lebih jujur dan peka dalam membedakan mana tindakan yang benar-benar memulihkan energi, dan mana yang merupakan bentuk keputusasaan mental yang sedang menolak realitas.
Berhentilah bersembunyi di balik tameng estetika merawat diri yang palsu jika hal tersebut justru menumpuk kecemasan di masa depan. Masalah yang stagnan tidak akan selesai dengan cara ditinggal tidur, ia hanya akan selesai ketika kita berani melipat selimut, turun dari tempat tidur, dan mulai mengambil satu langkah kecil untuk menghadapi kenyataan.

