Close Menu
    What's Hot

    GMNI Medan Apresiasi Langkah Wali Kota Medan Percepat Pembangunan Jembatan Gang Damai, Tekankan Realisasi dan Keselamatan Warga

    04/22/2026

    Program Beasiswa Khusus Mahasiswa Internasional Universitas Malikussaleh

    03/31/2026

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Kamis, April 30
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai
    Pendidikan

    Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com04/30/2026Updated:04/30/2026Tidak ada komentar74 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Melly Hasana, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan-Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Ada yang ganjil dengan pendidikan kita. Nilai makin tinggi, tetapi kepekaan sosial terasa menurun. Sertifikat makin banyak, tetapi kebijaksanaan justru tampak langka. Sekolah dipuji karena menghasilkan angka-angka gemilang, sementara kita diam melihat lulusan yang cerdas secara teknis, tetapi gamang menghadapi persoalan hidup. Di titik ini, kita perlu jujur: apakah pendidikan kita masih mendidik manusia, atau hanya memproduksi hasil? Banda Aceh (30/4/2026)

    Realitas di lapangan menunjukkan arah yang makin sempit. Sekolah sibuk mengejar target kurikulum, guru dibebani administrasi yang tak kunjung selesai, dan siswa hidup dalam tekanan ujian yang terus berulang. Waktu belajar habis untuk menyelesaikan soal, bukan memahami makna. Diskusi tergantikan oleh hafalan, rasa ingin tahu kalah oleh tuntutan nilai. Pendidikan berubah menjadi rutinitas mekanis: masuk kelas, mencatat, mengerjakan, diuji, selesai.

    Dalam sistem seperti ini, keberhasilan didefinisikan secara dangkal: siapa nilainya tinggi, dia dianggap berhasil. Padahal, kehidupan tidak pernah sesederhana itu. Dunia nyata tidak menanyakan berapa skor ujian seseorang, tetapi bagaimana ia berpikir, mengambil keputusan, dan bersikap terhadap orang lain. Di sinilah letak kegagalan paling mendasar: pendidikan kita terlalu sibuk menjawab soal, tetapi lupa mengajarkan cara menghadapi kehidupan.

    Kritik terhadap model pendidikan seperti ini bukan hal baru. Paulo Freire menyebutnya sebagai “banking education” yaitu pendidikan yang memperlakukan siswa seperti wadah kosong. Sementara John Dewey menekankan bahwa belajar harus berangkat dari pengalaman, bukan hafalan. Bahkan Ki Hajar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun, bukan menekan.

    Namun, jika ditarik lebih dalam, pendidikan Indonesia hari ini sebenarnya berdiri di atas paradoks filosofis. Di atas kertas, ia mengusung semangat progresivisme yang membebaskan dan humanisme yang memanusiakan. Akan tetapi, dalam praktik, yang dominan justru pendekatan esensialisme yang kaku berorientasi pada standar, nilai, dan keseragaman.

    Sistem menuntut capaian terukur, guru dikejar target, dan siswa dibentuk agar sesuai indikator. Akibatnya, pendidikan kehilangan arah: ingin membentuk manusia merdeka, tetapi menggunakan cara yang membatasi.

    Di titik ini, perlu ditegaskan, yang bermasalah bukan hanya sistemnya, tetapi juga cara kita menerimanya tanpa kritik. Kita terlalu cepat menganggap angka sebagai kebenaran, seolah-olah nilai tinggi otomatis mencerminkan kualitas manusia. Padahal, angka hanya menunjukkan sebagian kecil dari realitas belajar. Ketika masyarakat, sekolah, dan bahkan orang tua sama-sama terobsesi pada nilai, maka pendidikan pun kehilangan ruang untuk tumbuh secara utuh.

    Memang, ada tekanan globalisasi dan kebutuhan ekonomi yang mendorong lahirnya sistem berbasis standar. Negara membutuhkan indikator, dunia kerja menuntut kepastian, dan masyarakat menginginkan hasil yang jelas. Namun, menjadikan angka sebagai pusat dari segala-galanya adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Apa yang mudah diukur akhirnya dianggap paling penting, sementara yang paling penting justru tidak pernah benar- benar diukur.

    Dampaknya kini nyata. Banyak siswa belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut gagal. Sekolah tidak lagi menjadi ruang eksplorasi, melainkan arena tekanan. Kita menghasilkan generasi yang terbiasa mengikuti, tetapi tidak terbiasa mempertanyakan. Jika ini terus dibiarkan, pendidikan tidak hanya kehilangan makna, tetapi juga kehilangan masa depan.

    Karena itu, perubahan tidak bisa setengah hati. Kita tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum atau mengganti istilah evaluasi. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang. Guru harus dikembalikan pada perannya sebagai pendidik yang membangun kesadaran, bukan sekadar penyampai materi. Beban administratif yang tidak relevan harus dipangkas secara serius, bukan sekadar dikurangi di atas kertas.

    Lebih dari itu, sistem evaluasi harus berani keluar dari zona nyaman angka. Penilaian harus mencakup cara berpikir, sikap, dan kemampuan menghadapi masalah nyata. Jika tidak, kita hanya akan terus mengulang pola yang sama dengan wajah yang berbeda.

    Pada akhirnya, kita harus berani mengambil posisi, pendidikan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika angka. Angka penting, tetapi bukan segalanya. Pendidikan adalah tentang manusia tentang bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.

    Jika sekolah hanya menjadi pabrik nilai, maka yang kita hasilkan bukan manusia utuh, melainkan produk yang siap diuji tetapi tidak siap hidup. Dan jika itu terus kita biarkan, maka yang sedang kita bangun bukan masa depan, melainkan krisis yang tertunda.

    Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa nilainya?” dan mulai bertanya, “Menjadi manusia seperti apa ia?” Karena di situlah pendidikan seharusnya menemukan maknanya.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    DEMA FTK UIN Ar-Raniry Resmi Dilantik, Siap Perjuangkan Aspirasi Mahasiswa

    04/29/2026

    DPS dalam Bayang-Bayang Formalitas: Risiko Symbolic Compliance dalam LKS

    04/24/2026

    HMP BSA UIN Ar-Raniry Tutup Kepengurusan 2025 dengan Malam Penganugerahan

    04/09/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,053

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,216
    Don't Miss
    Pendidikan

    Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai

    By admin@kopelmanews.com04/30/202674

    Paulo Freire menyebutnya sebagai “banking education” yaitu pendidikan yang memperlakukan siswa seperti wadah kosong

    DEMA FTK UIN Ar-Raniry Resmi Dilantik, Siap Perjuangkan Aspirasi Mahasiswa

    04/29/2026

    DPS dalam Bayang-Bayang Formalitas: Risiko Symbolic Compliance dalam LKS

    04/24/2026

    GMNI Medan Apresiasi Langkah Wali Kota Medan Percepat Pembangunan Jembatan Gang Damai, Tekankan Realisasi dan Keselamatan Warga

    04/22/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Pendidikan Tanpa Jiwa: Ketika Sekolah Menjadi Pabrik Nilai

    04/30/2026

    DEMA FTK UIN Ar-Raniry Resmi Dilantik, Siap Perjuangkan Aspirasi Mahasiswa

    04/29/2026

    DPS dalam Bayang-Bayang Formalitas: Risiko Symbolic Compliance dalam LKS

    04/24/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,188

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,733

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,053
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.