Aceh, Kopelmanews.com – Ada yang ganjil dengan pendidikan kita. Nilai makin tinggi, tetapi kepekaan sosial terasa menurun. Sertifikat makin banyak, tetapi kebijaksanaan justru tampak langka. Sekolah dipuji karena menghasilkan angka-angka gemilang, sementara kita diam melihat lulusan yang cerdas secara teknis, tetapi gamang menghadapi persoalan hidup. Di titik ini, kita perlu jujur: apakah pendidikan kita masih mendidik manusia, atau hanya memproduksi hasil? Banda Aceh (30/4/2026)
Realitas di lapangan menunjukkan arah yang makin sempit. Sekolah sibuk mengejar target kurikulum, guru dibebani administrasi yang tak kunjung selesai, dan siswa hidup dalam tekanan ujian yang terus berulang. Waktu belajar habis untuk menyelesaikan soal, bukan memahami makna. Diskusi tergantikan oleh hafalan, rasa ingin tahu kalah oleh tuntutan nilai. Pendidikan berubah menjadi rutinitas mekanis: masuk kelas, mencatat, mengerjakan, diuji, selesai.

Dalam sistem seperti ini, keberhasilan didefinisikan secara dangkal: siapa nilainya tinggi, dia dianggap berhasil. Padahal, kehidupan tidak pernah sesederhana itu. Dunia nyata tidak menanyakan berapa skor ujian seseorang, tetapi bagaimana ia berpikir, mengambil keputusan, dan bersikap terhadap orang lain. Di sinilah letak kegagalan paling mendasar: pendidikan kita terlalu sibuk menjawab soal, tetapi lupa mengajarkan cara menghadapi kehidupan.
Kritik terhadap model pendidikan seperti ini bukan hal baru. Paulo Freire menyebutnya sebagai “banking education” yaitu pendidikan yang memperlakukan siswa seperti wadah kosong. Sementara John Dewey menekankan bahwa belajar harus berangkat dari pengalaman, bukan hafalan. Bahkan Ki Hajar Dewantara telah lama mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun, bukan menekan.
Namun, jika ditarik lebih dalam, pendidikan Indonesia hari ini sebenarnya berdiri di atas paradoks filosofis. Di atas kertas, ia mengusung semangat progresivisme yang membebaskan dan humanisme yang memanusiakan. Akan tetapi, dalam praktik, yang dominan justru pendekatan esensialisme yang kaku berorientasi pada standar, nilai, dan keseragaman.
Sistem menuntut capaian terukur, guru dikejar target, dan siswa dibentuk agar sesuai indikator. Akibatnya, pendidikan kehilangan arah: ingin membentuk manusia merdeka, tetapi menggunakan cara yang membatasi.
Di titik ini, perlu ditegaskan, yang bermasalah bukan hanya sistemnya, tetapi juga cara kita menerimanya tanpa kritik. Kita terlalu cepat menganggap angka sebagai kebenaran, seolah-olah nilai tinggi otomatis mencerminkan kualitas manusia. Padahal, angka hanya menunjukkan sebagian kecil dari realitas belajar. Ketika masyarakat, sekolah, dan bahkan orang tua sama-sama terobsesi pada nilai, maka pendidikan pun kehilangan ruang untuk tumbuh secara utuh.
Memang, ada tekanan globalisasi dan kebutuhan ekonomi yang mendorong lahirnya sistem berbasis standar. Negara membutuhkan indikator, dunia kerja menuntut kepastian, dan masyarakat menginginkan hasil yang jelas. Namun, menjadikan angka sebagai pusat dari segala-galanya adalah bentuk penyederhanaan yang berbahaya. Apa yang mudah diukur akhirnya dianggap paling penting, sementara yang paling penting justru tidak pernah benar- benar diukur.
Dampaknya kini nyata. Banyak siswa belajar bukan karena ingin tahu, tetapi karena takut gagal. Sekolah tidak lagi menjadi ruang eksplorasi, melainkan arena tekanan. Kita menghasilkan generasi yang terbiasa mengikuti, tetapi tidak terbiasa mempertanyakan. Jika ini terus dibiarkan, pendidikan tidak hanya kehilangan makna, tetapi juga kehilangan masa depan.
Karena itu, perubahan tidak bisa setengah hati. Kita tidak cukup hanya memperbaiki kurikulum atau mengganti istilah evaluasi. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang. Guru harus dikembalikan pada perannya sebagai pendidik yang membangun kesadaran, bukan sekadar penyampai materi. Beban administratif yang tidak relevan harus dipangkas secara serius, bukan sekadar dikurangi di atas kertas.
Lebih dari itu, sistem evaluasi harus berani keluar dari zona nyaman angka. Penilaian harus mencakup cara berpikir, sikap, dan kemampuan menghadapi masalah nyata. Jika tidak, kita hanya akan terus mengulang pola yang sama dengan wajah yang berbeda.
Pada akhirnya, kita harus berani mengambil posisi, pendidikan tidak boleh tunduk sepenuhnya pada logika angka. Angka penting, tetapi bukan segalanya. Pendidikan adalah tentang manusia tentang bagaimana seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak.
Jika sekolah hanya menjadi pabrik nilai, maka yang kita hasilkan bukan manusia utuh, melainkan produk yang siap diuji tetapi tidak siap hidup. Dan jika itu terus kita biarkan, maka yang sedang kita bangun bukan masa depan, melainkan krisis yang tertunda.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Berapa nilainya?” dan mulai bertanya, “Menjadi manusia seperti apa ia?” Karena di situlah pendidikan seharusnya menemukan maknanya.

