Aceh, Kopelmanews.com – Selasar Lantai 1 Gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah mahasiswa terlihat berhenti di depan panel-panel pameran yang menampilkan rajah, jimat, serta catatan pengobatan dari manuskrip kuno Nusantara. Ada yang mengabadikan koleksi dengan telepon genggam, ada pula yang berdiskusi dengan panitia mengenai makna teks yang terpajang. Di tengah arus lalu lalang mahasiswa, ruang tersebut seolah menjelma jendela yang menghubungkan masa kini dengan pengetahuan masa lalu. Yoyakarta (9/6/2024
Suasana itu hadir dalam Pameran Filologi bertajuk “Pusaka Kata”, sebuah pameran kolaboratif yang diselenggarakan oleh mahasiswa Program Magister Sastra dan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM. Kegiatan ini merupakan bentuk tugas akhir dari mata kuliah Filologi, Pernaskahan Jawa, dan Kodikologi yang dirancang untuk memperkenalkan manuskrip Nusantara kepada masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dan mudah dipahami.
Mengusung tema “Pusaka Kata”, pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa naskah bukan sekadar benda warisan masa lalu. Di dalamnya tersimpan kata-kata yang menjadi pusaka pengetahuan bagi masyarakat penciptanya. Warisan tersebut memuat nilai, identitas, pengalaman hidup, hingga sistem pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, merawat naskah tidak hanya berarti menjaga fisiknya, tetapi juga menghidupkan kembali makna yang terkandung di dalamnya.
Salah satu daya tarik utama pameran ini adalah tema kajian yang diangkat. Berbeda dari tema tahun sebelumnya yang menyoroti kosmologi, mahasiswa memilih mengkaji manuskrip yang berkaitan dengan rajah, jimat, serta tradisi pengobatan. Naskah yang digunakan berasal dari koleksi Jawa dan Riau yang telah didigitalisasi oleh British Library. Dari hasil kajian tersebut, mahasiswa menemukan berbagai informasi mengenai praktik pengobatan tradisional yang berkembang di Nusantara pada masa lampau.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa manuskrip Nusantara bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan sumber pengetahuan yang masih relevan hingga sekarang. Dalam berbagai naskah tersimpan informasi mengenai pengobatan herbal, sistem pengetahuan lokal, hingga nilai-nilai kehidupan yang pernah menjadi pedoman masyarakat. Melalui kajian filologi, pengetahuan tersebut dapat dibaca kembali, ditafsirkan, dan dikontekstualisasikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini.

Ketua panitia, M. Erlangga Subekti, mengatakan bahwa pameran ini tidak hanya diselenggarakan sebagai bentuk tugas akhir mata kuliah Filologi, Pernaskahan Jawa, dan Kodikologi, tetapi juga lahir dari kegelisahan terhadap semakin jauhnya generasi muda dari manuskrip Nusantara. Menurutnya, banyak anak muda yang mengenal naskah kuno hanya sebagai benda bersejarah tanpa memahami pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Melalui Pusaka Kata, panitia berupaya menghadirkan kembali warisan intelektual tersebut dalam bentuk yang lebih dekat, menarik, dan mudah dipahami masyarakat.
“Banyak generasi muda saat ini yang tidak lagi bisa membaca atau memahami isi naskah kuno. Melalui Pusaka Kata, kami ingin menghidupkan kembali kata-kata masa lalu itu agar kembali bermakna, bisa dibaca, dan relevan dengan kehidupan generasi sekarang,”
ujar Muhammad Erlangga Subekti
Erlangga menambahkan, tantangan terbesar selama persiapan bukan terletak pada aspek teknis penyelenggaraan, melainkan bagaimana menghadirkan warisan manuskrip agar terasa dekat dengan masyarakat modern. Tantangan tersebut semakin besar karena panitia harus mengemas materi akademik yang kompleks menjadi sajian yang menarik dan mudah dipahami pengunjung.

Persiapan pameran dimulai sejak 19 Mei 2026. Mahasiswa dari berbagai kelas dan jenjang pendidikan bekerja sama menyusun konsep, membagi tugas, menyiapkan materi, hingga mengatur tata ruang pameran. Untuk memastikan seluruh rangkaian berjalan dengan baik, panitia mengadakan evaluasi secara rutin setiap minggu dengan pendampingan langsung dari dosen pengampu, Dr. Arsanti Wulandari, M.Hum dan Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.
Sebagai bentuk evaluasi pembelajaran, metode pameran dipilih karena mampu mengukur kompetensi mahasiswa secara lebih menyeluruh dibandingkan ujian tertulis. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga harus mampu mengkurasi materi, menyusun narasi, mengelola ruang pameran, serta berinteraksi langsung dengan pengunjung. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hadir dalam bentuk pengabdian ilmu kepada masyarakat.
Pentingnya upaya pelestarian manuskrip juga disampaikan oleh berbagai akademisi yang hadir dalam pembukaan pameran. Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia FIB UGM, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut dan berharap pameran serupa dapat berlangsung lebih lama agar menjangkau lebih banyak masyarakat.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Sastra UGM, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menekankan bahwa naskah tidak boleh berhenti pada tahap interpretasi semata, melainkan harus mampu menjadi sumber gagasan dalam menghadapi tantangan masa kini.
Hal senada disampaikan Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. yang menyoroti masih banyaknya manuskrip Nusantara yang belum diteliti.
“Banyak sekali manuskrip lama yang tidak tersentuh, bahkan sampai hancur tapi belum sempat diinterpretasikan isi kandungannya. Ini terjadi karena masih sedikitnya ahli filologi di Indonesia,” ujarnya.
Antusiasme pengunjung menjadi salah satu indikator keberhasilan pameran ini. Tidak hanya dihadiri mahasiswa dan akademisi UGM, kegiatan tersebut juga menarik perhatian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain, termasuk Universitas Islam Indonesia dan Universitas Islam Negeri. Bahkan, sejumlah pengunjung berharap pameran dapat diselenggarakan lebih dari satu hari karena materi yang disajikan dinilai menarik dan membuka wawasan baru.

Vanessa, salah seorang pengunjung, mengaku memperoleh perspektif baru setelah melihat koleksi yang dipamerkan.
“Melihat rajah, jimat, dan formula obat-obatan yang tercatat dalam manuskrip kuno membuat saya sadar bahwa masyarakat zaman dahulu sudah memiliki pemikiran yang sangat maju. Mereka telah mengembangkan sistem sains dan spiritualitasnya sendiri untuk menjawab tantangan zamannya,” ungkapnya.
Pengunjung lainnya, Ricky, mahasiswa S-3 Ilmu-Ilmu Humaniora UGM, menilai pameran ini membuka perspektif baru mengenai posisi manuskrip sebagai sumber pengetahuan.
“Selama ini manuskrip sering dipahami sebagai objek sejarah atau budaya semata. Padahal, di dalamnya tersimpan berbagai sistem pengetahuan yang pernah berkembang di masyarakat. Tradisi pengobatan, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana nenek moyang kita membangun pengetahuan dan merespons persoalan kehidupan pada zamannya,” katanya.
Melalui Pusaka Kata, mahasiswa FIB UGM berupaya menunjukkan bahwa warisan leluhur yang paling berharga bukan hanya lembaran naskah yang tersimpan di rak perpustakaan, melainkan gagasan, pengetahuan, dan nilai yang hidup di dalamnya. Ketika manuskrip kembali dibaca, dipahami, dan diperkenalkan kepada masyarakat, kata-kata yang diwariskan para leluhur tidak lagi menjadi peninggalan yang diam.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Pusaka Kata menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu harus dicari jauh ke depan. Sebagian jawabannya mungkin telah dituliskan para leluhur dalam lembar-lembar manuskrip yang kini kembali dibaca oleh generasi muda. Dengan cara itulah, warisan intelektual Nusantara dapat terus hidup dan diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(Rini Febriani Hauri)

