Penulis: admin@kopelmanews.com
Aceh, kopelmanews.com — Prestasi membanggakan diraih Duratul Irfana dari kafilah Aceh Besar pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXVII Tingkat Provinsi Aceh tahun 2025. Duratul Irfana, remaja putri asal Aceh Besar, yang berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Juara 1 Cabang Khat Hiasan Mushaf Putri. Ajang bergengsi yang digelar di Kabupaten Pidie Jaya ini menjadi saksi ketekunan dan dedikasi Duratul dalam mengasah bakatnya di bidang seni kaligrafi Al-Qur’an. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat mendalam terhadap dunia seni, terutama seni lukis dan kaligrafi. Dengan prestasi ini, Duratul Irfana tidak hanya mengharumkan nama Aceh Besar, tetapi juga memperkuat eksistensi para kaligrafer…
Selama masa karantina nasional, keduanya juga berhasil mengantongi sejumlah penghargaan tambahan, antara lain Top 3 Best PPA, Top 3 Best Video Introduction, Duwis of The Day, serta Top 3 Best Suit yang diraih oleh Agam Faiz.
Kami ingin siswa tidak hanya sekadar menghafal teori dan praktik mesin, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan inovatif. Alam telah menyelesaikan banyak masalah teknik selama jutaan tahun.
Apakah manusia masih menjadi pusat kecerdasan di dunia modern ini?
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi fenomena paling signifikan dalam sejarah peradaban.
Fenomena “teknologi lebih cepat dari guru” tidak hanya persoalan keterampilan teknis, tetapi juga paradigma.
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
Budaya peumulia jamee atau memuliakan tamu merupakan salah satu nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh. Sejak dahulu, orang Aceh dikenal sebagai bangsa yang terbuka terhadap pendatang, baik yang datang untuk berdagang, menuntut ilmu, maupun menyebarkan agama.
Ternyata, ruang yang kita sebut “maya” tidak pernah benar-benar maya. Ia hidup dan bekerja di antara kita, menyentuh batin, menembus batas daging dan pikiran.
Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya “di depan memberi contoh yang baik, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”
Daripada sekadar melarang atau membiarkan, pemerintah perlu merancang kebijakan yang lebih bijaksana.
