Aceh, Kopelmanews.com – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan yang tidak terduga ini memunculkan perhatian pelaku pasar karena dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap independensi bank sentral serta arah kebijakan ekonomi Indonesia. (27/07/2026
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menerima surat pengunduran diri Perry sebelum pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Sebagai pelaksana tugas, pemerintah menunjuk Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, yang menjelaskan bahwa pengunduran diri tersebut didasari alasan pribadi.
Sesaat setelah pengumuman, nilai tukar rupiah sempat melemah 0,14 persen hingga mencapai Rp17.960 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 0,68 persen sebelum akhirnya berbalik menguat 0,26 persen pada pukul 09.09 WIB.
Menurut Angus Mackintosh, analis ASEAN dari Aletheia Capital di Singapura, pasar kemungkinan akan memberikan respons negatif karena Perry selama ini dipandang sebagai figur yang mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan rekam jejak yang baik. Ia menilai arah pergerakan pasar berikutnya sangat bergantung pada sosok yang akan ditetapkan sebagai gubernur definitif.
Mackintosh menambahkan bahwa apabila Thomas Djiwandono, yang saat ini menjabat sebagai Deputi Gubernur BI, dipilih menjadi gubernur, pasar diperkirakan akan mencermati keputusan tersebut secara hati-hati mengingat posisi Gubernur BI merupakan jabatan teknokrat yang menuntut independensi tinggi.
Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa Perry menyerahkan surat pengunduran dirinya secara langsung kepada Presiden. Namun, pemerintah tidak mengungkapkan lebih lanjut alasan pribadi yang menjadi dasar keputusan tersebut. Hingga kini, Perry juga belum memberikan pernyataan kepada publik.
Perry Warjiyo mulai menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2018 dan kembali dipercaya memimpin BI untuk periode kedua pada 2023.
Belakangan ini, Bank Indonesia menghadapi tantangan untuk tetap menjaga stabilitas moneter di tengah dorongan pemerintah agar lebih mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi. Pada Juni lalu, rupiah sempat mencapai titik terlemah akibat tekanan pasar global serta meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan independensi BI.
Selain itu, DPR baru saja mengesahkan perubahan regulasi yang memperkuat peran Bank Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan kewenangan lebih besar kepada parlemen untuk mengeluarkan rekomendasi yang mengikat bagi regulator sektor keuangan, termasuk BI.
Menanggapi situasi tersebut, Destry Damayanti memastikan seluruh tugas dan fungsi Bank Indonesia akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. BI, menurutnya, akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat sistem keuangan, serta menerapkan kebijakan sesuai standar internasional.
Sebelumnya, BI juga sempat mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga acuan dan memilih memberikan berbagai insentif guna menarik arus modal asing untuk mendukung penguatan rupiah. Langkah tersebut dilakukan setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar total 100 basis poin sejak Mei.
Mirae Asset Sekuritas menilai perkembangan ini akan menjadi fokus utama investor. Pelaku pasar kini menunggu penunjukan gubernur baru sekaligus mengamati dampaknya terhadap kesinambungan kebijakan moneter, kredibilitas Bank Indonesia, dan arah kebijakan ekonomi nasional.
Situasi ini mengingatkan pada gejolak pasar tahun lalu ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati diberhentikan secara mendadak. Saat itu, investor menaruh perhatian besar terhadap keberlanjutan disiplin fiskal di tengah rencana belanja pemerintah yang dinilai semakin ekspansif.
Ikuti saluran WhatsApp KOPELMANEWS untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

