Aceh, Kopelmanews.com – Siapa yang tidak pernah membayangkan masa depan yang lebih baik setelah lulus kuliah? Sejak awal masuk kampus, banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa gelar sarjana akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mapan. Kita belajar, mengejar nilai, aktif berorganisasi, mengikuti berbagai pelatihan, bahkan rela begadang demi menyelesaikan tugas karena percaya bahwa semua usaha itu suatu hari akan terbayar. Banda Aceh (17/06/2026)
Namun, benarkah kenyataannya sesederhana itu? Bagi generasi sebelumnya, kuliah sering dianggap sebagai tiket menuju masa depan yang lebih baik. Lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan, lalu menjalani kehidupan yang stabil seolah menjadi alur yang sudah pasti. Sayangnya, realitas yang dihadapi banyak anak muda saat ini tidak lagi sesederhana itu.
Setelah toga dilepas dan foto wisuda diunggah ke media sosial, banyak lulusan justru berhadapan dengan kecemasan baru. Lamaran kerja yang tak kunjung mendapat balasan, persaingan yang semakin ketat, hingga biaya hidup yang terus meningkat membuat masa depan terasa jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan saat masih duduk di bangku kuliah.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat banyak anak muda merasa cemas? Kenyataannya, kekhawatiran tersebut bukan muncul tanpa alasan. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka tertinggi masih berada pada kelompok usia muda.
Pada usia 15–19 tahun, tingkat pengangguran mencapai sekitar 23–26 persen, sementara pada kelompok usia 20–24 tahun berada di kisaran 14–17 persen. Bahkan, sebagian besar pengangguran nasional berasal dari penduduk berusia di bawah 30 tahun. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa memasuki dunia kerja masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda, termasuk mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Di saat yang sama, tekanan ekonomi juga semakin terasa. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah Indonesia menurun dari sekitar 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024. Bagi banyak anak muda, kondisi ini menimbulkan pertanyaan baru. Jika mendapatkan pekerjaan saja sudah sulit, apakah pekerjaan tersebut nantinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat?
Tidak heran jika banyak anak muda mulai merasa cemas terhadap masa depannya. Kondisi ini sering dikenal sebagai future anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika seseorang terus memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kondisi ekonomi, harapan keluarga, hingga ketakutan tertinggal dari teman sebaya perlahan menjadi beban yang terus dibawa ke mana-mana.
Barangkali sebagian dari kita pernah merasakan hal ini. Setelah lulus kuliah, hari-hari tidak lagi dipenuhi jadwal perkuliahan atau tugas yang harus dikumpulkan. Sebaliknya, yang muncul justru pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Kapan mendapat pekerjaan? Apakah pilihan karier yang diambil sudah tepat? Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika ternyata hidup tidak berjalan sesuai rencana?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian anak muda, pertanyaan tersebut bisa terus berputar di kepala bahkan sebelum mereka memejamkan mata di malam hari.
Kecemasan tersebut bukan sekadar perasaan pribadi yang dialami satu atau dua orang. Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Data ini menjadi pengingat bahwa tekanan psikologis yang dialami generasi muda merupakan persoalan yang nyata dan perlu mendapat perhatian bersama.
Seolah belum cukup, tekanan itu juga datang dari tempat yang setiap hari ada di genggaman kita: media sosial. Setiap hari kita melihat teman yang diterima bekerja di perusahaan impian, memperoleh beasiswa ke luar negeri, membangun bisnis yang berkembang, atau membagikan berbagai pencapaian lainnya. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan proses hidup sendiri dengan hasil akhir yang ditampilkan orang lain.
Padahal, yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari cerita seseorang. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat kegagalan, penolakan, atau perjuangan panjang yang mungkin mereka lalui sebelumnya. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertinggal hanya karena hidup mereka tidak berjalan secepat yang mereka lihat di layar ponsel.
Yang lebih mengkhawatirkan justru bukan sekadar sulitnya mencari pekerjaan. Persoalan yang lebih besar adalah mulai pudarnya rasa aman yang dulu dimiliki banyak anak muda terhadap masa depan mereka. Dahulu, kerja keras terasa cukup untuk membuat seseorang optimis. Hari ini, banyak anak muda sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetap dihantui pertanyaan yang sama: bagaimana jika semua usaha ini ternyata belum cukup?
Mungkin karena itulah banyak anak muda hari ini terlihat baik-baik saja di luar, tetapi menyimpan banyak kekhawatiran di dalam. Mereka tersenyum saat wisuda, mengunggah foto pencapaian di media sosial, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Namun pada saat yang sama, mereka juga sedang memikirkan masa depan yang belum pasti, pekerjaan yang belum didapatkan, dan harapan-harapan yang belum tentu mudah diwujudkan.
Karena itu, persoalan ini perlu dilihat secara lebih utuh. Generasi muda tidak hanya membutuhkan lebih banyak peluang kerja, tetapi juga lingkungan yang lebih suportif dan ruang yang lebih aman untuk membicarakan kecemasan mereka. Tidak semua orang akan mendapatkan pekerjaan impiannya segera setelah lulus. Tidak semua orang akan mencapai keberhasilan pada usia yang sama. Dan itu bukanlah sebuah kegagalan.
Gelar sarjana memang dapat membuka banyak pintu kesempatan. Namun, masa depan tidak pernah ditentukan oleh selembar ijazah semata. Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, mungkin yang paling dibutuhkan generasi muda saat ini bukanlah jaminan bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana, melainkan keyakinan bahwa mereka tetap mampu bertahan, beradaptasi, dan menemukan jalannya sendiri. Sebab , bukan mereka yang memiliki masa depan paling pasti yang akan bertahan, melainkan mereka yang tetap berani melangkah meski tidak mengetahui dengan pasti apa yang menanti di depan.

