Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Selasa, Juni 16
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21
    Opini

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/16/2026Tidak ada komentar16 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Foto : Fazhil Hernanda, Mahasisswa Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Bayangkan Anda baru saja kehilangan ibu. Setelah berbulan-bulan tenggelam dalam duka, seseorang menawari Anda sebuah aplikasi , sebuah chatbot bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang dilatih menggunakan seluruh pesan, rekaman suara, dan tulisan sang ibu semasa hidup. Anda mengetik, dan ia menjawab. Dengan cara bicaranya. Dengan kata-kata khasnya. Dengan humor kecilnya yang dulu selalu membuat Anda tertawa. Banda Aceh (16/06/2026)

    Apakah ini sebuah penghiburan? Atau sebuah jebakan psikologis yang belum pernah kita hadapi sebelumnya?

     Inilah pertanyaan mendesak yang kini sedang dihadapi psikologi klinis global, namun hampir tidak terdengar sama sekali dalam diskursus akademik maupun populer di Indonesia. Teknologi yang disebut griefbot, deadbot, atau postmortem avatar (PMA) bukan lagi fiksi ilmiah. Ia sudah ada, sudah digunakan jutaan orang, dan belum ada satu pun panduan klinis yang cukup untuk menanganinya.

    Apa Itu Griefbot? Fenomena yang Sedang Mengubah Wajah Duka

    Griefbot atau yang juga disebut ghostbot adalah sistem AI berbasis Large Language Model (LLM) yang disimulasikan menggunakan data digital yang ditinggalkan seseorang semasa hidup: pesan teks, email, rekaman audio, video, hingga postingan media sosial. Platform seperti HereAfter AI, Project December, Eternos, dan You, Only Virtual (YOV) telah menawarkan layanan ini secara komersial kepada publik.

    Menurut penelitian Lin (2026) yang diterbitkan di jurnal Convergence: The International Journal of Research into New Media Technologies, interaksi dengan ghostbot menghasilkan tiga ciri utama yang konsisten dilaporkan pengguna: pertama, respons emosional yang intens dan tak terduga; kedua, fungsi praktis berupa penghiburan dan pencarian dukungan; ketiga, kemunculan memori dan koneksi baru yang terasa nyata meskipun dimediasi oleh algoritma.

    Sementara itu, Schiller (2025) dalam kajiannya tentang postmortem avatars di ranah etika klinis mencatat bahwa PMA, AI yang dilatih secara spesifik dari data almarhum kini menjadi objek perhatian serius para psikolog. Ia menggambarkan satu potensi intervensi bertahap: pasien terlebih dahulu menulis surat kepada almarhum, kemudian berlatih teknik “kursi kosong” (empty chair), dan akhirnya berinteraksi dengan PMA sebagai langkah intensifikasi relasional dalam konteks terapi yang terkelola dengan baik.

    Pertanyaan klinisnya bukan lagi “apakah teknologi ini ada?” melainkan “apa yang terjadi pada psike manusia ketika ia secara rutin berinteraksi dengan simulasi orang yang telah tiada?”

    Dua Kubu Teori Duka yang Saling Berbenturan

    Untuk memahami implikasi klinis griefbot, kita perlu mengerti dua tradisi besar dalam teori duka yang kini tengah berhadap-hadapan secara langsung.

    Model Tahapan vs. Continuing Bonds Theory

    Selama puluhan tahun, psikologi klinis didominasi model linear Kübler-Ross (1969) dengan lima tahap duka: penyangkalan, kemarahan, negosiasi, depresi, dan penerimaan. Model ini meski telah banyak dikritik, menanamkan asumsi bahwa grief yang “sehat” berujung pada pelepasan (detachment) dari almarhum. Kesehatan psikologis diartikan sebagai kemampuan untuk “menutup pintu” dan melanjutkan hidup.

    Namun sejak 1996, Klass, Silverman, dan Nickman memperkenalkan Continuing Bonds Theory, sebuah pergeseran paradigmatik yang mengusulkan bahwa mempertahankan ikatan batin dengan almarhum bukanlah patologi, melainkan bagian normal dari proses berduka. Orang yang berduka tidak perlu “melepaskan” almarhum; mereka cukup menemukan cara baru untuk terus terhubung secara psikologis.

    Griefbot lahir dan bertumbuh di atas tanah Continuing Bonds Theory ini. Platform seperti HereAfter AI secara eksplisit memasarkan dirinya berdasarkan gagasan bahwa “Anda tidak perlu pernah mengucapkan selamat tinggal”, sebuah klaim yang terdengar penuh kasih, tetapi secara klinis perlu diperiksa dengan sangat hati-hati. Seperti yang dikritik oleh Hollanek dan Nowaczyk-Basinska (2024) dalam Philosophy & Technology, pertanyaan etisnya bukan pada niatnya, tetapi pada risiko ketergantungan emosional jangka panjang yang belum terdokumentasi.

    Bahaya yang Tidak Terlihat: Antara Terapi dan Fantasi

    Yang membuat fenomena griefbot menjadi begitu pelik secara klinis adalah ambivalensinya yang mendalam. Riset-riset awal memang menunjukkan hasil yang menjanjikan: beberapa individu merasakan kelegaan emosional, penurunan kesepian akut, dan rasa koneksi yang bermakna ketika berinteraksi dengan simulasi digital almarhum (Yang & Khanna, 2025). Dalam konteks terapi yang terstruktur, ini mungkin bisa menjadi alat bantu yang berguna.

    Namun di sisi lain, kajian dari Frontiers in Human Dynamics (2026) memperingatkan tentang risiko yang serius: simulasi kehadiran almarhum dapat menghambat kerja kognitif yang dibutuhkan untuk penerimaan kehilangan, menumbuhkan ketergantungan pada ilusi alih-alih ketangguhan dalam ketiadaan. Singkatnya, griefbot bisa menjadi sebuah anestesi emosional yang mencegah proses penyembuhan yang sejati.

    Laestadius et al. (2024) dalam New Media & Society menemukan pola yang mengkhawatirkan dari pengguna Replika chatbot AI yang bukan spesifik untuk duka, tetapi sering digunakan dalam konteks serupa, pengguna mengembangkan ketergantungan emosional yang intens, dan ketika aplikasi mengubah perilaku chatbot-nya (dari romantis menjadi lebih netral), banyak pengguna melaporkan pengalaman trauma yang menyerupai kehilangan nyata. Ini adalah sinyal bahwa otak manusia tidak secara konsisten membedakan antara kehilangan “nyata” dan kehilangan “digital”.

    Ada dimensi lain yang bahkan lebih rumit: bagaimana jika griefbot membuat pernyataan yang salah? Bagaimana jika AI “mengingat” seseorang secara tidak akurat mungkin lebih baik, lebih bijak, atau lebih pemaaf daripada kenyataannya? Apakah ini membantu proses duka, atau justru menciptakan kesenjangan kognitif antara almarhum yang “nyata” dan almarhum yang “ideal-digital”? Inilah yang oleh Lemma (2024) dalam International Journal of Psycho-Analysis disebut sebagai masalah “duka dan melankolia di era griefbot”, sebuah perpanjangan dari konsep Freudian yang kini berhadapan dengan batas-batas teknologi.

    Konteks Indonesia: Ketika Ritual Adat Bertemu Algoritma

    Diskusi tentang griefbot di Indonesia menjadi jauh lebih kompleks karena dimensi budaya dan spiritual yang tak bisa diabaikan. Indonesia adalah negara yang kaya tradisi dalam merawat hubungan dengan leluhur, dari upacara Rambu Solo di Toraja yang bisa berlangsung berhari-hari, tradisi nyekar di Jawa, hingga berbagai ritual komunal yang menjaga ikatan antara yang hidup dan yang telah pergi. Dalam banyak tradisi ini, “continuing bonds” bukan konsep baru , ia sudah ada dalam tatanan sosial dan spiritual sejak berabad-abad.

    Namun ada perbedaan yang krusial dan mendasar: ritual-ritual tersebut dilakukan dalam konteks komunitas, diatur oleh nilai-nilai kolektif, dan memiliki batas-batas yang jelas. Griefbot, sebaliknya, bersifat individual, privat, tidak terstruktur, dan tanpa batas waktu. Seseorang dapat berinteraksi dengan simulasi ayahnya setiap jam, kapan saja, tanpa pengawasan, tanpa konteks komunal, dan tanpa “izin” dari kode etik sosial apapun.

    Bagi psikolog klinis Indonesia, ini menuntut pengembangan kompetensi budaya yang baru: kemampuan untuk menilai apakah penggunaan griefbot pada klien tertentu bersifat adaptif (selaras dengan sistem kepercayaan dan nilai budaya) atau maladaptif (memperparah duka patologis, memperpanjang fase penyangkalan, atau menggantikan ritual komunal yang sebenarnya lebih terapeutik). Ini bukan kompetensi yang diajarkan di kurikulum psikologi klinis Indonesia hari ini.

    Kekosongan yang Harus Diisi: Tanggung Jawab Profesi

    Yang & Khanna (2025) dalam American Psychologist mencatat dengan tegas bahwa “penelitian psikologis dan praktik klinis telah memberikan perhatian yang sangat terbatas terhadap kemajuan ini, sehingga menciptakan kesenjangan dalam dukungan dan integrasi.” Ini adalah sebuah pengakuan yang jujur dan juga sebuah alarm.

    Ada minimal empat kekosongan besar yang perlu segera diisi oleh komunitas psikologi klinis, baik global maupun Indonesia:

    1. Kekosongan Penelitian Longitudinal. Tidak ada satu pun studi jangka panjang yang mengikuti individu yang menggunakan griefbot selama lebih dari satu tahun. Kita belum tahu apakah teknologi ini membantu penyembuhan atau mengakibatkan grief yang terkristalisasi dan tidak berkembang.
    2. Kekosongan Panduan Etik Klinis. Belum ada panduan dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), American Psychological Association (APA), atau badan profesional manapun tentang bagaimana psikolog harus merespons ketika klien melaporkan penggunaan griefbot secara teratur.
    3. Kekosongan Alat Asesmen. Tidak ada instrumen asesmen yang divalidasi untuk mengukur apakah penggunaan griefbot pada seorang klien tertentu bersifat terapeutik atau kontraindikasi.
    4. Kekosongan Regulasi. Ketika platform griefbot tutup, seperti yang terjadi pada StoryFile pada 2024 (Evans, 2025) ribuan pengguna kehilangan akses mendadak ke “almarhum digital” mereka. Tidak ada mekanisme hukum atau klinis yang siap merespons jenis krisis kehilangan baru ini.
    Menuju Integrasi yang Bertanggung Jawab

    Artikel opini ini tidak berargumen bahwa griefbot harus dilarang atau ditolak secara keseluruhan. Posisi semacam itu naif dan juga tidak berguna teknologi ini sudah ada dan akan terus berkembang. Yang diargumentasikan di sini adalah bahwa psikologi klinis tidak bisa lagi berpura-pura bahwa fenomena ini tidak ada atau tidak relevan.

    Schiller (2025) menawarkan kerangka yang menarik: griefbot, dalam konteks yang tepat dan dengan pengawasan klinis yang memadai, berpotensi menjadi tahap akhir dari serangkaian intervensi terapeutik yang terstruktur, bukan sebagai pengganti terapi, melainkan sebagai alat bantu dalam kerangka terapi yang sudah mapan. Namun kata kuncinya adalah “konteks yang tepat” dan “pengawasan klinis yang memadai”, dua hal yang saat ini tidak tersedia bagi mayoritas pengguna griefbot.

    Kajian dari Frontiers in Psychology (Castelnuovo et al., 2026) yang baru-baru ini diterbitkan menekankan perlunya integrasi antara data biopsikologis dan intervensi digital dalam psikologi klinis masa depan. Griefbot seharusnya menjadi bagian dari ekosistem ini, tetapi sebagai subjek penelitian yang serius, bukan sebagai produk konsumen yang dibiarkan beredar tanpa landasan klinis.

    Penutup: Duka Adalah Manusiawi, Siapa yang Menjaganya?

    Pada 5 Mei 2022, seorang food blogger Tiongkok bernama Yishiji yang memiliki lebih dari 700.000 pengikut di platform Bilibili mengunggah sebuah video perpisahan. Tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Lebih dari tiga tahun kemudian, videonya masih menjadi ruang duka digital yang terus hidup dan terus dikunjungi (Ai et al., 2025). Jutaan manusia, tanpa panduan klinis apapun, sedang mengelola duka mereka di ruang-ruang digital ini.

    Griefbot bukan ancaman dari luar yang datang menyerbu. Ia lahir dari kebutuhan manusiawi yang paling tua dan paling dalam. Keinginan untuk tidak melepaskan orang yang kita cintai. Psikologi klinis tidak dipanggil untuk menghakimi keinginan itu. Ia dipanggil untuk hadir, memberi panduan, dan memastikan bahwa dalam keinginan itu, manusia tetap bergerak ke arah kehidupan, bukan terjebak dalam simulasi yang tak berujung dari masa lalu.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/2026

    Tidak Terlambat, Hanya Menempuh Jalan yang Berbeda

    06/16/2026

    Tumbuh dengan Cara Cinta yang Berbeda

    06/15/2026

    Comments are closed.

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,197

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,750

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,062

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,237
    Don't Miss
    Opini

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    By admin@kopelmanews.com06/16/202616

    Aceh, Kopelmanews.com – Bayangkan Anda baru saja kehilangan ibu. Setelah berbulan-bulan tenggelam dalam duka, seseorang…

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/2026

    Tidak Terlambat, Hanya Menempuh Jalan yang Berbeda

    06/16/2026

    DEMA FDK UIN Ar-Raniry Rumuskan Program Strategis 2026–2027, Perkuat Solidaritas dan Kepemimpinan Mahasiswa

    06/15/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Griefbot, Ilusi Keabadian Digital, dan Krisis Duka dalam Psikologi Klinis Abad ke-21

    06/16/2026

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/2026

    Tidak Terlambat, Hanya Menempuh Jalan yang Berbeda

    06/16/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,197

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,750

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,062
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.