Close Menu
    What's Hot

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Gubernur BI Perry Warjiyo Mengundurkan Diri, Pasar Soroti Dampaknya

    07/27/2026

    3 Brigjen Pol Dapat Penugasan Baru ke Itwasum Polri pada Mutasi Juni 2026

    07/24/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Rabu, Agustus 12
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Program Makan Bergizi Gratis: Apakah Itu Problematika Darurat di Indonesia?
    Opini

    Program Makan Bergizi Gratis: Apakah Itu Problematika Darurat di Indonesia?

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com01/10/2025Updated:01/10/2025Tidak ada komentar222 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Poto : Doni Apriliandi, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar- Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Program makan siang gratis yang kemudian diubah menjadi makan bergizi gratis merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pada masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu, hal ini menjadi janji-janji yang terus dikumandangkan selalu. Pasalnya, menurut Presiden Prabowo Subianto program ini menjadi solusi penanganan anak-anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi dan membantu anak-anak yang tidak sempat sarapan, ucap  Prabowo Subianto.

    Pada senin, 6 Januari 2025. Program makan bergizi gratis baru bisa terealisasikan hanya beberapa daerah saja. Entah kapan seluruh sekolah di Indonesia bisa rasakan sesuai dengan janji Presiden Prabowo Subianto. Tak salah juga jika program makan siang gratis diadakan supaya anak-anak sekolah tidak repot bawa bekal. Yaa, mudah-mudahan program ini berjalan sampai seterus bukan hanya sebagai gimmick semata untuk menuntaskan janji kampanye.

    Pastinya program ini menuai banyak kritikan karena menyasar hampir 83 juta anak sekolah, dan memakan dana setidaknya lebih Rp. 100 triliun pada tahun pertama. Program ini dikhawatirkan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sumber dana pada program ini juga menimbulkan polemik hangat karena sebagian menggunakan dana dari Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS).

    Lalu, apakah selama ini anak-anak Indonesia mengalami gizi buruk atau stunting?. Berdasarkan data yang pasti dari Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN, yang dimana stunting di Indonesia cenderung turun dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% pada tahun 2022.

    Penanganan stunting seharusnya dilaksanakan pada anak usia sebelum 5 tahun. Perbaikan kualitas gizi juga dari awal kehidupan 1.000 hari pertama hingga 2 tahun. Itu artinya, program Prabowo dan Gibran terlambat untuk menangani prevalensi stunting.

    Jika dilihat dari sisi lain, apakah rakyat Indonesia kelaparan?. Sampai-sampai program makan bergizi gratis menjadi unggulana. Kalau kita dilihat dari data Statistika tahun 2018-2023 jawabannya tentu saja tidak. Masyarakat Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sesuai dengan pendapatan mereka yang tak banyak. Jika dilihat dari data tersebut, hal ini menurut saya bukan suatu yang darurat di Indonesia.

    Dibalik itu semua, jangan lupakan isu kesengjangan sosial di Indonesia masih menjadi problematika sejak dahulu yang kini belum terselesaikan. Kesengjangan sosial seperti pembanguan daerah tidak merata, sistem politik yang tidak adil dan korupsi tinggi, diskriminasi perempuan dan anak masih sering terjadi, inflastruktur belum memadai, pelayanan kesehatan yang belum mempuni, lapangan pekerjaan terbatas, pendidikan belum stabil dan masing banyak lagi.

    Itu seharusnya menjadi yang darurat di negara kita, bukan makan bergizi gratis menjadi program unggulan. Ada beberapa daerah bahkan, menolak untuk mengimplementasikan program makan siang gratis di daerahnya karena tidak perlu dilakukan. Mereka berpendapat daripada memberikan makan siang gratis sampai targetnya ibu hamil. Lebih baik pemerintah memperbaiki kualitas, pendidikan di Indonesia yang belum merata dan baik.

    Dengan dana yang begitu fantasis besar. Hal ini bisa menjadi lahan basah terjadinya korupsi, mengingat negara ini rawan terjadi korupsi. Yaa bisa kita lihat sekarang, bagaimana penyaluran makan bergisi gratis ke sekolah-sekolah. Banyak problematika terjadi seperti lauk yang bauk busuk di NTT dan lauk yang belum merata di Palembang. Ini seharusnya bisa dipertimbangkan lebih lanjut untuk dilangsungkan hingga 5 tahun kedepan.

    Alangkah baiknya program makan bergizi gratis dialihkan untuk menambah lapangan kerja, meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur. Ini dampaknya lebih berasa secara menyeluruh dibandingkan dengan program makan bergizi gratis.

    Terutama pada insfrastruktur yang belum memadai. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang tertinggal dan terluar. Mudah-mudahan saja pemerintah bisa mengambil sikap tegas mengatasi problematika di negara kita. Bukan hanya terfokus pada makan bergizi gratis saja.

    Fakultas Syariah dan Hukum Mahasiswa Oleh Doni Apriliandi UIN Ar- Raniry Banda Aceh
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Takut Ketinggalan Membuat Kita Kehilangan Diri Sendiri

    07/17/2026

    Ketika Sumang Mulai Ditinggalkan: Krisis Moral di Tanah Gayo

    07/06/2026

    Filsafat Kebudayaan: Menjaga Identitas dan Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi

    07/06/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,004

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,214

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,801
    Don't Miss
    Nasional

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    By admin@kopelmanews.com08/06/202675

    Aceh, Kopelmanews.com – Prof Dr Mujiburrahman MAg kembali dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh…

    Permainan Mencari Mata Hewan, Melatih Atensi Visual

    08/03/2026

    Silaturahmi Remaja Masjid se-Kecamatan Gunung Malela Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Generasi Muda

    08/02/2026

    Perkuat Relevansi Pendidikan Vokasional, FKIP UNIMAL, FT UNIMED, dan PNL Gelar FGD Penyelarasan Kurikulum Serumpun

    07/31/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Mujiburrahman Kembali Dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry Periode Kedua 2026–2030

    08/06/2026

    Permainan Mencari Mata Hewan, Melatih Atensi Visual

    08/03/2026

    Silaturahmi Remaja Masjid se-Kecamatan Gunung Malela Perkuat Ukhuwah dan Sinergi Generasi Muda

    08/02/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202621,004

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,767

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,214
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.