Close Menu
    What's Hot

    PT. Pupuk Iskandar Muda Sambut Mahasiswa Magang Insinyur: Langkah Strategis Cetak Profesional Muda Siap Kerja

    06/04/2026

    Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara Tegaskan Dukungan Penuh terhadap Inovasi DANESTA

    06/03/2026

    Dinas Sosial Sumut Hadirkan DANESTA, Berdayakan Disabilitas Lewat Batik

    06/03/2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Juni 27
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Menghadapi Tantangan Belajar di Meja Ujian: Potret Perjuangan Siswa di TNCC
    Pendidikan

    Menghadapi Tantangan Belajar di Meja Ujian: Potret Perjuangan Siswa di TNCC

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com12/30/2025Tidak ada komentar34 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Penulis : Maulida Sari Rizki, Mahasiswa Prodi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Suasana ujian sekolah biasanya lekat dengan gambaran barisan meja yang rapi dan keheningan yang mencekam. Namun, standar tersebut terasa berbeda ketika kita melangkah masuk ke The Nanny Children Center (TNCC). Di sekolah yang mengusung konsep inklusi ini, masa ujian bukan sekadar periode evaluasi akademik, melainkan sebuah fragmen kehidupan yang memperlihatkan dinamika mental yang luar biasa unik antara siswa dan pendidiknya.

    Kehadiran mahasiswa Psikologi untuk melakukan observasi di TNCC bertepatan dengan momen ujian, sebuah waktu yang sangat sensitif bagi setiap pelajar. Di sini, ujian tidak dimulai dengan bunyi bel yang menuntut ketertiban mutlak, melainkan dimulai dengan upaya para pendidik untuk menciptakan rasa aman bagi siswa. Pengamatan awal menunjukkan bahwa persiapan mental siswa menjadi fokus utama sebelum lembar soal dibagikan ke meja mereka masing-masing.

    Fenomena paling mencolok yang tertangkap dalam pengamatan ini adalah resistensi atau penolakan siswa terhadap proses ujian itu sendiri. Ditemukan beberapa siswa yang secara terang-terangan menunjukkan keengganan untuk menyentuh kertas ujian yang telah disediakan. Beberapa di antaranya memilih untuk memalingkan wajah, terdiam seribu bahasa, atau bahkan menjauhkan kursi dari meja ujian sebagai bentuk protes tanpa suara terhadap situasi yang sedang dihadapi.

    Pemandangan ini menjadi kontras tajam dengan sekolah formal pada umumnya, di mana ketakutan akan nilai buruk biasanya memaksa siswa untuk patuh pada sistem. Di TNCC, kita melihat sebuah realitas di mana kejujuran emosional siswa lebih tampak ke permukaan. Penolakan tersebut bukanlah sebuah bentuk kenakalan, melainkan ekspresi dari kesulitan yang sedang mereka alami dalam menghadapi tekanan formalitas ujian yang berbeda dari kegiatan belajar harian.

    Melalui kacamata psikologi, keengganan untuk mengikuti ujian ini seringkali berakar pada kecemasan terhadap perubahan rutinitas (disrupsi rutin). Bagi siswa dengan kebutuhan khusus, ujian menciptakan lingkungan yang tidak biasa—ada aturan yang lebih ketat dan ekspektasi yang meningkat secara mendadak. Kondisi ini dapat memicu beban sensorik dan kognitif yang besar, sehingga menarik diri atau “mogok” menjadi mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) untuk melindungi diri dari rasa frustrasi.

    Lebih jauh lagi, ketidakmampuan siswa untuk menyuarakan rasa takut atau kebingungan terhadap instruksi soal yang abstrak membuat mereka mengekspresikannya melalui perilaku non-verbal. Mereka tidak “malas”, melainkan sedang berjuang mengelola energi mental yang terkuras habis hanya untuk memahami situasi ujian. Memahami bahasa di balik penolakan ini adalah kunci penting bagi siapapun yang ingin mendalami dunia pendidikan inklusi.

    Menariknya, suasana di kelas tetap terjaga kondusif meskipun ada siswa yang menunjukkan penolakan. Tidak ada suara keras dari guru yang menuntut kepatuhan, atau ancaman nilai yang membayangi. Para pendidik di TNCC menunjukkan pendekatan yang sangat sabar dengan menggunakan teknik coaxing atau bujukan lembut. Mereka berusaha melakukan validasi atas perasaan tidak nyaman yang sedang dirasakan anak sebelum perlahan mengarahkan mereka kembali pada tugasnya.

    Observasi ini membuktikan bahwa keberhasilan proses belajar-mengajar di lingkungan inklusif tidak diukur dari seberapa cepat soal diselesaikan, melainkan dari seberapa aman siswa merasa untuk tetap berada di dalam kelas. Guru berperan sebagai jembatan emosional, memastikan bahwa tantangan akademik tidak merusak stabilitas mental sang anak. Keberanian siswa untuk tetap duduk di kursi ujian, terlepas dari apakah kertasnya terisi penuh atau tidak, sudah dianggap sebagai sebuah kemenangan kecil.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Kader IMARSU, Muhammad Alfajri Marpaung Resmi Pimpin DEMA FTK UIN Ar-Raniry

    04/29/2026

    Mahasiswa UIN Ar-Raniry dan IAIN Takengon Berkolaborasi Bersihkan SD Negeri 9 Kebayakan Pasca Banjir

    12/29/2025

    Thrifting dalam Tiga Dimensi: Melihat Lebih Jauh dari Sekadar Larangan

    11/07/2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    Top Posts

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,257

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,546

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,795
    Don't Miss
    Opini

    Perjuangan Masyarakat Menyiapkan Hidangan Kenduri Jeurat di Nagan Raya

    By admin@kopelmanews.com06/27/202624

    Aceh, Kopelmanews.com – Kenduri jeurat merupakan tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang. Tradisi…

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    06/27/2026

    Hubungan Tanpa Status: Antara Harapan, Kenyamanan dan Ketidakpastian

    06/26/2026

    Phubbing dan Krisis Koneksi Nyata, Saat Gawai Mengalahkan Kehadiran Manusia

    06/26/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Perjuangan Masyarakat Menyiapkan Hidangan Kenduri Jeurat di Nagan Raya

    06/27/2026

    Ketika Adat Bertransformasi: Menyederhanakan Peusijuk demi Menjaga Nilai Spiritual

    06/27/2026

    Hubungan Tanpa Status: Antara Harapan, Kenyamanan dan Ketidakpastian

    06/26/2026
    Most Popular

    Otak yang Merenung: Ketika Neurosains Membuktikan Kebenaran Tafakkur dalam Al-Qur’an

    06/16/202619,257

    Ilusi Self-Care Dewasa Muda: Ketika Bed Rotting Menjadi Tameng Pelarian Psikologis

    06/21/20264,546

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,212
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.