Aceh, kopelmanews.com – Sebagai seorang mahasiswa di jurusan psikologi yang tengah mempelajari psikologi anak berkebutuhan Khusus, Kunjungan saya ke SLB TNCC Banda Aceh menjadi pengalaman yang sangat berarti dalam proses belajar saya. Pada hari itu, kelas sedang mengadakan ulangan tertulis. Saya mendampingi seorang pria berusia 30 tahun yang memiliki Down Syndrome dalam mengerjakan soal-soal. Banda Aceh (26/12/2025)
Tugas saya adalah membacakan setiap pertanyaan dengan jelas dan perlahan, lalu memberi waktu bagi dia untuk memahami pertanyaannya dan memilih jawaban yang dirasa paling tepat. Selama proses tersebut, dia menunjukkan kemampuan fokus yang luar biasa, yang terlihat dari sikapnya yang tenang, konsentrasi, dan ketekunan dalam menyelesaikan setiap langkah soal.
Pengalaman ini memberi saya wawasan baru bahwa kemampuan konsentrasi dan partisipasi dalam belajar dapat berkembang dengan baik jika lingkungan belajar sesuai dengan kebutuhan individu. Pendekatan yang bersahaja, tidak terburu-buru, serta komunikasi yang mendukung terbukti efektif untuk membantu siswa berkebutuhan khusus agar tetap mandiri dalam membuat pilihan.
Hal ini menunjukkan bahwa keterbatasan yang ada tidak menghilangkan potensi untuk belajar dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan. Melalui pendampingan ini, saya menyadari bahwa proses evaluasi di Sekolah Luar Biasa tidak hanya tentang mencapai nilai akademis, tetapi lebih kepada usaha, proses, dan perkembangan kemampuan individu. Setiap jawaban yang diberikan memiliki arti sebagai bagian dari perjalanan belajar yang berkelanjutan.
Secara reflektif, pengalaman ini mengubah pandangan saya terhadap pendidikan inklusif. Saya memahami bahwa peran seorang pendampingi bukanlah untuk menggantikan siswa, melainkan untuk menjadi fasilitator yang membantu membuka peluang bagi potensi yang ada. Kunjungan ke SLB TNCC Banda Aceh memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran, empati, dan penghargaan terhadap keberagaman kemampuan dalam pendidikan.

