Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Maret 28
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Pendekatan Psikologi Islam dalam Mengelola Emosi: Integrasi Nilai Sabar, Syukur, dan Tawakal
    Opini

    Pendekatan Psikologi Islam dalam Mengelola Emosi: Integrasi Nilai Sabar, Syukur, dan Tawakal

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com06/23/2025Updated:06/23/2025Tidak ada komentar21 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Penulis | Alowi Rezeki, Mahasiswa Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, kopelmanews.com – Di tengah tekanan hidup modern yang terus meningkat tugas menumpuk, persaingan karier, krisis identitas, hingga eksistensi di media social banyak orang berjuang dalam diam. Emosi meledak, hati mudah tersinggung, dan kepala terasa penuh. Di tengah semua itu, muncul pertanyaan: bagaimana caranya tetap tenang? Apakah cukup dengan meditasi dan berpikir positif? Atau adakah pendekatan lain yang lebih bermakna?

    Dalam perspektif Islam, jawabannya bisa jadi terletak pada tiga kata sederhana namun kuat: sabar, syukur, dan tawakal.

    Apa hubungan sabar, syukur, dan tawakal dengan psikologi?

    Psikologi Islam memandang manusia sebagai makhluk yang tidak hanya punya akal dan tubuh, tetapi juga ruh. Artinya, emosi bukan cuma soal hormon atau trauma masa kecil, tapi juga soal hubungan dengan Tuhan. Konsep ini disebut sebagai keseimbangan antara nafs (jiwa), ruh (spiritualitas), dan akal.

    Sabar, misalnya, bukan hanya tentang “menahan marah,” tapi juga kemampuan untuk mengendalikan diri saat kecewa, gagal, atau kehilangan. Dalam bahasa psikologi, ini disebut self-regulation. Orang yang sabar cenderung tidak impulsif, lebih tenang dalam membuat keputusan, dan mampu menunda kepuasan demi hasil yang lebih baik.

    Syukur? Ini bukan cuma ucapan “alhamdulillah”. Rasa syukur yang dalam bisa menurunkan kecemasan, mengurangi perasaan iri, dan meningkatkan emosi positif. Psikologi Barat bahkan sudah mengadopsi praktik ini lewat gratitude journaling. Ternyata, bersyukur setiap hari bisa menurunkan stres dan meningkatkan kepuasan hidup.

    Sedangkan tawakal mengajarkan kita untuk berusaha semaksimal mungkin, lalu pasrahkan hasilnya kepada Allah. Di tengah dunia yang serba cepat dan tak pasti, tawakal memberi ketenangan karena kita tahu: kita sudah berusaha, sisanya bukan kuasa kita. Ini sejalan dengan konsep coping spiritual dalam psikologi: mekanisme bertahan yang bersumber dari keimanan.

    Emosi bisa dilatih, hati bisa dikuatkan

    Tiga nilai ini sabar, syukur, dan tawakal adalah bentuk latihan mental dan spiritual. Bukan instan, tapi bisa dibiasakan. Misalnya, dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, dan menjaga pergaulan yang sehat. Aktivitas-aktivitas ini secara ilmiah terbukti menenangkan sistem saraf dan meningkatkan kesejahteraan mental.

    Menariknya, banyak pendekatan psikologi modern seperti mindfulness dan cognitive behavioral therapy (CBT) yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Bedanya, Islam memberi landasan spiritual yang lebih dalam bukan sekadar “tenang”, tapi juga “bermakna”.

    Kesimpulan: tenang itu bisa dilatih, asal tahu caranya

    Di zaman yang serba cepat dan penuh tekanan ini, menjaga emosi tetap stabil bukan hal mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Islam telah menyediakan tiga kunci utama: sabar untuk menahan dan mengendalikan, syukur untuk melihat sisi terang, dan tawakal untuk melepaskan hal yang di luar kendali.

    Kita memang tak bisa menghindari stres, tapi kita bisa memilih bagaimana cara meresponsnya. Dan dalam memilih itu, mungkin sudah saatnya kita kembali kepada nilai-nilai yang sejak awal telah diajarkan: nilai yang bukan hanya menenangkan hati, tapi juga mendewasakan jiwa.

    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    03/25/2026

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,182

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,051

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,212
    Don't Miss
    Opini

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    By admin@kopelmanews.com03/25/202633

    Aceh, kopelmanews.com – Bayangkan sebuah dunia di mana anak-cucu kita hanya bisa melihat gajah melalui…

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    PD Prima DMI Kota Banda Aceh Resmi Terbentuk pada MUSDA I

    03/01/2026

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    03/25/2026

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    PD Prima DMI Kota Banda Aceh Resmi Terbentuk pada MUSDA I

    03/01/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,182

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,051
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.