Close Menu
    What's Hot

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026

    DMI Serahkan Beasiswa S2 Manajemen Masjid kepada Kader Terbaik PRIMA DMI

    02/05/2026

    DEMA FAH Sukses Menyelenggaraan PKFA ke-11: Zikir untuk Ketabahan, Ikhtiar untuk Keselamatan

    11/29/2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Sabtu, Maret 28
    Facebook X (Twitter) Instagram
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Demo
    • Home
    • Nasional
    • Internasional
    • Politik
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Hiburan
    • Teknologi
    • Otomotif
    • Redaksi
    kopelmanews.comkopelmanews.com
    Home » Program Makan Bergizi Gratis: Apakah Itu Problematika Darurat di Indonesia?
    Opini

    Program Makan Bergizi Gratis: Apakah Itu Problematika Darurat di Indonesia?

    admin@kopelmanews.comBy admin@kopelmanews.com01/10/2025Updated:01/10/2025Tidak ada komentar208 Views
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn WhatsApp Reddit Tumblr Email
    Poto : Doni Apriliandi, Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar- Raniry Banda Aceh
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Aceh, Kopelmanews.com – Program makan siang gratis yang kemudian diubah menjadi makan bergizi gratis merupakan salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pada masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) yang lalu, hal ini menjadi janji-janji yang terus dikumandangkan selalu. Pasalnya, menurut Presiden Prabowo Subianto program ini menjadi solusi penanganan anak-anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi dan membantu anak-anak yang tidak sempat sarapan, ucap  Prabowo Subianto.

    Pada senin, 6 Januari 2025. Program makan bergizi gratis baru bisa terealisasikan hanya beberapa daerah saja. Entah kapan seluruh sekolah di Indonesia bisa rasakan sesuai dengan janji Presiden Prabowo Subianto. Tak salah juga jika program makan siang gratis diadakan supaya anak-anak sekolah tidak repot bawa bekal. Yaa, mudah-mudahan program ini berjalan sampai seterus bukan hanya sebagai gimmick semata untuk menuntaskan janji kampanye.

    Pastinya program ini menuai banyak kritikan karena menyasar hampir 83 juta anak sekolah, dan memakan dana setidaknya lebih Rp. 100 triliun pada tahun pertama. Program ini dikhawatirkan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sumber dana pada program ini juga menimbulkan polemik hangat karena sebagian menggunakan dana dari Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS).

    Lalu, apakah selama ini anak-anak Indonesia mengalami gizi buruk atau stunting?. Berdasarkan data yang pasti dari Kementerian Kesehatan mengumumkan bahwa hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada Rapat Kerja Nasional BKKBN, yang dimana stunting di Indonesia cenderung turun dari 24,4% pada tahun 2021 menjadi 21,6% pada tahun 2022.

    Penanganan stunting seharusnya dilaksanakan pada anak usia sebelum 5 tahun. Perbaikan kualitas gizi juga dari awal kehidupan 1.000 hari pertama hingga 2 tahun. Itu artinya, program Prabowo dan Gibran terlambat untuk menangani prevalensi stunting.

    Jika dilihat dari sisi lain, apakah rakyat Indonesia kelaparan?. Sampai-sampai program makan bergizi gratis menjadi unggulana. Kalau kita dilihat dari data Statistika tahun 2018-2023 jawabannya tentu saja tidak. Masyarakat Indonesia masih mampu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sesuai dengan pendapatan mereka yang tak banyak. Jika dilihat dari data tersebut, hal ini menurut saya bukan suatu yang darurat di Indonesia.

    Dibalik itu semua, jangan lupakan isu kesengjangan sosial di Indonesia masih menjadi problematika sejak dahulu yang kini belum terselesaikan. Kesengjangan sosial seperti pembanguan daerah tidak merata, sistem politik yang tidak adil dan korupsi tinggi, diskriminasi perempuan dan anak masih sering terjadi, inflastruktur belum memadai, pelayanan kesehatan yang belum mempuni, lapangan pekerjaan terbatas, pendidikan belum stabil dan masing banyak lagi.

    Itu seharusnya menjadi yang darurat di negara kita, bukan makan bergizi gratis menjadi program unggulan. Ada beberapa daerah bahkan, menolak untuk mengimplementasikan program makan siang gratis di daerahnya karena tidak perlu dilakukan. Mereka berpendapat daripada memberikan makan siang gratis sampai targetnya ibu hamil. Lebih baik pemerintah memperbaiki kualitas, pendidikan di Indonesia yang belum merata dan baik.

    Dengan dana yang begitu fantasis besar. Hal ini bisa menjadi lahan basah terjadinya korupsi, mengingat negara ini rawan terjadi korupsi. Yaa bisa kita lihat sekarang, bagaimana penyaluran makan bergisi gratis ke sekolah-sekolah. Banyak problematika terjadi seperti lauk yang bauk busuk di NTT dan lauk yang belum merata di Palembang. Ini seharusnya bisa dipertimbangkan lebih lanjut untuk dilangsungkan hingga 5 tahun kedepan.

    Alangkah baiknya program makan bergizi gratis dialihkan untuk menambah lapangan kerja, meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat, hingga pembangunan infrastruktur. Ini dampaknya lebih berasa secara menyeluruh dibandingkan dengan program makan bergizi gratis.

    Terutama pada insfrastruktur yang belum memadai. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang tertinggal dan terluar. Mudah-mudahan saja pemerintah bisa mengambil sikap tegas mengatasi problematika di negara kita. Bukan hanya terfokus pada makan bergizi gratis saja.

    Fakultas Syariah dan Hukum Mahasiswa Oleh Doni Apriliandi UIN Ar- Raniry Banda Aceh
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Telegram Email
    admin@kopelmanews.com
    • Website

    Related Posts

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    03/25/2026

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    Melihat Anak Berkebutuhan Khusus dari Perspektif Kemanusiaan

    01/16/2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Top Posts

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,182

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,050

    Kenapa Gen Z Gampang Overthinking?

    06/12/20251,212
    Don't Miss
    Opini

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    By admin@kopelmanews.com03/25/202633

    Aceh, kopelmanews.com – Bayangkan sebuah dunia di mana anak-cucu kita hanya bisa melihat gajah melalui…

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    PD Prima DMI Kota Banda Aceh Resmi Terbentuk pada MUSDA I

    03/01/2026

    Wakil Ketua IMARSU Reyhan Marbun Hadiri Silatnas Nasional 2026 di Jakarta, Terima Beasiswa S2 dari Jusuf Kalla

    02/07/2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo
    • LinkedIn
    • TikTok
    • Threads

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    About Us
    About Us

    KOPELMANEWS
    Jl. Teuku Nek, Lamtheun, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: admin@kopelmanews.com
    Contact: +62 851 1720 2024

    Facebook X (Twitter) YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Menanti Fajar bagi Gajah Sumatera: Antara Ancaman Kepunahan dan Janji Regulasi

    03/25/2026

    Pemerintah Pilih Kasih? Pemerintah Pusat tidak Boleh Diam!

    03/05/2026

    PD Prima DMI Kota Banda Aceh Resmi Terbentuk pada MUSDA I

    03/01/2026
    Most Popular

    Dana Otsus Aceh: Antara Harapan dan Realita Pembangunan

    07/27/20253,182

    Ketenangan Jiwa dalam Zikir dan Doa

    05/09/20252,727

    Belajar Tanpa Suara: Saatnya Bahasa Isyarat Masuk ke Kurikulum Nasional

    12/25/20252,050
    Stats
    © 2026 KN Team
    • Home
    • Buy Now

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.