Aceh, Kopelmanews.com – Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan kunjungan edukatif ke Sekolah Luar Biasa (SLB) The Nanny Children Center (TNCC). Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan mendukung pendidikan inklusif sekaligus memperkuat kerja sama dengan lembaga pendidikan khusus di Aceh. Banda Aceh (29/12/2025)
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Hari Santoso, S.Psi., M.Ed., selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Rombongan dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi disambut hangat oleh Kepala SLB TNCC Banda Aceh, DM. Ria Hidayati, S.Psi., M.Ed., bersama para guru dan staf sekolah dalam suasana yang akrab dan kekeluargaan.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama kunjungan ini adalah ketika penulis berinteraksi langsung dengan seorang siswa bernama Tami. Saat pertama kali memasuki kelas, Tami tampak duduk dengan ekspresi waspada sekaligus penasaran, seolah masih menimbang kehadiran orang-orang baru di sekitarnya. Ia memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Penulis pun memilih pendekatan yang perlahanmelalui senyuman dan sapaan sederhana tanpa memaksakan komunikasi.
Dalam proses pembelajaran, terlihat bagaimana Tami menerima arahan dari guru melalui pendekatan yang sabar dan terstruktur. Ia tidak selalu langsung merespons, namun ketika diberikan waktu dan instruksi yang jelas, Tami mampu mengikuti kegiatan dengan caranya sendiri. Pengalaman ini menyadarkan penulis bahwa setiap anak berkebutuhan khusus memiliki ritme belajar yang berbeda, sehingga kesabaran menjadi kunci utama dalam pendampingan.
Penulis juga berkesempatan membantu Tami mengerjakan tugas sederhana. Pada awalnya, ia tampak ragu dan kurang percaya diri. Namun, setelah mendapatkan dukungan verbal berupa pujian dan dorongan positif, Tami perlahan menjadi lebih fokus dan berani mencoba. Momen ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya empati dan komunikasi yang tepat dalam membangun rasa aman bagi anak berkebutuhan khusus.
Selain Tami, penulis juga berinteraksi dengan siswa lain di kelas. Setiap anak menunjukkan karakteristik yang unik—ada yang sangat aktif, ada pula yang lebih pendiam dan mengekspresikan diri melalui bahasa tubuh. Pengalaman ini mempertegas bahwa teori yang dipelajari di bangku kuliah benar-benar hadir dalam praktik nyata, bukan sekadar konsep tertulis dalam buku.
Salah satu pelajaran penting dari kunjungan ini adalah memahami anak sebagai individu yang memiliki keunikan. Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi, emosi, dan kebutuhan untuk dihargai sebagaimana anak pada umumnya. Mereka hanya memerlukan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Selama kegiatan berlangsung, penulis mengamati bagaimana guru menerapkan teknik komunikasi yang lembut dan tidak menghakimi. Pendekatan ini berdampak positif terhadap perilaku Tami yang tampak lebih tenang dan kooperatif. Hal tersebut menegaskan bahwa lingkungan belajar yang suportif sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak berkebutuhan khusus.
Kunjungan ini juga meningkatkan kepekaan penulis terhadap aspek-aspek nonverbal dalam proses pembelajaran, seperti intonasi suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh. Pendekatan emosional yang hangat terbukti sering kali lebih bermakna dibandingkan sekadar instruksi verbal. Penulis juga belajar untuk tidak terburu-buru menilai kemampuan anak dari satu perilaku saja, karena fluktuasi emosi dan konsentrasi merupakan hal yang wajar.
Melihat bagaimana siswa tunarungu mengekspresikan diri melalui gestur, mimik wajah, dan kontak mata semakin membuka kesadaran bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada kata-kata. Ada rasa haru dan kagum ketika menyadari betapa besar usaha mereka untuk tetap terhubung dengan orang lain.
Peran guru di SLB TNCC pun tampak sangat sentral. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan pendukung perkembangan psikologis siswa. Kesabaran, ketelatenan, serta perhatian yang diberikan menciptakan lingkungan belajar yang hangat, nyaman, dan inklusif.
Menjelang akhir kegiatan, suasana kelas terasa semakin cair. Tami tampak lebih nyaman berinteraksi, beberapa kali tersenyum, dan menunjukkan ketertarikan untuk tetap terlibat. Momen ini memberikan kesan mendalam bahwa kehadiran yang penuh empati mampu membawa dampak positif bagi anak.

