Aceh, Kopelmanews.com – Bagi anak tunanetra, uang bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga sumber kebingungan dan ketergantungan. Mata uang yang digunakan sehari-hari dirancang dengan mengandalkan penglihatan, seperti angka nominal, warna, dan gambar. Anak yang tidak dapat melihat tentu tidak mampu mengenali perbedaan tersebut. Ketika memegang uang, mereka tidak mengetahui apakah yang dipegang bernilai kecil atau besar, sehingga sering kali harus bertanya atau mempercayakan orang lain saat bertransaksi. Banda Aceh (27/12/2025)
Dalam perspektif psikologi anak berkebutuhan khusus, kondisi ini memiliki dampak terhadap perkembangan emosi dan kepercayaan diri anak. Ketergantungan yang terus-menerus dapat membuat anak merasa tidak mampu dan ragu terhadap dirinya sendiri. Anak bisa merasa takut melakukan kesalahan, khawatir ditipu, atau memilih menghindari situasi yang melibatkan transaksi uang. Padahal, kemampuan mengelola uang sederhana merupakan bagian penting dari pembelajaran kemandirian dan keterampilan hidup.
Anak tunanetra sebenarnya memiliki potensi besar dalam mengenali benda melalui indra peraba. Kepekaan sentuhan yang mereka miliki dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali mata uang apabila sistemnya mendukung. Salah satu bentuk dukungan yang dapat diberikan adalah adanya penanda tactile pada uang kertas, seperti titik-titik timbul atau tekstur khusus yang berbeda pada setiap nominal. Dengan adanya penanda tersebut, anak dapat membedakan nilai uang hanya melalui sentuhan.
Penggunaan mata uang dengan penanda tactile tidak hanya membantu anak dalam aspek teknis bertransaksi, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang positif. Anak dapat belajar mengenali nominal uang secara mandiri, membuat keputusan sederhana, dan berinteraksi dengan lingkungan tanpa rasa takut berlebihan. Pengalaman berhasil melakukan transaksi sendiri akan meningkatkan rasa percaya diri dan membentuk konsep diri yang lebih positif.
Dalam pembelajaran Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus, penting untuk memahami bahwa keterbatasan bukan terletak pada anak, melainkan pada sistem yang belum sepenuhnya ramah. Ketika mata uang dirancang tanpa mempertimbangkan kebutuhan anak tunanetra, maka ketergantungan menjadi hal yang sulit dihindari. Sebaliknya, ketika lingkungan dan fasilitas disesuaikan, anak memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang secara optimal.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa empati tidak selalu hadir dalam bentuk perhatian besar, tetapi juga melalui detail kecil yang sering diabaikan. Penyesuaian pada mata uang dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif. Dengan sistem yang mendukung, anak tunanetra dapat belajar mandiri, merasa aman, dan dihargai sebagai individu yang memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang.

