Aceh, Kopelmanews.com – Kesadaran orang tua terhadap kondisi anak merupakan salah satu faktor paling penting dalam melindungi tumbuh kembang dan kesehatan mental anak, khususnya anak berkebutuhan khusus. Namun, dalam realitas sosial, masih banyak orang tua yang belum sepenuhnya memahami atau menerima kondisi anaknya. Hal ini bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kasih sayang, melainkan oleh keterbatasan pengetahuan, ketakutan terhadap stigma, serta harapan agar anak dapat berkembang “seperti anak pada umumnya”. Banda Aceh (29/12/2025)
Pengalaman mengunjungi sebuah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Banda Aceh membuka pemahaman baru mengenai pentingnya kesadaran orang tua terhadap kondisi anak. Dalam kunjungan tersebut, interaksi langsung dengan anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan bahwa banyak dari mereka justru memiliki kepribadian yang ceria, ramah, dan penuh rasa ingin tahu.
Di kelas lima, terdapat kesempatan untuk mendampingi seorang anak yang selanjutnya disebut dengan inisial H. H merupakan anak dengan tunagrahita atau disabilitas intelektual. Ia dikenal sebagai anak yang murah senyum, ramah, dan kooperatif selama proses pembelajaran. Berdasarkan informasi yang diperoleh, H sebelumnya bersekolah di sekolah reguler hingga kelas lima SD. Namun, lingkungan sekolah tersebut belum mampu memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya. Akibatnya, H mengalami perundungan dari teman-teman sekelas dan akhirnya dipindahkan ke SLB.
H belum mampu membaca secara mandiri, tetapi telah dapat mengeja huruf dan mencontoh tulisan. Selama proses pendampingan, terlihat bagaimana H tetap berusaha mengikuti pembelajaran dengan caranya sendiri. Meskipun secara akademik tertinggal dibandingkan anak seusianya di sekolah reguler, H tetap menunjukkan sikap ceria dan antusias. Pengalaman ini memunculkan refleksi bahwa kesulitan utama yang dialami H bukan semata-mata berasal dari kondisinya, melainkan dari lingkungan yang belum siap memahami dan menyesuaikan diri dengan kebutuhannya.
Kasus H menunjukkan bahwa rendahnya kesadaran orang tua dan lingkungan dapat berdampak besar terhadap kesejahteraan psikologis anak. Ketika kondisi anak tidak dipahami sejak dini, anak berisiko ditempatkan pada lingkungan pendidikan yang tidak sesuai. Sekolah reguler tanpa sistem pendukung yang memadai dapat menjadi ruang yang penuh tekanan dan berpotensi menimbulkan pengalaman traumatis, seperti perundungan dan penolakan sosial, yang pada akhirnya memengaruhi harga diri anak.
Meningkatkan kesadaran orang tua bukan berarti membatasi potensi anak atau menyerah pada kondisi yang ada. Sebaliknya, kesadaran ini merupakan langkah awal untuk memastikan anak memperoleh lingkungan yang aman, metode pembelajaran yang sesuai, serta dukungan emosional yang memadai. Pendidikan khusus, termasuk SLB, seharusnya dipahami sebagai bentuk perlindungan dan penyesuaian terhadap kebutuhan anak, bukan sebagai kegagalan orang tua maupun anak.
Pengalaman di SLB menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak-anak lainnya. Mereka memiliki perasaan, keinginan untuk diterima, serta potensi untuk berkembang. Anak-anak tersebut hanya membutuhkan perhatian lebih, pendekatan pembelajaran yang tepat, dan empati dari lingkungan sekitarnya. Kesadaran orang tua menjadi kunci agar anak tidak tumbuh dengan luka psikologis akibat salah penempatan lingkungan pendidikan.
Pada akhirnya, anak-anak seperti H bukanlah anak yang gagal menyesuaikan diri, melainkan anak yang sempat terlambat dipahami. Dengan meningkatkan kesadaran orang tua terhadap kondisi anak, anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih aman, manusiawi, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal.

